Bonjonegoro, Krajan.id – Mahasiswa KKN 55 UNUGIRI melaksanakan kegiatan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan, bahaya pernikahan dini, serta pendampingan kesehatan bagi lansia pada Jumat, (15/8/2025) di Dusun Sekidang. Acara yang menggandeng perangkat dusun, kader posyandu, dan masyarakat setempat ini berjalan lancar serta mendapat sambutan hangat dari warga.
Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan mahasiswa KKN dan Kepala Dusun Sekidang. Setelah itu, sesi utama diisi dengan materi mengenai pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa menekankan bahwa pernikahan dini bukan hanya soal budaya, tetapi juga memiliki dampak serius terhadap kesehatan, psikologis, serta sosial ekonomi keluarga.
“Kami melihat ketiga isu ini saling berkaitan. Pendidikan yang baik bisa mencegah pernikahan dini, dan kesehatan lansia juga bagian dari membangun keluarga serta masyarakat yang lebih kuat. Jadi kami ingin pesan yang dibawa lebih menyeluruh,” ujar Koordinator KKN, Akhmad Faiz Riza Afthoni.
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam penyuluhan ini adalah tantangan mencegah praktik pernikahan dini. Akhmad Faiz Riza Afthoni, menuturkan bahwa hambatan terbesar adalah pandangan masyarakat yang masih menganggap pernikahan dini sebagai hal wajar.
“Strateginya, kami tidak langsung melarang, tapi memberikan edukasi dengan pendekatan dialogis, menekankan dampak kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak,” jelasnya.
Dampak penyuluhan ini mulai terlihat dari respons warga. Milatun Nashihah, koordinator program kegiatan KKN, menceritakan testimoni seorang ibu yang baru menyadari pentingnya menyekolahkan anak perempuan lebih tinggi agar tidak cepat menikah. Beberapa remaja yang hadir juga menyatakan termotivasi untuk melanjutkan sekolah.
Selain isu pendidikan, mahasiswa KKN juga menghadirkan program posyandu lansia. Kegiatan ini meliputi pendampingan kesehatan, pemberian paket bantuan, hingga edukasi pola hidup sehat. Para lansia diajak melakukan senam ringan serta mendapat informasi tentang pola makan yang baik.
“Alhamdulillah, para lansia sangat antusias. Ada momen menyentuh ketika seorang nenek berkata ia senang sekali ada yang mengajarkan senam ringan dan pola makan sehat, karena biasanya mereka merasa kurang diperhatikan,” tutur Ira Rahmawati, salah satu anggota KKN 55 UNUGIRI.

Kegiatan ini tidak hanya digerakkan mahasiswa, tetapi juga didukung penuh perangkat dusun serta kader posyandu. Mereka terlibat aktif menyampaikan materi dengan bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat, sehingga pesan lebih mudah diterima.
“Kami belajar bahwa berbicara tentang isu sensitif seperti pernikahan dini butuh kesabaran, empati, dan bahasa yang halus. Interaksi ini mengajarkan kami cara mendekati masyarakat tanpa menggurui,” ungkap Ira.
Untuk menjaga keberlanjutan, mahasiswa KKN bekerja sama dengan perangkat desa serta kader posyandu agar edukasi tidak berhenti setelah program berakhir. Modul sederhana juga telah disiapkan untuk dipakai guru maupun kader desa sebagai bahan diskusi lanjutan.
Dalam refleksi kegiatan, mahasiswa menyadari bahwa pembangunan desa tidak bisa dilepaskan dari pendidikan dan kesehatan. Jika masyarakat sehat dan terdidik, maka desa akan maju secara berkelanjutan.
“Kami berharap KKN berikutnya bisa membuat kelas remaja khusus tentang keterampilan hidup (life skills), supaya mereka punya bekal lebih daripada sekadar pengetahuan tentang bahaya pernikahan dini,” harap Ira.
Satu kalimat yang menggema dalam kegiatan ini seolah merangkum semangat mahasiswa dan masyarakat Dusun Sekidang: “Membangun desa bukan hanya tentang infrastruktur, tapi juga tentang menjaga masa depan generasi muda dan kesehatan orang tua kita.”
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





