Kolaborasi KKN UNS 111 dan BPP Ngrayun Dorong Pertanian Berkelanjutan melalui Pelatihan Pestisida Alternatif di Desa Binade

Dokumentasi bersama setelah pelaksanaan pelatihan pembuatan pestisida alternatif berbasis belerang dan kapur gamping di balai desa Binade. (doc. pribadi)
Dokumentasi bersama setelah pelaksanaan pelatihan pembuatan pestisida alternatif berbasis belerang dan kapur gamping di balai desa Binade. (doc. pribadi)

Desa Binade, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 111 Desa Binade berkolaborasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Ngrayun menggelar pelatihan pembuatan pestisida alternatif berbasis belerang dan kapur gamping. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin (26/1/2026) di Balai Desa Binade dan diikuti oleh petani serta perangkat desa setempat.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam membuat pestisida alternatif yang lebih terjangkau serta ramah lingkungan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKN UNS 111 yang berfokus pada penguatan sektor pertanian desa.

Bacaan Lainnya

Melalui pelatihan ini, mahasiswa bersama penyuluh pertanian memperkenalkan metode pembuatan pestisida alternatif yang dapat diproduksi secara mandiri oleh petani menggunakan bahan yang relatif murah dan mudah diperoleh di sekitar lingkungan pertanian.

Desa Binade dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas pertanian yang cukup aktif. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian dari sektor pertanian, terutama melalui budidaya tanaman padi dan porang. Kedua komoditas tersebut menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga di desa tersebut sehingga keberlanjutan produksi pertanian menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat setempat.

Dalam praktik budidaya, petani di Desa Binade kerap menghadapi berbagai kendala. Serangan hama dan penyakit tanaman menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan hasil produksi pertanian. Pada tanaman padi, petani sering mengalami serangan hama potong leher yang berdampak pada penurunan hasil panen. Sementara pada tanaman porang, penyakit busuk umbi juga kerap ditemukan dan menimbulkan kerugian bagi petani.

Kondisi tersebut mendorong petani menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Namun, harga pestisida sintetis yang relatif mahal sering menjadi keluhan petani. Penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus juga dapat meningkatkan biaya produksi pertanian sehingga keuntungan yang diperoleh petani menjadi lebih kecil.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UNS 111 bersama penyuluh pertanian dari BPP Ngrayun berinisiatif mengadakan pelatihan pembuatan pestisida alternatif. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih terjangkau bagi petani sekaligus mengenalkan metode pengendalian hama dan penyakit tanaman yang lebih ramah lingkungan.

Bapak Fajar, Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Binade menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut beliau, pelatihan semacam ini sangat bermanfaat bagi petani karena menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus mencari solusi atas berbagai permasalahan pertanian yang dihadapi di lapangan.

“Kegiatan ini sangat kami apresiasi karena dapat menjadi wadah bagi petani untuk berbagi pengetahuan serta mencari solusi terhadap permasalahan pertanian yang dihadapi di lapangan”, ungkap Bapak Fajar.

Kegiatan pelatihan diawali dengan penyampaian materi oleh penyuluh pertanian mengenai konsep pertanian berkelanjutan. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan lahan yang baik, penggunaan pupuk secara tepat, serta pemanfaatan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan pertanian.

Setelah sesi materi, peserta diperkenalkan dengan pestisida alternatif berupa Jadam Sulfur dan Bubur California. Kedua bahan tersebut berfungsi sebagai bakterisida dan fungisida yang dibuat dari bahan utama belerang dan kapur gamping. Selain dinilai lebih terjangkau, bahan tersebut juga dapat dibuat secara mandiri oleh petani dengan teknik yang relatif sederhana.

Selain menerima materi, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan Jadam Sulfur bersama mahasiswa KKN dan penyuluh pertanian. Dalam sesi praktik ini, peserta diperkenalkan dengan tahapan pembuatan mulai dari persiapan bahan, proses pencampuran, hingga cara penggunaan pestisida alternatif pada tanaman. Pendampingan dilakukan secara bertahap agar petani dapat memahami setiap proses dengan jelas.

Dokumentasi proses pembuatan pupuk pestisida bersama warga Desa Binade. (doc. pribadi)
Dokumentasi proses pembuatan pupuk pestisida bersama warga Desa Binade. (doc. pribadi)

Selain praktik pembuatan Jadam Sulfur, peserta juga menerima Bubur California yang telah disiapkan sebelumnya sebagai contoh produk pestisida alternatif. Pembagian tersebut bertujuan memberikan gambaran kepada petani mengenai bentuk produk yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit tanaman.

Tim KKN UNS Kelompok 111 terdiri dari 10 anggota, yaitu Bagus Rezki Ramdani, Desy Ayu Iswahyuni, Elsa Khoirun Nisak, Fadilla Aditiya Achmad, Florentina Alfi Ardelia Christi, Friska Feriska Dwi Astuti, Muhamad Sahri Romadhon, Normalisa Ilham Luviana, Nurfarahin Jamsari, dan Rico Ananda.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS 111 berharap petani Desa Binade dapat memperoleh tambahan pengetahuan serta keterampilan dalam mengelola hama dan penyakit tanaman. Pemanfaatan pestisida alternatif berbahan dasar belerang dan kapur gamping diharapkan mampu membantu petani menekan biaya produksi sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan di desa tersebut.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *