Sedayu, Krajan.id – Kehadiran mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui KKN Tematik UNS Membangun Desa di Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar, diarahkan untuk memperkuat potensi lokal melalui pemberdayaan masyarakat, edukasi, serta pemanfaatan teknologi digital.
Mengusung tema “Pengembangan Desa Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sedayu”, kegiatan tersebut dilaksanakan oleh sembilan mahasiswa KKN Literasi 123 UNS dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Bapak Anton Subarno, S. Pd., M. Pd., Ph. D.
Kegiatan KKN tersebut membawa judul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Sedayu melalui Program Edukasi, Kesehatan, Pengembangan Karakter Anak, dan Digitalisasi Potensi Desa Menuju Masyarakat yang Mandiri dan Berdaya Saing.”
Program disusun berdasarkan hasil survei, koordinasi, dan wawancara mahasiswa dengan sejumlah unsur di Desa Sedayu. Dari proses tersebut, mahasiswa melihat desa telah memiliki sejumlah modal untuk berkembang. Potensi itu mencakup pertanian, pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, serta kelembagaan masyarakat.
Persoalan yang kemudian menjadi perhatian bukan semata-mata ketiadaan potensi, melainkan belum optimalnya pemanfaatan dan pengenalan potensi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Salah satu contohnya terlihat pada sektor ekonomi. Produk masyarakat dan UMKM di Desa Sedayu dinilai masih membutuhkan dukungan dalam hal promosi dan pemasaran. Pemanfaatan teknologi digital juga masih dapat diperluas untuk membantu pelaku usaha memperkenalkan produknya.
“Potensi tersebut sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh apabila didukung dengan pemasaran yang lebih baik, terutama melalui media digital,” demikian hasil wawancara mahasiswa mengenai kondisi ekonomi Desa Sedayu.
Kondisi tersebut menjadi dasar mahasiswa untuk memasukkan aspek digitalisasi dalam program kerja KKN. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menyasar pelaku UMKM, tetapi juga pemerintah desa sebagai pihak yang diharapkan dapat melanjutkan pengelolaan informasi potensi ekonomi desa.
Menghubungkan Potensi Desa dengan Teknologi
Salah satu program yang dikembangkan adalah web dashboard potensi ekonomi Desa Sedayu. Program ini dikerjakan bersama Pemerintah Desa Sedayu untuk menyediakan data sekaligus informasi mengenai potensi usaha yang terdapat di wilayah desa.
Tahapannya dimulai dari koordinasi dengan pemerintah desa, pendataan pelaku usaha, hingga proses verifikasi informasi. Data yang akan dimuat dalam dashboard meliputi nama usaha, jenis usaha, produk, lokasi, kontak pemilik, foto produk, jam operasional, serta informasi pemesanan dan pembayaran.
Mahasiswa tidak berhenti pada pembuatan sistem. Perangkat desa juga mendapatkan pelatihan dan manual book sebagai panduan pengelolaan.
Langkah tersebut penting karena keberadaan dashboard tidak akan banyak berarti jika data di dalamnya tidak diperbarui. Informasi mengenai UMKM dapat berubah, baik karena munculnya usaha baru, perubahan produk, maupun perubahan kontak dan lokasi usaha.

Untuk jumlah UMKM atau potensi ekonomi yang berhasil dihimpun dalam dashboard, belum tersedia angka pasti dalam data awal yang digunakan. Karena itu, jumlah tersebut tidak dapat disebutkan secara spesifik.
Hal yang sama berlaku terhadap dampak pendampingan digital terhadap omzet. Belum tersedia data yang menunjukkan besaran peningkatan omzet atau transaksi setelah pelaku UMKM mendapatkan pendampingan Google Maps dan QRIS.
Pendampingan Google Maps ditujukan agar lokasi dan informasi usaha lebih mudah ditemukan. Sementara QRIS diperkenalkan sebagai sarana pembayaran non-tunai yang dapat digunakan oleh pelaku usaha.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa lebih menitikberatkan pada peningkatan pemahaman pelaku usaha terhadap teknologi dan perluasan akses informasi. Dampak ekonomi dalam bentuk peningkatan omzet masih membutuhkan pengamatan lebih lanjut.
Potensi Pertanian Menjadi Ruang Belajar
Digitalisasi bukan satu-satunya fokus KKN Tematik UNS di Desa Sedayu. Mahasiswa juga mengembangkan program yang memanfaatkan potensi pertanian desa sebagai media pembelajaran bagi anak-anak.
Melalui Sekolah Tani Cilik, anak-anak dikenalkan dengan praktik budidaya kangkung menggunakan polybag. Metode tersebut dipilih karena sederhana, tidak memerlukan lahan luas, dan memungkinkan anak mengikuti proses pertumbuhan tanaman secara langsung.
Kegiatan ini sekaligus menghubungkan pendidikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai cara bercocok tanam, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pilihan program tersebut juga berkaitan dengan kondisi pertanian Desa Sedayu yang memiliki sejumlah aset dan kelembagaan pendukung.
Desa memiliki mesin pengering jagung berkapasitas 15 ton yang menjadi aset BUMDes. Selain itu, terdapat traktor, mesin pompa, serta peralatan pertanian lainnya. Desa juga memiliki satu Gapoktan dan lima kelompok tani aktif.
Mahasiswa melihat kekuatan tersebut sebagai potensi yang dapat terus dikembangkan. Persoalannya, potensi pertanian tidak cukup hanya tersedia, tetapi juga perlu didukung dengan pengelolaan dan pemasaran yang mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Pendidikan Karakter Jadi Perhatian
Aspek pendidikan dan karakter anak juga mendapat ruang dalam pelaksanaan KKN. Desa Sedayu memiliki tujuh lembaga PAUD dan TK, sehingga kegiatan mahasiswa diarahkan untuk memberikan pengalaman belajar tambahan melalui metode yang lebih interaktif.
Permainan kelompok, praktik langsung, diskusi, kegiatan seni, dan pembelajaran di luar kelas digunakan sebagai bagian dari kegiatan.
Mahasiswa juga mencatat mulai munculnya kenakalan remaja sebagai salah satu persoalan sosial yang perlu diperhatikan. Meski belum berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi dengan menyediakan kegiatan yang positif dan produktif.
Karena belum terdapat data khusus yang mengukur perubahan perilaku peserta setelah program, mahasiswa tidak menyimpulkan adanya perubahan tertentu secara pasti.
Program lebih diarahkan untuk memberikan ruang bagi anak dan generasi muda agar dapat mengembangkan empati, kemampuan bekerja sama, kreativitas, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Selain itu, program KKN juga mencakup sosialisasi kesehatan gigi dan mulut, edukasi literasi keuangan dan gemar menabung, edukasi perlindungan diri anak, serta pengenalan Bahasa Arab dasar bagi anak usia dini.
Tidak Hanya Pertanian
Potensi Desa Sedayu juga tidak terbatas pada pertanian. Di bidang budaya, masyarakat masih menjalankan berbagai kegiatan seperti karawitan, klenengan, campursari, serta tradisi rasulan atau bersih dusun.
Kegiatan budaya tersebut masih mendapat partisipasi masyarakat sehingga menjadi bagian dari aset sosial yang dapat dipertahankan.
Dengan demikian, pendekatan KKN tidak diarahkan untuk menciptakan potensi baru dari luar, melainkan membantu mengidentifikasi dan mengembangkan sumber daya yang telah dimiliki desa.
Sasaran program juga cukup luas. Selain anak-anak sekolah, mahasiswa berinteraksi dengan pemerintah desa, perangkat desa, Karang Taruna, pelaku UMKM, kelompok tani, Gapoktan, PKK, Posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok lansia, BUMDes, serta organisasi kemasyarakatan lainnya.
Sebelum program dilaksanakan, mahasiswa melakukan survei dan komunikasi dengan berbagai pihak. Cara tersebut digunakan untuk memastikan kegiatan yang disusun memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat.
Keberlanjutan Setelah KKN
Persoalan keberlanjutan menjadi salah satu bagian penting dalam program KKN. Mahasiswa menilai tidak semua kegiatan harus berhenti ketika masa pengabdian selesai.
Pendampingan Google Maps dan QRIS serta pengembangan web dashboard dinilai memiliki peluang untuk dilanjutkan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan promosi dan pemasaran UMKM.
Namun, pengelolaan dashboard tetap membutuhkan pihak yang bertanggung jawab. Pemerintah desa perlu menentukan pengelola yang dapat memperbarui data secara berkala sehingga informasi yang tersedia tetap relevan.
Program Sekolah Tani Cilik juga dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan kelompok tani atau Gapoktan sebagai mitra pembelajaran anak-anak.
Menurut mahasiswa, keberlanjutan sebuah program ditentukan oleh beberapa hal, terutama kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat, adanya pihak yang meneruskan, kemudahan pelaksanaan, dan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.
“Program KKN sebaiknya tidak hanya selesai ketika mahasiswa meninggalkan desa, tetapi dapat diteruskan oleh masyarakat dan pemerintah desa,” harap mahsiswa KKN Literasi 123 UNS.
KKN Literasi 123 UNS di Desa Sedayu melibatkan Aldo Juliah Saputro, Faisal Fakhruddin Nazhir, Aditya Alwijaya, Salsabila Nadiva Faicha Putri, Prawesti Dini Sekar Puri, Gala Septio Wamar, Okthia Maharani, Nimas Ayu Winong Nawangsih, dan Sahira Hariozi.
Seluruh kegiatan berada di bawah pendampingan Bapak Anton Subarno, S. Pd., M. Pd., Ph. D sebagai Dosen Pembimbing Lapangan.
Melalui rangkaian program tersebut, KKN Tematik UNS berupaya mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan potensi yang sudah dimiliki Desa Sedayu. Edukasi digunakan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan anak-anak, sedangkan teknologi digital dimanfaatkan untuk membuka peluang promosi yang lebih luas.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desa tidak selalu harus dimulai dengan membangun sesuatu yang baru. Potensi yang telah tersedia dapat menjadi kekuatan apabila dikelola, diperkenalkan, dan dikembangkan secara tepat dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari prosesnya.





