Sragen, Krajan.id – Pemahaman mengenai kehidupan bernegara tidak selalu harus dimulai dari pembelajaran politik yang kompleks. Pengenalan mengenai lembaga negara dan sistem pemerintahan dapat diberikan sejak sekolah dasar melalui materi yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut dilakukan Dzikri Maulidi Amin, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) 2026 dari Program Studi Ilmu Pemerintahan. Ia melaksanakan program Sosialisasi Pendidikan Kewarganegaraan Mengenai Sistem Pemerintahan bagi siswa SDN Jirapan 4, Desa Jirapan, Sragen, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan itu diarahkan untuk memperkenalkan pemahaman dasar mengenai sistem pemerintahan sekaligus menumbuhkan kesadaran siswa terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara sejak usia dini.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan peran, tugas, dan fungsi lembaga eksekutif, legislatif, serta yudikatif. Ketiga istilah tersebut diperkenalkan dengan bahasa yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar.
Bagi anak-anak, istilah eksekutif, legislatif, dan yudikatif dapat terdengar asing. Karena itu, penyampaian materi tidak dilakukan semata-mata melalui penjelasan teoritis. Mahasiswa KKN menggunakan pendekatan interaktif agar siswa dapat memahami konsep pemerintahan tanpa merasa terbebani oleh istilah ketatanegaraan.
Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana dengan mengaitkan fungsi lembaga negara pada hal-hal yang dapat ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Cara tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena tujuan utama program bukan membuat siswa menghafal istilah, melainkan membantu mereka mengenali konsep dasar mengenai bagaimana negara dan pemerintahan bekerja.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN berperan sebagai pemateri sekaligus pendamping siswa. Kegiatan dikemas melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, serta kuis edukatif.

Penggunaan media visual juga menjadi bagian dari metode pembelajaran. Mahasiswa memanfaatkan poster edukasi mengenai lembaga negara untuk membantu siswa memahami informasi secara lebih ringkas dan menarik.
Poster tersebut digunakan sebagai alat bantu untuk menjelaskan fungsi masing-masing lembaga. Dengan informasi yang disajikan secara visual, siswa memiliki media yang dapat membantu mereka menghubungkan materi dengan pembahasan yang diberikan selama kegiatan.
Selain mendengarkan penjelasan, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Pola pembelajaran dua arah itu membuat siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi ikut terlibat dalam proses memahami materi.
Kuis yang diberikan setelah penyampaian materi juga menjadi bagian dari kegiatan. Melalui kuis, siswa dapat mengingat kembali informasi yang telah disampaikan sekaligus menguji pemahaman mereka mengenai fungsi lembaga negara.
Antusiasme siswa menjadi salah satu bagian yang terlihat selama kegiatan berlangsung. Rasa ingin tahu anak-anak menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan materi dengan pendekatan yang lebih komunikatif.
Pengenalan pendidikan kewarganegaraan sejak sekolah dasar dinilai dapat menjadi langkah awal untuk membangun pemahaman mengenai kehidupan bernegara. Siswa tidak dituntut memahami sistem pemerintahan secara menyeluruh, tetapi dapat terlebih dahulu mengenali bahwa dalam sebuah negara terdapat lembaga dengan tugas dan kewenangan yang berbeda.
Pemahaman dasar tersebut penting karena kehidupan bermasyarakat tidak terlepas dari aturan, tanggung jawab, serta peran berbagai pihak dalam menjalankan pemerintahan. Dengan mengenal konsep tersebut sejak dini, siswa memiliki dasar untuk memahami materi kewarganegaraan yang lebih kompleks ketika berada pada jenjang pendidikan berikutnya.
Kegiatan di SDN Jirapan 4 juga menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai pemerintahan dapat disampaikan melalui berbagai cara. Buku pelajaran tetap menjadi salah satu sumber pengetahuan, tetapi materi kewarganegaraan juga dapat diperkenalkan melalui diskusi, permainan edukatif, media visual, dan interaksi langsung.
Pendekatan semacam itu menjadi relevan bagi siswa sekolah dasar yang masih berada dalam tahap mengenal berbagai konsep sosial di sekitarnya. Materi yang disampaikan secara kontekstual memungkinkan siswa memahami gagasan yang sebelumnya terasa abstrak.
Bagi mahasiswa KKN, program tersebut sekaligus menjadi pengalaman dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan karakter dan kemampuan siswa.
Kemampuan memilih bahasa, menentukan contoh, serta membangun interaksi menjadi bagian dari proses pelaksanaan kegiatan. Hal itu menunjukkan bahwa transfer pengetahuan kepada anak-anak membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan penyampaian materi kepada orang dewasa.
Program yang dilaksanakan Dzikri tersebut mengambil ruang yang sederhana, yakni lingkungan sekolah dasar, untuk memperkenalkan konsep dasar sistem pemerintahan. Dari ruang belajar itu, siswa diajak mengenali keberadaan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta memahami bahwa masing-masing memiliki fungsi dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara.
Pengenalan tersebut bukan dimaksudkan untuk mendorong anak-anak terlibat dalam politik praktis. Sebaliknya, materi diarahkan pada pembentukan pengetahuan dasar mengenai kewarganegaraan dan kehidupan bernegara.
Kesadaran sebagai warga negara memang tidak terbentuk secara instan. Pemahaman mengenai aturan, tanggung jawab, serta kehidupan demokratis berkembang melalui proses pendidikan dan pengalaman yang berlangsung secara bertahap.
Karena itu, pengenalan lembaga negara sejak sekolah dasar dapat menjadi salah satu bagian dari proses pendidikan kewarganegaraan. Anak-anak dapat mulai memahami bahwa negara memiliki sistem dan lembaga dengan fungsi yang berbeda, sementara masyarakat memiliki peran dalam kehidupan bersama.
Melalui diskusi, tanya jawab, kuis, dan poster edukasi, mahasiswa KKN berupaya membuat materi pemerintahan lebih dekat dengan dunia anak. Pendekatan tersebut membuat pembahasan mengenai lembaga negara tidak berhenti pada istilah, tetapi diarahkan pada pemahaman sederhana yang dapat mereka ingat.
Kegiatan di SDN Jirapan 4 akhirnya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kehidupan bernegara kepada generasi muda melalui lingkungan pendidikan. Pengetahuan yang diberikan masih bersifat dasar, tetapi dapat menjadi pijakan bagi siswa untuk mengenal kewarganegaraan secara lebih luas pada masa mendatang.





