Tradisi Nyadran di Dusun Sigelang Jadi Ruang Pembelajaran Sosial Mahasiswa KKN UMBY

Warga Dusun Sigelang, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, duduk bersama menikmati hidangan dalam tradisi Nyadran, Senin (2/2/2026). Prosesi makan bersama usai doa di kompleks makam leluhur ini menjadi simbol syukur, kebersamaan, dan pelestarian kearifan lokal yang turut diikuti Mahasiswa KKN PPM SIGELANG XLVIII Universitas Mercu Buana Yogyakarta. (doc. pribadi)
Warga Dusun Sigelang, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, duduk bersama menikmati hidangan dalam tradisi Nyadran, Senin (2/2/2026). Prosesi makan bersama usai doa di kompleks makam leluhur ini menjadi simbol syukur, kebersamaan, dan pelestarian kearifan lokal yang turut diikuti Mahasiswa KKN PPM SIGELANG XLVIII Universitas Mercu Buana Yogyakarta. (doc. pribadi)

Banyusidi, Krajan.id – Tradisi Nyadran masih menjadi denyut penting kehidupan sosial masyarakat Dusun Sigelang, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Dalam keterangan yang diberikan pada Senin (2/2/2026), tradisi Nyadran ini tidak hanya menjadi wujud penghormatan kepada leluhur, tetapi juga ruang pembelajaran sosial bagi Mahasiswa KKN PPM SIGELANG XLVIII Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).

Pelaksanaan Nyadran dipusatkan di kompleks makam leluhur Dusun Sigelang. Sejak pagi, warga dari berbagai kelompok usia berdatangan untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan kerja bakti membersihkan area makam. Warga bergotong royong mencabuti rumput liar, menyapu daun kering, serta merapikan lingkungan sekitar makam.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa KKN UMBY kelompok 21 turut terlibat mendampingi warga dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya pengenalan dan pemahaman terhadap kearifan lokal yang masih dijaga kuat oleh masyarakat desa.

“Melalui Nyadran, kami belajar secara langsung tentang nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat,” ujar Mahasiswa KKN PPM SIGELANG XLVIII UMBY dalam keterangan yang diberikan.

Setelah kegiatan bersih-bersih selesai, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Doa dipanjatkan untuk para leluhur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, sekaligus memohon keselamatan, kesehatan, dan keberkahan rezeki bagi seluruh warga menjelang bulan suci Ramadan.

Bagi mahasiswa KKN, momen doa bersama tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus sarana memahami relasi antara tradisi, agama, dan kehidupan sosial masyarakat desa. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan KKN sebagai wahana pembelajaran kontekstual di luar ruang kelas.

Ciri khas Nyadran di Dusun Sigelang tampak dari tradisi membawa makanan dari rumah masing-masing. Setiap keluarga menyiapkan hidangan sederhana, mulai dari nasi, lauk pauk, sayuran, hingga jajanan tradisional. Makanan tersebut kemudian dikumpulkan dan dinikmati bersama seusai doa.

Tidak terdapat sekat sosial dalam prosesi makan bersama. Warga duduk berbaur tanpa memandang latar belakang, saling berbagi makanan sebagai simbol kesetaraan dan kebersamaan. Mahasiswa KKN pun turut bergabung, berinteraksi langsung dengan warga dalam suasana kekeluargaan.

Bagi masyarakat Dusun Sigelang, tradisi makan bersama dalam Nyadran bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarana mempererat silaturahmi di tengah perubahan pola hidup modern. Tradisi ini menjadi momentum untuk saling menyapa dan memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan dusun.

Keberlanjutan tradisi Nyadran menunjukkan kuatnya kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Keterlibatan generasi muda, termasuk mahasiswa KKN, menjadi jembatan penting dalam menjaga nilai budaya agar tetap relevan dan dipahami lintas generasi.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *