Strategi dan Tantangan Perencanaan SDM di Tengah Efisiensi Bisnis: Studi Kasus PT Unilever Indonesia Tbk

Ilustrasi Strategi dan Tantangan Perencanaan SDM di Tengah Efisiensi Bisnis
Ilustrasi Strategi dan Tantangan Perencanaan SDM di Tengah Efisiensi Bisnis

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu aset penting dalam organisasi karena menjadi penggerak utama aktivitas perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis. Agar tenaga kerja dapat dikelola secara optimal, perusahaan membutuhkan perencanaan yang sistematis, mulai dari memperkirakan kebutuhan tenaga kerja hingga menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan arah bisnis.

Perencanaan SDM tidak sekadar memastikan tersedianya karyawan dalam jumlah dan kualifikasi yang tepat. Fungsi ini juga menjadi penghubung antara strategi bisnis dan pengelolaan tenaga kerja. Tantangannya semakin kompleks ketika perusahaan menghadapi perubahan teknologi, persaingan pasar, tekanan biaya, serta kondisi ekonomi global.

Bacaan Lainnya

Fenomena tersebut dapat dilihat pada PT Unilever Indonesia Tbk, perusahaan yang bergerak di sektor barang konsumen cepat saji atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan melakukan penyesuaian jumlah dan struktur tenaga kerja sebagai bagian dari transformasi bisnis. Kondisi ini menarik dikaji untuk melihat bagaimana perencanaan SDM bekerja ketika perusahaan harus menjaga efisiensi sekaligus mempertahankan kualitas tenaga kerja.

Esai ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari bahan pembelajaran, dokumen ilmiah mengenai perencanaan SDM, laporan keuangan tahunan perusahaan, serta publikasi berita ekonomi dan bisnis terkait PT Unilever Indonesia Tbk. Analisis dilakukan dengan mengkaji konsep perencanaan SDM, tujuan dan manfaatnya, data historis jumlah karyawan, serta tantangan yang muncul dalam penerapan kebijakan efisiensi.

Memahami Perencanaan Sumber Daya Manusia

Perencanaan SDM merupakan proses menganalisis dan mengidentifikasi kebutuhan serta ketersediaan tenaga kerja agar organisasi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Proses tersebut mencakup forecasting kebutuhan tenaga kerja, rekrutmen dan seleksi, pelatihan, pengembangan karier, hingga evaluasi kinerja.

Perencanaan SDM yang baik harus berjalan searah dengan perencanaan bisnis. Ketika strategi perusahaan berubah, kebutuhan tenaga kerja juga perlu disesuaikan, baik dari sisi jumlah, kompetensi maupun struktur organisasi.

Secara umum, perencanaan SDM bertujuan memastikan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan organisasi pada waktu yang tepat. Selain itu, perencanaan ini membantu menyelaraskan kebutuhan karyawan dengan strategi bisnis, meningkatkan efektivitas penempatan tenaga kerja, serta mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

Manfaatnya dapat dirasakan oleh perusahaan maupun karyawan. Bagi organisasi, perencanaan SDM membantu mengoptimalkan potensi tenaga kerja, meningkatkan produktivitas, menekan biaya akibat kelebihan atau kekurangan karyawan, dan memperkuat daya saing. Bagi karyawan, perencanaan yang jelas dapat memberikan gambaran mengenai jenjang karier, pengembangan kompetensi, serta rasa aman dalam bekerja.

Praktik Perencanaan SDM di Unilever Indonesia

PT Unilever Indonesia Tbk menempatkan brand dan people sebagai aset penting dalam mempertahankan posisi perusahaan di pasar FMCG. Dalam pengelolaan SDM, perusahaan menerapkan sejumlah pendekatan strategis.

Pertama, rekrutmen dan seleksi dilakukan untuk mendapatkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Salah satunya melalui program Management Trainee yang ditujukan untuk menjaring talenta muda.

Kedua, perusahaan menerapkan formula pembelajaran 70-20-10. Sekitar 70 persen pengembangan diperoleh melalui pengalaman kerja langsung, 20 persen melalui pembelajaran berkelanjutan serta bimbingan atau mentoring, dan 10 persen melalui pelatihan formal.

Ketiga, terdapat manajemen talenta untuk mengidentifikasi dan mengembangkan calon pemimpin masa depan. Strategi tersebut penting untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan ketika organisasi mengalami perubahan.

Namun, sistem pengembangan talenta tersebut berjalan bersamaan dengan dinamika efisiensi tenaga kerja.

Ketika Efisiensi Mengubah Struktur Tenaga Kerja

Berdasarkan laporan resmi perusahaan, jumlah karyawan PT Unilever Indonesia Tbk menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah karyawan tercatat sebanyak 5.222 orang pada 2020, kemudian turun menjadi 4.949 orang pada 2021, 4.849 orang pada 2022, 4.589 orang pada 2023, dan 4.266 orang pada 2024. Pada semester I 2025, jumlah tersebut kembali turun menjadi 4.068 orang.

Jika dibandingkan dengan 2020, jumlah karyawan hingga semester I 2025 menyusut sekitar 22 persen. Penurunan tersebut berkaitan dengan penyesuaian operasional, kondisi pasar yang kompetitif, serta implementasi program restrukturisasi global dalam grup Unilever.

Dari perspektif perencanaan SDM, kondisi tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan efisiensi jangka pendek dengan kebutuhan tenaga kerja jangka panjang. Pengurangan jumlah karyawan memang dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi, tetapi perlu diikuti penataan pekerjaan, distribusi beban kerja, dan pengembangan kompetensi yang terukur.

Jika tidak dikelola secara proporsional, efisiensi berpotensi meningkatkan job insecurity, menurunkan moral kerja, serta menambah beban karyawan yang tetap bekerja. Risiko tersebut semakin besar apabila pengurangan personel tidak diikuti evaluasi terhadap beban dan produktivitas setiap fungsi.

Strategi Menjaga Keseimbangan

Ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan untuk memperkuat perencanaan SDM di tengah tekanan efisiensi.

Pertama, perusahaan perlu memperkuat forecasting jangka panjang melalui scenario planning. Peramalan kebutuhan tenaga kerja dengan beberapa skenario memungkinkan perusahaan menyiapkan respons sebelum perubahan bisnis terjadi.

Kedua, komunikasi internal yang transparan perlu diperkuat. Karyawan membutuhkan pemahaman mengenai alasan, arah, dan dampak kebijakan perusahaan agar ketidakpastian tidak berkembang menjadi kekhawatiran yang berlebihan.

Ketiga, program reskilling dan upskilling dapat menjadi alternatif ketika teknologi atau perubahan organisasi menggeser fungsi pekerjaan tertentu. Pengembangan kompetensi memungkinkan perusahaan mempertahankan talenta sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan baru.

Keempat, keputusan restrukturisasi sebaiknya didukung data produktivitas dan analisis beban kerja. Pengurangan tenaga kerja tidak semestinya hanya dilihat dari sisi penghematan biaya, tetapi juga dari dampaknya terhadap produktivitas, kualitas pekerjaan, dan keberlanjutan organisasi.

Perencanaan SDM pada akhirnya bukan hanya persoalan menghitung berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Perencanaan tersebut juga menyangkut bagaimana organisasi menempatkan orang yang tepat, dengan kompetensi yang tepat, pada pekerjaan yang sesuai dengan arah bisnis.

Studi kasus PT Unilever Indonesia Tbk memperlihatkan bahwa perusahaan dengan sistem manajemen talenta yang terstruktur tetap menghadapi tantangan ketika tekanan efisiensi dan restrukturisasi bisnis meningkat. Penyusutan jumlah karyawan sekitar 22 persen pada periode 2020 hingga semester I 2025 menjadi gambaran penting mengenai perlunya keseimbangan antara efisiensi biaya dan keberlanjutan pengembangan SDM.

Penguatan peramalan jangka panjang, komunikasi yang terbuka, pengembangan kompetensi, serta keputusan berbasis data dapat membantu perusahaan menjalankan efisiensi secara lebih terukur. Bagi karyawan, pendekatan tersebut penting agar perubahan organisasi tidak hanya dipahami sebagai pengurangan tenaga kerja, tetapi juga sebagai proses penyesuaian kompetensi terhadap kebutuhan bisnis yang terus berkembang.


Daftar Pustaka

  • Bisnis.com. (2025). Jumlah Karyawan Unilever Indonesia (UNVR) Susut 22% dalam Lima Tahun Terakhir.
  • Bisnis.com. (2025). Unilever Indonesia (UNVR) di Persimpangan: Arah Dividen, Nasib Karyawan, dan Pergantian Direksi.
  • Bloomberg Technoz. (2025). Bos Unilever (UNVR) Bicara PHK Karyawan, Pangkas 480 Orang.
  • dvdpelatihansdm.com. (2017). Strategi Rekrutmen dan Pelatihan SDM di Unilever Indonesia.
  • Katadata.co.id. (2024). Unilever Global Bakal PHK 3.200 Karyawan di 2025, Ini Respons Unilever Indonesia.
  • Republika Online. (2025). Unilever Indonesia Jalankan Efisiensi dan Penyesuaian Pegawai di Tengah Tantangan Pasar.
  • ResearchGate. (2021). Manajemen Sumber Daya Manusia dan Manajemen Risiko pada PT Unilever Indonesia Tbk.
  • ResearchGate. (2023). PT Unilever Indonesia: Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Society 5.0 Studi Kasus Pengembangan SDM.
  • Tribunnews.com. (2024). Unilever Restrukturisasi Besar-Besaran, Bakal PHK 7.500 Karyawan.

Dosen Pengampu: Lidya Pricilla S.E , M.M

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *