Pangkalpinang, Krajan.id – Mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Bangka Belitung (UBB) mengajak siswa kelas VI B SD Negeri 10 Pangkalpinang belajar tentang kerja sama dan toleransi melalui proyek gim edukatif bertajuk “Belajar Tanpa Membeda”, Rabu (18/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi upaya mahasiswa memperkenalkan nilai kesetaraan sejak dini melalui pendekatan pembelajaran berbasis permainan atau game-based learning. Konsep ini diharapkan mampu mengikis sekat perbedaan di antara anak-anak sekaligus melatih empati, toleransi, dan kemampuan bekerja sama.
Program ini berada di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila, Padlun Fauzi, S.Hum., M.Sc., serta dosen Pendidikan Kewarganegaraan, Tri Indrayati, M.Pd.
Sejak awal kegiatan, suasana kelas tampak penuh antusiasme. Mahasiswa yang datang ke ruang kelas di lantai dua sekolah disambut hangat para siswa. Anak-anak terlihat penasaran sekaligus bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan.
Acara dibuka oleh pembawa acara (MC), dilanjutkan dengan perkenalan mahasiswa serta penjelasan singkat mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Penyampaian dilakukan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami siswa sekolah dasar.
Untuk membangun interaksi yang lebih luas, siswa diminta membentuk kelompok melalui metode berhitung satu hingga empat secara berurutan. Cara tersebut sengaja dipilih agar siswa tidak hanya berinteraksi dengan teman dekatnya, tetapi juga belajar bekerja sama dengan teman lain yang berbeda karakter maupun latar belakang.
Pembagian kelompok juga memadukan siswa laki-laki dan perempuan, termasuk siswa dengan tingkat keaktifan yang beragam. Setiap kelompok terdiri atas sembilan hingga sepuluh siswa yang didampingi oleh mahasiswa.
Setelah kelompok terbentuk, seluruh peserta diarahkan menuju lapangan sekolah dengan tertib. Di lokasi tersebut, mahasiswa memperkenalkan dua jenis gim yang akan dimainkan, yakni estafet bola dan capit cup.
Mahasiswa juga mempraktikkan tata cara permainan sebelum kegiatan dimulai. Pada gim estafet bola, setiap tim menyiapkan enam anggota yang terdiri atas siswa laki-laki dan perempuan. Sementara itu, gim capit cup dimainkan oleh empat orang dalam setiap kelompok.
Keceriaan langsung terlihat saat permainan berlangsung. Siswa tampak antusias mengikuti setiap tantangan yang diberikan. Dalam gim estafet bola, anak-anak saling menyemangati agar timnya dapat mencapai garis akhir lebih cepat.
Sementara itu, gim capit cup mengajarkan pentingnya koordinasi dan kekompakan. Setiap anggota tim dituntut berhati-hati karena keberhasilan permainan sangat bergantung pada kontribusi seluruh anggota kelompok.
Mahasiswa juga memastikan seluruh siswa mendapat kesempatan bermain secara bergantian. Di sisi lain, siswa yang tidak sedang bermain terlihat tetap terlibat dengan memberikan dukungan kepada teman-temannya dari pinggir lapangan.

Usai kegiatan di lapangan, seluruh siswa kembali ke kelas untuk mengikuti sesi penutupan sekaligus pembagian hadiah. Mahasiswa menyiapkan empat kategori penghargaan, yakni terkicau (terheboh), terkalem, terceria, dan terkece.
Salah satu mahasiswa mengatakan, seluruh siswa dianggap sebagai pemenang karena telah menunjukkan kerja sama yang baik selama kegiatan berlangsung.
“Bagi kami semua siswa merupakan pemenang karena telah bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan gim sehingga kami menyiapkan empat hadiah agar terbagi merata di tiap kelompok,” ujar salah satu mahasiswa.
Setelah pembagian hadiah, siswa diminta menuliskan kesan dan pesan mereka pada sticky note. Tulisan tersebut kemudian ditempelkan pada mading yang telah disiapkan mahasiswa sebagai bentuk dokumentasi pengalaman belajar bersama.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi pembuatan konten dan foto bersama. Sebagai bentuk apresiasi kepada pihak sekolah, mahasiswa UBB juga menyerahkan sertifikat penghargaan kepada SD Negeri 10 Pangkalpinang yang telah mendukung pelaksanaan proyek tersebut.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap nilai-nilai kebersamaan dan sikap saling menghargai dapat tumbuh dalam keseharian siswa, baik di lingkungan sekolah maupun saat bermain bersama teman-teman mereka.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi contoh pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter sosial anak sejak usia dini. Dengan suasana belajar yang menyenangkan, mahasiswa berharap siswa dapat memahami bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk saling bekerja sama dan membangun kekompakan.





