Batubulan Health Fair Jadi Langkah Nyata KKN UNS Tingkatkan Kesehatan Masyarakat

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan saat melakukan pemeriksaan kesehatan gratis kepada warga dalam kegiatan Batubulan Health Fair di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan saat melakukan pemeriksaan kesehatan gratis kepada warga dalam kegiatan Batubulan Health Fair di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. (doc. pribadi)

Batubulan, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 183 Batubulan menggelar kegiatan “Batubulan Health Fair” di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, pada Minggu (1/2/2026) dan Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini berfokus pada deteksi dini hipertensi, diabetes melitus, kolesterol, dan asam urat melalui pemeriksaan kesehatan gratis serta edukasi penyakit tidak menular bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK.

Kegiatan yang berlangsung melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN UNS, Puskesmas Sukawati II, Pemerintah Desa Batubulan, PKK, dan RSU Windu Husada tersebut mendapat antusiasme tinggi dari warga. Bahkan, sejumlah peserta baru pertama kali mengetahui kondisi kesehatannya setelah mengikuti pemeriksaan.

Bacaan Lainnya
Suasana pelaksanaan Batubulan Health Fair yang diselenggarakan Mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. (doc. pribadi)
Suasana pelaksanaan Batubulan Health Fair yang diselenggarakan Mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. (doc. pribadi)

Ketua KKN UNS Kelompok 183 Batubulan, Anak Agung Bagus Raditya Utama, mengatakan pemilihan isu hipertensi, diabetes, dan asam urat didasarkan pada tingginya kasus penyakit tersebut di masyarakat serta rendahnya kesadaran warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.

“Penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes cukup sering ditemukan di masyarakat, tetapi banyak yang tidak menyadari sejak awal karena gejalanya sering tidak terlihat,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat edukasi kesehatan dan pemeriksaan rutin menjadi penting agar masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih dini sebelum penyakit berkembang lebih serius.

Ia menjelaskan, sasaran utama kegiatan difokuskan kepada ibu-ibu PKK karena kelompok tersebut dinilai aktif di lingkungan masyarakat dan memiliki peran penting dalam keluarga. Meski demikian, kegiatan pemeriksaan kesehatan tetap terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mengikuti pemeriksaan.

“Kami juga memperbolehkan masyarakat selain ibu-ibu PKK untuk datang dan melakukan pemeriksaan kesehatan,” katanya.

Bagus menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang hadir untuk memeriksakan kesehatan. Bahkan, beberapa peserta baru pertama kali mengetahui kondisi kesehatannya setelah mengikuti pemeriksaan.

“Ada peserta yang baru mengetahui tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam uratnya berada di atas batas normal setelah mengikuti kegiatan ini,” ucapnya.

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan bersama tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan gula darah dan kesehatan dasar kepada warga dalam kegiatan Batubulan Health Fair di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan bersama tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan gula darah dan kesehatan dasar kepada warga dalam kegiatan Batubulan Health Fair di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. (doc. pribadi)

Sementara itu, Koordinator Program Kegiatan dari Program Studi Sosiologi, Cindhy Lorenza, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum rutin melakukan pemeriksaan kesehatan karena kesibukan aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, mayoritas peserta merupakan ibu rumah tangga yang harus membagi waktu antara pekerjaan domestik, aktivitas sosial, dan kegiatan adat sehingga kesehatan pribadi sering kurang diperhatikan.

“Kami melihat banyak masyarakat memiliki aktivitas yang padat sehingga kesehatan sering tidak menjadi prioritas,” jelasnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut juga berkaitan dengan fenomena triple burden yang dialami sebagian perempuan Bali, yakni menjalankan peran rumah tangga, pekerjaan, dan aktivitas adat secara bersamaan.

Meski tidak melakukan survei khusus, pihaknya menilai sejumlah kajian menunjukkan adanya hubungan antara beban aktivitas perempuan dengan kondisi kesehatan mereka.

“Kami ingin mendorong perempuan agar lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri di tengah kesibukan sehari-hari,” katanya.

Cindhy juga menyebut antusiasme warga cukup tinggi selama kegiatan berlangsung. Bahkan, mahasiswa sempat mendengar langsung respons positif dari ibu-ibu PKK terhadap program pemeriksaan kesehatan gratis tersebut.

“Beberapa ibu-ibu PKK mengatakan kegiatan seperti ini sangat berguna bagi masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Koordinator Program dari Program Studi Kedokteran, Arga Wika Wijaya, menjelaskan bahwa penyakit yang paling banyak ditemukan saat pemeriksaan berlangsung adalah hipertensi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan asam urat.

Menurutnya, masyarakat sering terlambat menyadari penyakit seperti hipertensi dan diabetes karena penyakit tersebut tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal.

“Hipertensi dan diabetes sering disebut silent disease karena gejalanya tidak selalu terlihat sehingga banyak masyarakat baru mengetahui kondisinya setelah diperiksa,” jelasnya.

Selain pemeriksaan kesehatan gratis, kegiatan juga diisi dengan edukasi mengenai hipertensi, diabetes melitus, serta pola hidup sehat. Edukasi diberikan langsung oleh tenaga medis dari Puskesmas Sukawati II dan RSU Windu Husada.

Untuk mengetahui efektivitas sosialisasi, mahasiswa memberikan pre-test dan post-test kepada peserta sebelum dan sesudah pemaparan materi. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat setelah mengikuti edukasi kesehatan.

“Ada peningkatan jumlah jawaban benar pada post-test setelah peserta mendapatkan penjelasan mengenai hipertensi, diabetes, dan pola hidup sehat,” kata Arga.

Ia menambahkan, kegiatan sengaja dilaksanakan dalam dua tahap agar masyarakat tidak hanya mendapatkan pemeriksaan awal, tetapi juga dapat melakukan pemeriksaan ulang setelah menerapkan pola hidup sehat yang disarankan tenaga medis.

Sebagai tindak lanjut, peserta yang memiliki hasil pemeriksaan tinggi atau mengkhawatirkan diberikan konsultasi langsung dengan dokter pada pelaksanaan kedua. Mahasiswa juga membagikan kartu pemeriksaan sebagai rekam medis lanjutan peserta.

Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan warga turut dimasukkan ke dalam laman Sehat Indonesiaku agar tetap dapat dipantau pihak puskesmas meskipun program KKN telah selesai.

“Kami ingin program ini memberikan dampak jangka panjang sehingga hasil pemeriksaan peserta tetap bisa dipantau pihak puskesmas,” pungkasnya.

Program Batubulan Health Fair ini melibatkan seluruh mahasiswa KKN UNS Kelompok 183 Batubulan, di antaranya Anak Agung Bagus Raditya Utama, Cindhy Lorenza, Arga Wika Wijaya, Sekar Ayudya Anindita, Bagas Marchendi Sayogi, Intan Tania Nindiarini, Talya Laksita, Nugraheni Putri Renata, Ni Putu Warma Yanda, Dendy Alfian Riandi, Widodo Arju Purnomo, Novan Pradit Arvian, Ridwan Hafif Burhanudin, Jeremias Michael Andrianto Bonai, Chelsa Nabila Putri, Erma Felies Dias Tutik, Rafi Ardelia Rudhianto, Nabilla Afifah Amanda, Hadi Setiawan, dan Rafif Widia Ananda yang turut berperan dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan, pendampingan peserta, hingga edukasi kepada masyarakat.

Kegiatan Batubulan Health Fair merupakan bentuk kolaborasi antara mahasiswa KKN UNS, Puskesmas Sukawati II, Pemerintah Desa Batubulan, PKK, dan RSU Windu Husada dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *