Peran Media Sosial dalam Membentuk Pemahaman Publik Antara Informasi dan Disinformasi

Ilustrasi foto/pinterest
Ilustrasi foto/pinterest

Peran media sosial dalam membentuk pemahaman publik, mengarah pada pentingnya kemampuan digital dan tanggung jawab pengguna dalam menghadapi arus informasi yang deras dan seringkali menyesatkan.

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Platform-platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok mengubah cara kita berkomunikasi, berinteraksi, serta mengakses informasi.

Bacaan Lainnya

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, media sosial memiliki peran ganda dalam membentuk pemahaman publik, baik secara positif maupun negatif. Hal ini menuntut masyarakat untuk memiliki literasi digital yang mumpuni dan bertanggung jawab.

Salah satu peran utama media sosial adalah sebagai penyebar informasi yang cepat dan luas. Peristiwa, berita, dan opini dapat tersebar secara instan ke seluruh dunia, memungkinkan publik untuk mengakses informasi secara real-time.

Dalam konteks ini, media sosial berperan positif dengan mendorong keterbukaan dan akuntabilitas. Kejadian-kejadian yang sebelumnya tersembunyi kini dapat diungkap, memotivasi pemerintah dan lembaga lainnya untuk lebih transparan.

Selain itu, aksi sosial dan gerakan masyarakat dapat terorganisasi lebih efektif melalui platform ini, seperti demonstrasi yang berhasil menghimpun massa dan menyuarakan perubahan sosial.

Namun, kemudahan ini membawa konsekuensi serius. Media sosial menjadi ladang subur bagi penyebaran disinformasi dan hoaks. Informasi palsu dapat tersebar dengan cepat, memengaruhi pemahaman publik dan membentuk opini yang bias.

Misalnya, seperti dikutip dari Liputan6.com pada Selasa (2/11/2021), sebaran hoaks paling banyak ditemukan di Facebook., dimana terdapat 2.164 konten hoaks seputar vaksin covid-19. Sementara Twitter berada di posisi kedua. Dalam catatan Kementerian Kominfo ada 108 sebaran hoaks soal vaksin covid-19 di platform ini.

Situs berbagi video, seperti YouTube dan TikTok juga tak luput dari sasaran hoaks . Tercatat, ada 43 hoaks di YouTube dan 21 di TikTok. Lalu 18 sebaran hoaks sisanya ditemukan Kementerian Kominfo berada di Instagram.

Baca Juga: Analisis Dampak Globalisasi Terhadap Tenaga Kerja dalam Perdagangan Internasional dan Ekonomi Dunia

Pihak Kementerian Kominfo sudah melakukan takedown kepada semua informasi hoaks tersebut. Salah satu postingan soal vaksin covid-19 yang sudah ditelusuri kebenarannya oleh Cek Fakta adalah hoaks perbedaan warna darah bagi orang yang sudah divaksin dan belum.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com.

Selain disinformasi, media sosial memengaruhi pemahaman publik melalui algoritma yang menciptakan filter bubble. Algoritma ini dirancang untuk menampilkan konten sesuai minat pengguna, tetapi efek sampingnya adalah pengguna hanya terpapar informasi yang mendukung pandangan mereka sendiri.

Akibatnya, bias kognitif semakin menguat, dan pengguna menjadi kurang terbuka terhadap perspektif lain. Fenomena ini dapat memperburuk polarisasi sosial serta menghambat dialog yang konstruktif antar kelompok dengan pandangan berbeda.

Lebih jauh, media sosial juga memengaruhi persepsi publik melalui citra dan representasi. Banyak pengguna cenderung menampilkan versi terbaik diri mereka di media sosial, menciptakan citra ideal yang sering kali tidak mencerminkan kenyataan.

Hal ini dapat memicu perbandingan sosial yang tidak sehat serta tekanan untuk memenuhi standar yang tidak realistis. Penggunaan filter dan edit foto semakin memperburuk persepsi tentang penampilan fisik dan gaya hidup. Dampaknya, terjadi peningkatan tingkat kecemasan dan depresi, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Baca Juga: Luka yang Tidak Terlihat: Dampak Kekerasan Seksual Verbal pada Korban

Di sisi lain, peran media sosial sebagai alat edukasi dan pemberdayaan juga tak dapat diabaikan. Berbagai kampanye kesadaran seperti gerakan peduli lingkungan, kesehatan mental, dan kesetaraan gender kerap kali memanfaatkan media sosial sebagai platform utama.

Konten-konten edukatif ini memberikan wawasan baru kepada publik dan mendorong diskusi yang produktif. Selain itu, media sosial juga menjadi jembatan antara masyarakat dan berbagai lembaga atau organisasi yang ingin menyampaikan pesan penting secara langsung.

Namun, efektivitas media sosial sebagai alat edukasi sangat bergantung pada kredibilitas informasi yang disajikan. Banyak organisasi dan individu yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan edukasi faktual, tetapi ada juga yang memanfaatkannya untuk tujuan tertentu yang tidak selalu sesuai dengan fakta. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

Untuk mengatasi tantangan ini, peningkatan literasi digital menjadi sangat penting. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi informasi yang mereka temukan di media sosial. Pendidikan kritis tentang media dan kemampuan memverifikasi informasi dari berbagai sumber harus diajarkan sejak dini.

Baca Juga: Integrasi Teknologi dalam Pendidikan Matematika: Langkah Menuju Era Baru Pembelajaran

Selain itu, platform media sosial juga harus bertanggung jawab dalam memerangi disinformasi. Penerapan kebijakan ketat dan mekanisme verifikasi yang efektif diperlukan untuk mengurangi penyebaran informasi palsu.

Kesimpulannya, media sosial memainkan peran yang kompleks dan ganda dalam membentuk pemahaman publik. Di satu sisi, media sosial memfasilitasi akses informasi yang cepat dan luas, mendorong keterbukaan dan keterlibatan publik. 

Di sisi lain, media sosial juga menjadi lahan subur bagi penyebaran disinformasi dan hoaks, memperkuat bias kognitif, dan menciptakan persepsi yang tidak akurat. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital dan tanggung jawab pengguna, diimbangi dengan upaya platform media sosial untuk memerangi disinformasi, menjadi kunci untuk memastikan bahwa media sosial dapat digunakan secara bertanggung jawab dan bermanfaat dalam membentuk persepsi publik yang lebih akurat dan berimbang. 

Hanya dengan demikian, kita dapat memanfaatkan potensi positif media sosial tanpa terjebak dalam jebakan disinformasi dan dampak negatifnya terhadap kehidupan sosial dan politik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *