Boyolali, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 41 mengajak siswa MTsN 15 Boyolali Kampus 1 mengenal teknik pewarnaan ikat celup atau tie dye. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan seni kriya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana hasil kreativitas dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Kegiatan berlangsung pada Sabtu (25/7/2026), pukul 07.00-09.00 WIB. Program bertajuk “Pengenalan Teknik Pewarnaan Ikat Celup (Tie Dye) sebagai Upaya Pengembangan Keterampilan Seni Remaja” itu menyasar siswa kelas 8, mulai dari kelas 8A hingga 8D.
Para mahasiswa KKN memberikan materi sekaligus pendampingan praktik di masing-masing kelas. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai teknik tie dye, tetapi langsung membuat karya menggunakan bahan-bahan sederhana.
Dari Kain Polos Menjadi Motif Kreatif
Pengenalan dimulai dengan penjelasan mengenai teknik dasar pewarnaan ikat celup. Mahasiswa kemudian mendemonstrasikan proses pembuatan tie dye sekaligus memperkenalkan cara membuat gantungan kunci menggunakan carabiner yang nantinya dipadukan dengan kain hasil pewarnaan.
Dalam praktik tersebut, siswa menggunakan kain mori polos berukuran 35 × 35 sentimeter, karet gelang, dan pewarna remasol. Mereka dapat mengikuti pola yang telah diperkenalkan mahasiswa maupun membuat pola sendiri sesuai kreativitas.
Kain terlebih dahulu dilipat sesuai pola yang diinginkan. Setelah itu, bagian tertentu diikat menggunakan karet gelang hingga cukup kuat. Ikatan tersebut berfungsi membatasi bagian kain yang terkena pewarna sehingga menghasilkan motif ketika proses pencelupan dilakukan.

Tahap pewarnaan menjadi ruang bagi siswa untuk bereksperimen. Mereka dapat mencoba perpaduan warna dan melihat secara langsung perubahan kain polos menjadi kain bermotif.
Setelah pewarnaan selesai, ikatan pada kain dilepas untuk memperlihatkan pola yang terbentuk. Kain kemudian diberi soda ash sebagai bahan pengikat warna agar hasil pewarnaan lebih tahan dan tidak mudah luntur.
Kain yang telah melalui proses tersebut selanjutnya dijemur hingga kering. Setelah itu, kain tidak berhenti sebagai hasil karya seni, tetapi diolah kembali menjadi gantungan kunci menggunakan carabiner.

Mengenalkan Nilai Ekonomi dari Karya Siswa
Pengolahan kain menjadi gantungan kunci menjadi bagian yang membedakan kegiatan tersebut dari sekadar praktik seni. Siswa diperkenalkan pada gagasan bahwa sebuah karya dapat dikembangkan menjadi barang yang memiliki fungsi sekaligus nilai ekonomi.
Pendekatan tersebut memberikan pengalaman kepada siswa untuk melihat proses kreatif secara lebih utuh. Mereka belajar mulai dari menentukan pola, memilih warna, melakukan pewarnaan, hingga mengolah hasilnya menjadi produk sederhana.
Kegiatan itu juga menjadi pengenalan awal terhadap kewirausahaan. Keterampilan membuat produk kreatif dapat menjadi salah satu bekal bagi remaja untuk melihat peluang dari sesuatu yang mereka kerjakan sendiri.
Melalui praktik tersebut, siswa tidak hanya dituntut menghasilkan karya yang menarik. Mereka juga belajar mengenai ketelitian, kesabaran, keberanian mencoba, serta kemampuan mengambil keputusan dalam menentukan pola dan kombinasi warna.
Pendekatan pembelajaran berbasis praktik seperti ini memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Proses tersebut memungkinkan siswa menemukan hasil yang berbeda antara satu karya dan karya lainnya, sesuai dengan pilihan pola dan warna masing-masing.
Tie Dye sebagai Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Program KKN UNS Kelompok 41 tersebut juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas. Penguatan pendidikan dalam kegiatan ini dilakukan melalui pembelajaran berbasis keterampilan dan kreativitas.
Kegiatan tidak hanya menempatkan siswa sebagai penerima materi. Mereka dilibatkan secara langsung dalam setiap tahapan pembuatan produk. Dengan cara tersebut, proses belajar berlangsung melalui praktik dan eksplorasi.
Pengenalan keterampilan seni juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan gagasan secara mandiri. Kebebasan menentukan motif membuat setiap siswa dapat menghasilkan karya dengan karakter yang berbeda.
Selain aspek seni, pengolahan kain menjadi gantungan kunci memperkenalkan hubungan antara kreativitas dan pemanfaatan produk. Siswa mendapat gambaran bahwa keterampilan yang tampak sederhana dapat dikembangkan menjadi barang yang dapat digunakan.
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 41 berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman baru bagi siswa MTsN 15 Boyolali. Pengalaman membuat tie dye diharapkan mendorong ketertarikan siswa terhadap seni, kerajinan, serta pengembangan produk kreatif.
Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat KKN UNS Kelompok 41 di Desa Dibal, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Kegiatan berada di bawah bimbingan dosen pembimbing Dr. techn. Ir. Sholihin As’ad, M.T., IPU.
Kegiatan dilaksanakan oleh 12 mahasiswa, yakni Zurafirdha Prahatsari, Alfiyah Nurtiyas Ningrum, Yani Mulyani, Thalita Kusuma S., Ranto, Jasmine Sausan A., Miftahul Farida, Valerie Crystal M.W.P., Razaan Putra N., Zaqia Zalsa Adriqna, Argya Rahma Paramita, dan Fitria Ayu Puspita. Ranto dan Razaan Putra N. bertindak sebagai ketua pelaksana kegiatan.





