Saparan di Dusun Kintelan, Tradisi Lokal yang Menyatukan Warga dan Mahasiswa KKN

Dokumentasi Penampilan Tari Kuda Lumping. (Dok. Pribadi/KKN UMBY 82)
Dokumentasi Penampilan Tari Kuda Lumping. (Dok. Pribadi/KKN UMBY 82)

Kaponan, Krajan.id – Tradisi Saparan di Dusun Kintelan, Desa Kaponan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelestarian budaya lokal sekaligus mempertemukan mahasiswa dengan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 82 turut terlibat dalam pelaksanaan pentas seni tahunan untuk memeriahkan Saparan di Dusun Kintelan. Keterlibatan mahasiswa berlangsung sejak persiapan hingga acara puncak.

Bacaan Lainnya

Dusun Kintelan merupakan salah satu wilayah di Desa Kaponan yang masih mempertahankan sejumlah tradisi dan kesenian masyarakat. Pelaksanaan Saparan menjadi salah satu momentum bagi warga untuk merawat tradisi tersebut sekaligus mempererat kebersamaan.

Persiapan dimulai pada Senin, 27 Juli 2026. Warga bergotong royong membersihkan area sungai yang akan digunakan sebagai lokasi ritual Sadranan pada 29 Juli 2026. Kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam mempersiapkan rangkaian tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga.

Sehari berikutnya, Selasa, 28 Juli 2026, aktivitas warga berlanjut. Sejumlah warga menyiapkan makanan dan jamuan untuk para tamu yang akan menghadiri puncak rangkaian Saparan.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut hingga puncak acara pada Kamis, 30 Juli 2026. Pada malam tersebut, masyarakat Dusun Kintelan menggelar pentas seni tradisional sebagai bagian dari perayaan Saparan.

Dokumentasi Penampilan Tari Topeng Ireng. (Dok. Pribadi/KKN UMBY 82)
Dokumentasi Penampilan Tari Topeng Ireng. (Dok. Pribadi/KKN UMBY 82)

Tiga kesenian ditampilkan dalam pentas tersebut, yakni Warok Kecil, Topeng Ireng, dan Kuda Lumping. Warok Kecil merupakan tarian tradisional yang dibawakan anak-anak dengan menirukan gaya seorang warok.

Sementara itu, Topeng Ireng merupakan kesenian tradisional yang berkembang di Jawa Tengah, khususnya Magelang, dan dalam pertunjukan tersebut diperankan oleh perempuan. Adapun Kuda Lumping ditampilkan dengan menggunakan properti berbentuk kuda tiruan dan atraksi spiritual yang dalam pertunjukannya dapat melibatkan kondisi kesurupan pada penari.

Pertunjukan berlangsung dengan antusiasme masyarakat. Tepuk tangan penonton terdengar sepanjang acara yang sekaligus menjadi bagian dari kemeriahan Saparan di Dusun Kintelan.

Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UMBY Kelompok 82 mendapat kepercayaan untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan acara. Mahasiswa diberi amanah menyusun susunan acara, merancang desain panggung, serta menjadi pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) sejak awal hingga akhir kegiatan.

Bagi mahasiswa, keterlibatan tersebut menjadi pengalaman penting dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Kelompok 82 menjadi kelompok mahasiswa KKN yang pertama kali terlibat dalam pelaksanaan acara tahunan Saparan di dusun tersebut.

Keterlibatan itu juga membuat mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian melalui program yang telah disiapkan, tetapi turut mengikuti proses sosial dan budaya yang berlangsung di tengah masyarakat.

“Keterlibatan ini tentu menjadi awal yang baik dalam memulai interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat. Kelompok kami menjadi yang pertama kali terlibat dalam acara tahunan ini,” demikian disampaikan dalam rilis kegiatan.

Pengalaman mengikuti rangkaian Saparan sejak persiapan hingga pelaksanaan memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kehidupan masyarakat tidak terlepas dari tradisi yang diwariskan dan terus dirawat bersama.

Dokumentasi Penampilan Tari Warok Kecil. (Dok. Pribadi/KKN UMBY 82)
Dokumentasi Penampilan Tari Warok Kecil. (Dok. Pribadi/KKN UMBY 82)

Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa pengabdian masyarakat dapat dilakukan melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas warga. Mahasiswa berinteraksi, membantu persiapan, sekaligus menjadi bagian dari kegiatan budaya yang telah berlangsung di lingkungan masyarakat.

“Melalui kehangatan yang tercipta ketika kegiatan berlangsung, proses pengabdian kami menemukan makna terbaiknya. Ini menjadi jembatan yang merobohkan sekat antara mahasiswa dan masyarakat,” demikian bunyi rilis tersebut.

Rangkaian Saparan di Dusun Kintelan pada akhirnya tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni. Di balik pentas tersebut terdapat gotong royong, persiapan warga, ritual, serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberadaan kesenian tradisional.

Bagi mahasiswa KKN UMBY Kelompok 82, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar di luar ruang akademik. Tradisi Saparan mempertemukan mahasiswa dengan budaya masyarakat secara langsung sekaligus membuka ruang untuk memahami nilai kebersamaan yang hidup di Dusun Kintelan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *