Lereng Selatan Gunung Hyang, Upaya Merawat Aksara Pegon dari Desa Badean

Badean, Krajan.id – Upaya pelestarian warisan budaya tulis Nusantara terus dilakukan di tengah derasnya arus modernisasi. Salah satunya melalui penyelenggaraan Workshop Aksara Pegon yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan “Lereng Selatan Gunung Hyang: Peradaban Kuno Desa Badean Kabupaten Jember.” Kegiatan tersebut akan berlangsung pada Sabtu, (9/5/2026), di Aula Wisata Puncak Badean, Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember.

Workshop ini diinisiasi oleh Achmadana Syachrizal Muzibarroehaman Firdaus, M.Ag., yang selama ini aktif dalam kajian sejarah lokal dan kebudayaan masyarakat desa. Program tersebut juga mendapat dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan berbasis masyarakat.

Bacaan Lainnya

Aksara Pegon merupakan sistem tulisan berbasis huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, Sunda, dan sejumlah bahasa lokal lain di Nusantara. Dalam sejarah perkembangannya, Pegon tidak hanya berfungsi sebagai media tulis, tetapi juga menjadi sarana pendidikan, dakwah, penyebaran ilmu pengetahuan, hingga pencatatan kehidupan sosial masyarakat.

Di berbagai wilayah pedesaan, aksara ini pernah menjadi bagian penting dari tradisi literasi pesantren dan masyarakat. Banyak manuskrip keagamaan, karya sastra, catatan sejarah lokal, hingga dokumen sosial masyarakat yang ditulis menggunakan Pegon. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan pola literasi membuat kemampuan membaca aksara tersebut perlahan mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

Achmadana Syachrizal Muzibarroehaman Firdaus mengatakan, pelestarian Pegon tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat. Menurut dia, aksara tersebut menyimpan jejak panjang perjalanan intelektual masyarakat Nusantara.

“Banyak manuskrip, catatan keagamaan, karya sastra, hingga dokumen sosial masyarakat terdahulu yang ditulis menggunakan Pegon. Namun di tengah arus modernisasi, kemampuan membaca dan memahami aksara tersebut mulai mengalami penurunan, terutama di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Ia menilai, masyarakat desa memiliki warisan intelektual yang besar dan layak dirawat bersama. Pegon, kata dia, bukan sekadar bentuk tulisan lama yang tersimpan dalam kitab atau manuskrip kuno, melainkan bagian dari perjalanan pengetahuan masyarakat Nusantara.

“Di masa lalu, aksara ini menjadi medium penting dalam pendidikan pesantren, komunikasi sosial, penulisan sejarah lokal, hingga penyebaran pemikiran keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat,” katanya.

Dalam workshop tersebut, peserta akan diperkenalkan pada sejarah perkembangan Aksara Pegon, fungsi sosialnya dalam masyarakat, hingga praktik dasar membaca dan memahami tulisan Pegon. Kegiatan menghadirkan Fiqru Mafar, M.IP., sebagai narasumber utama.

Panitia berharap workshop tersebut tidak hanya menjadi ruang pembelajaran teoritis, tetapi juga mampu membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga warisan budaya tulis masyarakat lokal. Pendekatan edukatif dan partisipatif dipilih agar peserta dapat memahami Pegon secara lebih dekat dan kontekstual.

Pemilihan Desa Badean sebagai lokasi kegiatan juga dinilai memiliki alasan historis dan kultural yang kuat. Desa yang berada di lereng selatan Gunung Hyang itu masih menyimpan hubungan erat antara tradisi masyarakat, lingkungan, dan memori sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak melihat kembali desa sebagai ruang yang tidak hanya menyimpan bentang alam dan kehidupan sosial, tetapi juga jejak panjang peradaban. Di balik tradisi lisan dan kebiasaan masyarakat sehari-hari, terdapat warisan intelektual yang selama ini menjadi penopang identitas budaya lokal.

Workshop Pegon di Desa Badean sekaligus menjadi bagian dari upaya membaca kembali sejarah lokal yang kerap terpinggirkan oleh narasi besar sejarah nasional. Selama ini, perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan lebih banyak berpusat pada kota-kota besar maupun peristiwa nasional, sementara desa sering diposisikan hanya sebagai pelengkap.

Padahal, banyak desa di Indonesia menyimpan jejak panjang perkembangan budaya dan tradisi literasi masyarakat Nusantara. Desa Badean menjadi salah satu contoh ruang lokal yang memiliki potensi besar untuk dikaji kembali sebagai bagian dari perjalanan sejarah kebudayaan Indonesia.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pegiat budaya, mahasiswa sejarah, masyarakat umum, hingga instansi pemerintah seperti Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar). Keterlibatan lintas elemen dinilai penting agar pelestarian budaya tidak berjalan secara parsial.

Warisan intelektual seperti Pegon membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, komunitas, akademisi, dan pemerintah. Dengan demikian, proses pewarisan budaya dapat berlangsung secara berkelanjutan di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.

Selain itu, workshop turut berkolaborasi dengan Yayasan Kulit Pohon dan Yayasan Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya. Kolaborasi antarlembaga tersebut menunjukkan bahwa gerakan pelestarian budaya saat ini membutuhkan jejaring yang kuat agar kegiatan kebudayaan tidak berhenti pada dokumentasi semata.

Penyelenggara menilai, kerja-kerja kebudayaan perlu menghadirkan ruang edukasi sekaligus keterlibatan publik secara langsung. Hal itu dinilai penting karena di era digital saat ini, masyarakat semakin dekat dengan teknologi modern, sementara tradisi literasi lama perlahan mulai ditinggalkan.

Kondisi tersebut membuat penggunaan aksara Pegon semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ada upaya pengenalan kembali kepada masyarakat, aksara tersebut dikhawatirkan hanya akan dikenal sebagai bagian sejarah tanpa dipahami makna maupun konteks sosialnya.

Melalui workshop ini, masyarakat diajak memahami bahwa warisan budaya tidak selalu berbentuk bangunan bersejarah atau artefak fisik. Pengetahuan, tradisi intelektual, serta sistem literasi masyarakat masa lalu juga menjadi bagian penting dari kebudayaan yang perlu dijaga bersama.

Pegon dinilai sebagai salah satu bukti kemampuan masyarakat Nusantara dalam membangun tradisi literasi dan pengetahuan pada masanya. Di dalam aksara tersebut tersimpan nilai, pengalaman sosial, hingga cara pandang masyarakat terdahulu terhadap kehidupan.

“Ketika masyarakat mulai kembali mengenali Pegon, maka sesungguhnya masyarakat sedang berupaya membaca kembali dirinya sendiri sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara,” ujar Achmadana.

Lebih jauh, kegiatan “Lereng Selatan Gunung Hyang: Peradaban Kuno Desa Badean Kabupaten Jember” diharapkan mampu mendorong tumbuhnya perhatian generasi muda terhadap sejarah dan budaya lokal di daerahnya sendiri. Workshop Pegon dipandang sebagai pintu masuk untuk mempertemukan masyarakat dengan warisan intelektual yang selama ini terasa jauh, padahal dekat dengan kehidupan sosial masyarakat.

Dari lereng selatan Gunung Hyang, upaya merawat warisan intelektual itu kembali disuarakan. Desa Badean tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan workshop, tetapi juga ruang pertemuan antara sejarah, kebudayaan, dan harapan untuk menjaga ingatan peradaban masyarakat lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *