Sungkeman adalah warisan budaya dari Jawa yang memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan dan kerendahan hati. Dalam bahasa Jawa, sungkem berarti sujud atau menyembah sebagai tanda bakti.
Tradisi ini biasa dilakukan oleh seseorang yang lebih muda kepada orang tua atau orang yang lebih tua, bukan hanya sebagai bentuk formalitas, tetapi sebagai wujud rasa hormat, permintaan maaf, dan kasih sayang yang tulus.
Di Indonesia, tradisi sungkeman paling umum dilakukan pada momen Hari Raya Idulfitri, tepat setelah salat Ied. Anak-anak akan menghampiri orang tua mereka, bersimpuh, menundukkan kepala, dan menyentuh tangan atau bahkan lutut orang tua sebagai simbol kerendahan hati dan penghormatan yang dalam. Proses ini biasanya disertai dengan ucapan permintaan maaf dan doa-doa yang penuh haru.
Dalam budaya Jawa, posisi tubuh saat sungkeman mencerminkan sikap batin. Semakin rendah posisi tubuh seseorang, semakin besar rasa hormat yang ditunjukkan. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen emosional antara anak dan orang tua, tetapi juga sarat akan pendidikan karakter. Anak-anak diajarkan sejak dini tentang pentingnya etika, tata krama, dan penghargaan terhadap keluarga.
Sungkeman bukanlah bentuk kekalahan, melainkan kemenangan atas ego. Ia mengajarkan nilai-nilai spiritual seperti keikhlasan, kesadaran diri, dan pentingnya menjalin hubungan antaranggota keluarga. Dalam satu gerakan sederhana—menunduk dan bersimpuh—tersimpan makna bahwa menjadi manusia seutuhnya adalah mereka yang tahu diri, tahu adab, dan tahu membalas budi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, sebagian orang mungkin menganggap sungkeman sebagai sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Sungkeman adalah pengingat bahwa nilai-nilai seperti hormat kepada orang tua, rendah hati, dan keikhlasan tak pernah usang oleh waktu.
Menjaga dan melestarikan tradisi ini berarti menjaga identitas serta memperkuat jalinan batin dalam keluarga. Sungkeman bukan hanya ritual tahunan saat Lebaran, tetapi juga cermin kebudayaan luhur yang sarat makna.
Di balik setiap pelukan dan air mata sungkeman, tersimpan kehangatan dan kekuatan cinta yang menyatukan keluarga. Karena itu, sudah sepatutnya kita terus menjaga dan mewariskan tradisi ini kepada generasi mendatang, agar nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup di tengah kemajuan zaman.





