Bahasa Gaul di TikTok: Cermin Identitas dan Kreativitas Mahasiswa di Ruang Digital

Ilustrasi
Ilustrasi

TikTok menjadi salah satu media sosial yang banyak digunakan mahasiswa untuk mencari hiburan, memperoleh informasi, dan berinteraksi dengan pengguna lain. Interaksi tersebut tidak hanya terlihat melalui video, tetapi juga dalam kolom komentar yang memperlihatkan beragam penggunaan bahasa. Mahasiswa memanfaatkan bahasa Indonesia, bahasa gaul, singkatan, hingga campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk menyampaikan pendapat dan mengekspresikan diri. Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok bukan sekadar ruang hiburan, melainkan juga tempat berkembangnya kebiasaan berbahasa di kalangan mahasiswa.

Bahasa dalam kolom komentar tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk menunjukkan identitas, menyampaikan emosi, dan membangun kedekatan sosial. Istilah seperti relate, spill, FYP, POV, mager, gabut, dan cringe kerap digunakan dalam percakapan digital. Penggunaan istilah tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan media sosial memengaruhi pilihan kata dan cara mahasiswa menyampaikan pesan.

Bacaan Lainnya

Ragam Bahasa dalam Komentar Mahasiswa

Bahasa dalam kolom komentar TikTok memiliki beragam bentuk, salah satunya bahasa gaul, yaitu bahasa informal yang berkembang dalam pergaulan masyarakat. Bahasa ini sering digunakan karena dianggap lebih santai, ringkas, dan sesuai dengan suasana komunikasi di media sosial. Contohnya adalah kata mager, singkatan dari malas gerak, dan gabut, yang menggambarkan keadaan ketika seseorang tidak memiliki kegiatan tertentu.

Mahasiswa juga menggunakan singkatan, variasi penulisan, permainan kata, emoji, serta campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ungkapan relate banget, misalnya, digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu pengalaman sesuai dengan pengalaman pribadi. Sementara itu, kata spill kerap digunakan untuk meminta seseorang membagikan informasi tertentu. Makna istilah-istilah tersebut bergantung pada kebiasaan pengguna dan konteks percakapan.

Penggunaan bahasa gaul juga berkaitan dengan identitas kelompok. Ketika menggunakan istilah yang sedang populer, mahasiswa dapat menunjukkan bahwa mereka mengikuti tren digital dan memahami kebiasaan komunikasi kelompoknya. Bahasa di TikTok pun tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kedekatan antarpengguna.

Fenomena ini relevan untuk memahami dinamika kebahasaan generasi Z dalam interaksi digital. Namun, penggunaan bahasa gaul tetap perlu dipahami berdasarkan konteksnya karena satu istilah dapat memiliki makna berbeda dalam situasi komunikasi yang berbeda.

Kreativitas dan Persoalan Bahasa di Ruang Digital

Bahasa gaul menunjukkan kreativitas mahasiswa dalam berkomunikasi. Pesan dapat disampaikan melalui ungkapan singkat, permainan kata, maupun istilah populer yang mudah dikenali pengguna lain. Dalam komunikasi digital yang berlangsung cepat, bentuk bahasa tersebut dapat membuat interaksi terasa lebih akrab dan menarik.

Meski demikian, penggunaan bahasa di media sosial juga menghadirkan persoalan. Komentar yang ditulis secara spontan terkadang mengabaikan ketepatan makna dan kesantunan. Pilihan kata yang dianggap lucu oleh sebagian pengguna dapat dipahami sebagai sindiran atau penghinaan oleh pengguna lain. Akibatnya, komunikasi yang seharusnya membangun interaksi justru dapat memicu kesalahpahaman.

Persoalan lain muncul ketika kebiasaan menggunakan bahasa informal terbawa ke situasi yang membutuhkan bahasa formal. Mahasiswa tetap perlu memperhatikan kaidah bahasa Indonesia ketika menyusun tugas akademik, menulis artikel ilmiah, atau berkomunikasi secara resmi dengan dosen. Hal ini bukan berarti bahasa gaul harus dihindari, melainkan penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan dan situasi komunikasi.

Karena itu, persoalan utama bukanlah keberadaan bahasa gaul, melainkan kemampuan mahasiswa memilih bahasa yang tepat. Mereka perlu memahami perbedaan antara komunikasi santai di media sosial dan komunikasi formal dalam lingkungan akademik.

Pentingnya Kesadaran Berbahasa di Media Sosial

Fenomena bahasa dalam komentar mahasiswa di TikTok menunjukkan bahwa perkembangan teknologi turut membentuk kebiasaan komunikasi generasi muda. Bahasa gaul, singkatan, dan campuran bahasa merupakan bagian dari dinamika bahasa yang terus berkembang. Namun, kebebasan berekspresi tetap perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap makna, kesantunan, dan dampak suatu ungkapan bagi orang lain.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan literasi bahasa dan digital di kalangan mahasiswa. Mereka perlu memahami makna istilah yang digunakan, memeriksa informasi sebelum memberikan tanggapan, serta menghindari komentar yang merendahkan orang lain. Lingkungan perguruan tinggi juga dapat mendorong mahasiswa berlatih menulis dan berdiskusi menggunakan bahasa Indonesia yang baik melalui kegiatan akademik, tanpa mengabaikan perkembangan bahasa informal di media sosial.

Mahasiswa perlu membiasakan diri menyesuaikan bahasa dengan konteks. Bahasa gaul dapat digunakan dalam percakapan santai, sedangkan bahasa baku perlu diterapkan dalam penulisan akademik dan komunikasi resmi. Dengan begitu, mahasiswa tetap dapat mengikuti perkembangan bahasa digital sekaligus mempertahankan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik.

Bahasa dalam komentar mahasiswa di TikTok mencerminkan kreativitas, identitas, dan perubahan pola komunikasi di era digital. Fenomena ini tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai kemunduran bahasa, tetapi perlu dipahami secara kritis berdasarkan bentuk, makna, dan konteks penggunaannya. Penguatan literasi bahasa dan digital, pembiasaan komunikasi yang santun, serta kemampuan memilih bahasa sesuai situasi menjadi langkah penting untuk menghadapi perubahan tersebut. Media sosial pun dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas berbahasa sekaligus membangun komunikasi yang bijak, efektif, dan bertanggung jawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *