Ketika Azan Bergema di Lereng Bromo: Jejak Islamisasi dan Harmoni di Kampung Qur’an Tengger

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Di ketinggian lebih dari seribu meter di atas permukaan laut, udara dingin Gunung Bromo berembus tanpa henti. Kabut turun perlahan menutupi lereng, sementara hamparan pasir kelabu membentang di antara bukit-bukit sunyi. Di lanskap yang selama ini dikenal sebagai pusat budaya Hindu Tengger itu, tersimpan sebuah kisah panjang tentang iman, identitas, dan toleransi yang tumbuh dalam diam.

Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mungkin bukan nama yang sering muncul dalam percakapan nasional. Popularitas kawasan Bromo lebih banyak bertumpu pada panorama matahari terbit dan ritual adat masyarakat Tengger yang kerap menjadi magnet wisata. Namun, di balik citra wisata tersebut, Wonokerto menyimpan cerita sosial dan religius yang menarik untuk dibaca lebih dalam.

Bacaan Lainnya

Di desa inilah berdiri sebuah komunitas yang kini dikenal sebagai Kampung Qur’an Tengger, sebuah kantong masyarakat Muslim yang hidup di tengah kawasan yang selama berabad-abad identik dengan tradisi Hindu Tengger. Kehadiran komunitas ini bukan hanya menandai perubahan sosial di pegunungan Bromo, tetapi juga memperlihatkan bagaimana proses islamisasi dapat berlangsung secara damai tanpa menghapus akar budaya masyarakat setempat.

Tengger dan Identitas yang Bertahan

Untuk memahami makna kehadiran Kampung Qur’an Tengger, penting melihat kembali sejarah masyarakat Tengger itu sendiri. Secara historis, masyarakat Tengger diyakini sebagai keturunan Kerajaan Majapahit. Ketika gelombang islamisasi menyebar di Pulau Jawa pada abad ke-14 hingga ke-16 melalui jalur perdagangan dan dakwah para ulama, sebagian masyarakat Hindu-Buddha di dataran rendah mulai memeluk Islam.

Sebagian lainnya memilih bertahan dengan keyakinan leluhur. Ada yang menuju Bali, ada pula yang naik ke kawasan pegunungan dan menetap di wilayah sekitar Bromo. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai Suku Tengger.

Selama ratusan tahun, masyarakat Tengger berhasil menjaga tradisi mereka. Ritual Yadnya Kasada, upacara Unan-Unan, hingga peran dukun pandita sebagai pemimpin spiritual tetap dipertahankan dan diwariskan lintas generasi. Praktik keagamaan mereka kerap disebut sebagai bentuk “Hindu Jawa Kuno”, yakni perpaduan antara unsur Hindu, budaya Jawa, dan tradisi lokal yang berkembang khas di kawasan pegunungan.

Namun sejarah tidak pernah benar-benar berhenti. Arus perubahan sosial perlahan turut menyentuh kawasan Tengger, termasuk dalam hal keyakinan dan praktik keagamaan masyarakatnya.

Islam Datang Lewat Kehidupan Sehari-hari

Masuknya Islam ke wilayah Tengger tidak berlangsung melalui penaklukan ataupun konflik terbuka. Prosesnya berjalan perlahan, melalui hubungan sosial yang tumbuh secara alami di tengah kehidupan masyarakat.

Sejumlah penelitian akademik menunjukkan bahwa islamisasi di kawasan Tengger memiliki jalur yang berbeda-beda di tiap wilayah. Di kawasan Sukapura, tempat Desa Wonokerto berada, Islam banyak dibawa oleh para pendatang, terutama pekerja asal Madura yang datang untuk mencari penghidupan. Interaksi sosial yang intens antara pendatang dan masyarakat lokal kemudian melahirkan perkawinan campur. Dari hubungan keluarga inilah Islam mulai dikenal dan diterima sebagian warga Tengger.

Di wilayah lain seperti Tengger Surorowo, Pasuruan, proses islamisasi juga berkembang melalui pernikahan antarwarga Tengger sendiri. Ada pula jalur pendidikan yang berperan cukup besar. Guru-guru yang datang ke pelosok pegunungan tidak hanya mengajarkan baca tulis, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat setempat.

Perubahan itu berlangsung perlahan. Tidak ada gejolak besar, tidak ada benturan terbuka. Islam hadir melalui relasi sosial yang sederhana, melalui keluarga, pendidikan, persahabatan, dan keseharian warga.

Mushalla Kecil yang Menjadi Titik Awal

Tonggak penting perkembangan Islam di Wonokerto bermula dari berdirinya sebuah mushalla sederhana di Dusun Krajan sekitar tahun 2010 hingga 2011. Mushalla itu diberi nama Al-Ikhlas Wal Barokah.

Bangunan tersebut berdiri di atas tanah wakaf milik Sumarjono, seorang warga Tengger yang memutuskan memeluk Islam. Keputusan itu bukan sekadar perubahan keyakinan pribadi, melainkan juga bentuk keberanian sosial di tengah lingkungan yang mayoritas memegang tradisi Hindu Tengger.

Mushalla itu dibangun sangat sederhana. Ukurannya hanya sekitar enam kali enam meter, dengan dinding kayu jati dan tiang dari kayu cemara Bromo. Namun justru pada kesederhanaannya tersimpan simbol penting tentang perjumpaan budaya dan agama.

Di bagian dinding mushalla terdapat ukiran khas Tengger yang memperlihatkan bahwa identitas budaya tidak harus hilang ketika seseorang memeluk agama baru. Islam dan budaya lokal tidak ditempatkan sebagai dua hal yang saling meniadakan.

Sumarjono kini telah meninggal dunia. Akan tetapi, mushalla yang ia dirikan tetap berdiri dan menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Muslim Tengger hingga hari ini.

Sejak 2014, seorang ustadz bernama Muhammad Muhibin, alumnus Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, menetap di kawasan tersebut untuk membina masyarakat Muslim Tengger. Ia mengajar membaca Al-Qur’an, mendampingi anak-anak belajar ibadah, serta menjadi penghubung antara dakwah Islam dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Anak-anak datang belajar mengaji melewati jalan berbatu dan udara dingin pegunungan. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, aktivitas sederhana itu menjadi bagian penting dari tumbuhnya komunitas Muslim di lereng Bromo.

Kampung Qur’an dan Identitas Baru

Penyebutan Kampung Qur’an bagi Desa Wonokerto bukan sekadar julukan simbolik. Nama itu lahir dari perkembangan nyata aktivitas keagamaan masyarakat Muslim di sana.

Sugeng, salah satu tokoh masyarakat Tengger di Wonokerto, menyebut antusiasme warga dalam mempelajari Al-Qur’an terus meningkat sejak mushalla berdiri. Desa yang dihuni sekitar 1.500 jiwa dan terbagi ke dalam empat dusun itu kini dikenal sebagai satu-satunya kantong mayoritas Muslim di antara desa-desa Tengger Hindu di Kecamatan Sukapura.

Suasana paling terasa muncul saat Ramadan tiba. Di tengah udara dingin pegunungan, lantunan tadarus Al-Qur’an terdengar dari mushalla kecil di Dusun Krajan. Warga Muslim menjalankan tarawih dan sahur bersama, sementara masyarakat Hindu Tengger di desa sekitar tetap menjalankan aktivitas adat mereka seperti biasa.

Yang menarik, hubungan antarumat justru terlihat sangat cair. Tradisi buka puasa bersama lintas agama beberapa kali digelar sebagai ruang silaturahmi warga. Masyarakat Muslim, Hindu, dan Kristen duduk bersama dalam suasana akrab tanpa sekat yang kaku.

Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan isu intoleransi di berbagai daerah, kehidupan masyarakat di lereng Bromo menghadirkan gambaran berbeda tentang Indonesia.

Toleransi yang Tumbuh dari Tradisi, Bukan Sekadar Slogan

Salah satu hal paling menarik dari kehidupan masyarakat Tengger adalah kuatnya identitas adat yang tetap dipertahankan lintas agama. Warga Muslim Tengger di Wonokerto tetap mengikuti sejumlah tradisi adat bersama masyarakat Hindu.

Mereka tetap terlibat dalam kegiatan sosial desa dan beberapa ritual budaya seperti Unan-Unan sebagai bagian dari identitas kesukuan. Pergantian keyakinan tidak otomatis memutus hubungan budaya dan kekerabatan yang sudah terbangun selama ratusan tahun.

Ustadz Muhammad Muhibin menegaskan bahwa hubungan antarumat beragama di kawasan tersebut berjalan harmonis. Menurutnya, masyarakat Muslim maupun Hindu hidup berdampingan dan saling menghormati tanpa sejarah konflik yang dipicu perbedaan keyakinan.

“Harmonisasi dan ketenteraman warga Tengger tetap terjaga sampai sekarang. Tidak pernah ada konflik karena perbedaan agama,” ujarnya.

Fenomena ini juga diperkuat oleh sejumlah penelitian akademik. Setyabudi (2022) dalam jurnal Dynamics of Tolerance of Religion and Culture of the Tengger Ngadas Community menyebut masyarakat Tengger memiliki kemampuan adaptasi budaya yang sangat kuat. Perubahan agama tidak serta-merta menghancurkan ikatan sosial dan adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Peneliti lain, Rudi Setiawan (2023), dalam kajiannya mengenai toleransi beragama di kawasan Bromo, menyoroti pentingnya peran tokoh adat dan tokoh agama dalam menjaga keharmonisan masyarakat multikultural di Tengger.

Islam Rahmatan Lil Alamin di Kaki Bromo

Pendekatan dakwah yang berkembang di kawasan Tengger juga memiliki karakter yang berbeda. Para dai yang datang ke wilayah ini tidak bergerak dengan pendekatan konfrontatif atau memusuhi budaya lokal. Dakwah dilakukan melalui pendekatan sosial yang lembut dan menghormati tradisi masyarakat setempat.

Ustadz Muhibin mengaku selalu menempatkan harmoni sosial sebagai bagian penting dalam dakwahnya. Baginya, masyarakat harus terlebih dahulu melihat Islam sebagai agama yang membawa kebaikan dan ketenteraman.

“Saya terus menjaga keharmonisan antarumat beragama agar Islam dikenal sebagai agama yang baik dan membawa rahmat,” katanya.

Selama beberapa tahun mendampingi masyarakat di Wonokerto, ia mengaku ada warga yang akhirnya memilih memeluk Islam atas kesadaran pribadi. Jumlahnya memang tidak besar. Namun di tengah komunitas adat yang telah bertahan ratusan tahun, perubahan keyakinan itu memiliki makna sosial yang cukup dalam.

Islamisasi di Tengger memperlihatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari tekanan atau dominasi. Ia bisa tumbuh dari kedekatan sosial, rasa percaya, dan hubungan kemanusiaan yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari.

Lereng Bromo dan Potret Indonesia

Secara geografis, Desa Wonokerto berada di kawasan yang relatif terisolasi. Desa ini diapit oleh Ngadas dan Ngadirejo yang mayoritas dihuni masyarakat Hindu Tengger. Akses menuju kawasan tersebut tidak mudah, terutama saat cuaca buruk menyelimuti pegunungan.

Namun keterbatasan itu tidak menghentikan tumbuhnya komunitas Muslim Tengger. Tanpa dukungan infrastruktur besar dan tanpa kampanye keagamaan masif, komunitas ini berkembang secara organik dari sebuah mushalla kecil, dari tanah wakaf seorang mualaf, dan dari seorang ustadz yang memilih tinggal di lereng gunung demi mendampingi warga belajar agama.

Kisah Kampung Qur’an Tengger menjadi pengingat bahwa wajah Indonesia sesungguhnya dibangun dari keberagaman yang hidup berdampingan. Di satu sisi, azan berkumandang dari mushalla kecil di lereng Bromo. Di sisi lain, asap sesajen tetap mengepul dalam ritual adat masyarakat Tengger Hindu. Keduanya hadir dalam ruang yang sama tanpa saling meniadakan.

Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas agama dan politik, masyarakat Tengger menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam pidato. Toleransi hidup dalam keseharian, dalam sapaan antarwarga, dalam tradisi yang tetap dirawat bersama, dan dalam kesediaan menghormati keyakinan orang lain tanpa kehilangan identitas sendiri.

Kampung Qur’an Tengger bukan hanya cerita tentang islamisasi di pegunungan Bromo. Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Sebuah kisah kecil dari lereng gunung yang memberi pelajaran besar tentang Indonesia.

Itulah Tengger. Itulah Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *