Melikan, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 32 melaksanakan kegiatan penyuluhan dan praktik manajemen data ternak kambing dan domba berbasis recording di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan membantu peternak setempat membangun sistem pencatatan ternak yang lebih tertib dan terukur di kandang komunal.
Program bertajuk “Praktik dan Penyuluhan Manajemen Data Ternak Kambing dan Domba Berbasis Recording pada Kandang Komunal” tersebut digelar dalam dua tahap. Penyuluhan dilaksanakan pada Sabtu, (31/1/2026) di Griya Dhahar Banglipuran, sedangkan praktik lapangan berlangsung pada (1-3/2/2026) di Kandang Komunal Setyo Raharjo yang dikelola oleh BUMKAL (Badan Usaha Milik Kalurahan) Desa Melikan.
Kegiatan ini diikuti oleh anggota kelompok tani ternak serta pengurus kandang komunal yang selama ini mengelola puluhan ekor kambing dan domba milik warga. Program tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN dalam mendorong penerapan manajemen peternakan berbasis data di tingkat desa.
Kegiatan KKN ini berada di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Prof. Dr. Ir. Eka Handayanta, M.P., IPU., ASEAN Eng. Mahasiswa yang terlibat dalam program ini berasal dari berbagai program studi di Universitas Sebelas Maret, di antaranya Anly Al Hakem Rahmadhona, Arfi Khairul Rahman, Arfia Revalina Zildzian, Danang Hermawan, Dyah Puspita Chandra, Firzanah Madina Putri Yasma, Muthiah Adinda Viani, Naya Aretha Dewi, Rizki Rahmandani, dan Tri Astuti.
Ketua KKN UNS Kelompok 32, Anly Al Hakem Rahmadhona dari Program Studi PKO, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membantu peternak desa memahami pentingnya pencatatan data ternak secara sistematis sebagai bagian dari pengelolaan peternakan modern.
“Program ini kami rancang agar peternak di Desa Melikan dapat mulai menerapkan sistem pencatatan ternak secara sederhana namun terstruktur. Dengan adanya identitas ternak dan data yang tercatat, pengelolaan kesehatan, reproduksi, hingga penjualan ternak dapat dilakukan lebih tepat dan terukur,” ujarnya.
Menurutnya, banyak peternakan rakyat di pedesaan yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi belum didukung oleh sistem administrasi dan pencatatan yang baik.
Dalam kegiatan penyuluhan, mahasiswa KKN memberikan pemaparan mengenai konsep recording ternak, manfaat pencatatan data, serta berbagai jenis informasi yang perlu didokumentasikan oleh peternak. Data tersebut meliputi identitas ternak, jenis kelamin, umur, ras, riwayat kesehatan, hingga kepemilikan ternak.

Para peternak juga diperkenalkan dengan sistem kode identifikasi ternak yang dirancang sederhana namun unik untuk setiap individu. Kode tersebut dapat memuat informasi dasar seperti jenis ternak, jenis kelamin, lokasi kandang, dan nomor urut.
Selain itu, mahasiswa juga menjelaskan bagaimana sistem recording dapat membantu peternak dalam memantau kesehatan ternak, mengevaluasi pertumbuhan dan reproduksi, serta meningkatkan efisiensi pemberian pakan dan pengobatan.
Tahap berikutnya adalah sosialisasi penggunaan necktag, yaitu tanda pengenal yang dipasang di leher ternak. Necktag tersebut berfungsi seperti “KTP bagi ternak” karena memuat kode identitas unik yang memudahkan peternak mengenali setiap individu ternak secara cepat.

Setelah penyuluhan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung di Kandang Komunal Setyo Raharjo. Para peternak dilibatkan secara aktif dalam proses pemasangan necktag pada kambing dan domba yang ada di kandang.
Mahasiswa juga mendampingi peternak dalam praktik pengisian buku recording ternak, yang berisi data detail setiap hewan ternak. Informasi yang dicatat meliputi nama pemilik ternak, jenis kelamin, tanggal lahir atau perkiraan umur, ras, riwayat kesehatan, hingga catatan reproduksi.
Penanggung jawab program, Muthiah Adinda Viani dari Program Studi Peternakan, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi kandang komunal Desa Melikan yang menampung banyak ternak namun belum memiliki sistem identifikasi yang jelas.
“Kandang komunal di Desa Melikan ini cukup besar dengan jumlah ternak mencapai 122 ekor. Sayangnya, tidak ada sistem pencatatan yang tertib. Peternak hanya mengandalkan hafalan, akibatnya sulit melacak riwayat kesehatan, menentukan kapan seekor ternak harus dikawinkan atau dijual, bahkan potensi sengketa kepemilikan selalu mengintai,” ujar Muthiah.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penerapan sistem pencatatan yang sederhana namun konsisten.
“Padahal di era sekarang, peternakan modern menuntut akurasi data dan keterlacakan. Oleh karena itu, kami memperkenalkan necktag dan buku recording sederhana yang mudah diterapkan oleh peternak. Alhamdulillah, antusiasme peternak sangat tinggi dan mereka langsung mempraktikkannya di kandang,” ungkapnya.
Program ini juga melibatkan Naya Aretha Dewi dari Program Studi Peternakan sebagai penanggung jawab kegiatan bersama Muthiah Adinda Viani. Keduanya memimpin proses penyuluhan serta pendampingan teknis kepada para peternak selama praktik lapangan.
Salah satu pengelola kandang komunal, Subanjir, menyampaikan apresiasinya terhadap program yang dilaksanakan mahasiswa KKN UNS tersebut. Ia mengaku bahwa selama ini para peternak di Desa Melikan masih mengandalkan ingatan dalam mengelola ternak, terutama di kandang komunal yang menampung puluhan ekor hewan.
“Kami selama ini kalau mau jual kambing hanya kira-kira umurnya, kadang salah sebut juga karena ternaknya banyak. Kalau ada ternak lahir atau mati, ya hanya ingat-ingatan saja,” katanya.
Menurut Subanjir, kehadiran sistem identifikasi ternak melalui necktag dan pencatatan dalam buku recording memberikan kemudahan besar bagi para peternak.
“Dengan adanya necktag dan buku catatan ini, sekarang kami bisa tahu persis umur ternak, milik siapa, bahkan riwayat kesehatannya. Ini sangat membantu kami, apalagi di kandang komunal yang ternaknya banyak,” ujarnya.
Ia menilai program tersebut memberikan solusi nyata atas permasalahan yang selama ini dihadapi kelompok ternak di desa tersebut. Subanjir juga berharap sistem recording yang telah diperkenalkan oleh mahasiswa KKN dapat terus dilanjutkan oleh para peternak.
Lebih jauh, ia berharap sistem tersebut dapat menjadi contoh bagi kelompok ternak lain di wilayah Kecamatan Rongkop dalam meningkatkan kualitas pengelolaan peternakan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS berharap peternak Desa Melikan dapat mulai menerapkan sistem recording ternak secara konsisten dan berkelanjutan. Dengan adanya identitas ternak yang jelas, proses pemantauan kesehatan, program vaksinasi, pengobatan, hingga pengelolaan reproduksi dapat dilakukan dengan lebih tepat sasaran.
Selain itu, data yang terdokumentasi dengan baik juga dapat dimanfaatkan untuk memilih bibit ternak unggul berdasarkan catatan umur, ras, serta produktivitas yang lebih akurat.
Di sisi lain, sistem pencatatan ini juga diharapkan mampu menciptakan transparansi dalam pengelolaan kandang komunal. Kepemilikan ternak, biaya perawatan, hingga hasil penjualan dapat dicatat secara jelas sehingga meminimalkan potensi konflik antaranggota kelompok ternak.
Dengan langkah kecil berupa pencatatan data yang lebih rapi, mahasiswa KKN UNS menilai bahwa peternakan desa dapat berkembang menjadi lebih profesional, produktif, dan berdaya saing di masa mendatang.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





