Srowolan, Krajan.id – Penggunaan smartphone, media sosial, dan game online semakin dekat dengan keseharian anak-anak. Di satu sisi, teknologi membuka ruang belajar dan berinteraksi yang lebih luas. Namun, di sisi lain, paparan dunia digital juga membawa tantangan, salah satunya kecenderungan mengikuti tren atau aktivitas daring karena takut tertinggal dari lingkungan pertemanan.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam program Cyber Smart Kids: Bijak Berteknologi di Era Digital yang digelar mahasiswa KKN-PPM Kelompok 105 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) di SD Negeri Srowolan, Sleman.
Sebanyak 74 siswa mengikuti kegiatan yang dirancang untuk mengenalkan penggunaan teknologi secara lebih bijak. Alih-alih hanya mengajarkan cara menggunakan perangkat digital, mahasiswa mengajak siswa memahami konsekuensi dari kebiasaan mereka saat beraktivitas di ruang digital.
Program tersebut disusun berdasarkan hasil observasi dan diskusi mahasiswa dengan kepala sekolah serta guru SD Negeri Srowolan. Dari proses itu, materi kegiatan disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan agenda sekolah, terutama terkait pemahaman siswa terhadap penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi siswa sekolah dasar, kedekatan dengan teknologi menjadi tantangan tersendiri. Mereka berada dalam fase ingin tahu, mulai aktif membangun relasi sosial, sekaligus semakin sering berhadapan dengan berbagai konten digital. Karena itu, kemampuan menggunakan perangkat perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memilih, menyaring, dan mempertimbangkan dampak dari aktivitas digital.
Salah satu materi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah Fear of Missing Out (FoMO), yakni perasaan takut tertinggal terhadap sesuatu yang sedang dilakukan atau diikuti orang lain.
Konsep FoMO diperkenalkan melalui situasi yang mudah ditemukan siswa. Misalnya, keinginan mengikuti tren TikTok, mencoba challenge yang sedang ramai, atau terus bermain game agar tidak tertinggal dari teman.
Melalui contoh tersebut, siswa diajak memahami bahwa keinginan mengetahui tren terbaru atau mengikuti aktivitas yang dilakukan teman merupakan hal yang wajar. Namun, keinginan itu tetap perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan dampaknya bagi diri sendiri.

Cyber Smart Kids: Bijak Berteknologi di Era Digital bersama Mahasiswa KKN PPM kelompok 105. Jumat, 31/07/2026. (Doc. Pribadi)
Kegiatan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi. Mahasiswa menggunakan kombinasi ceramah, tanya jawab, studi kasus sederhana, diskusi, sharing session, serta permainan edukatif.
Pendekatan tersebut membuat siswa memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengenali berbagai situasi yang mungkin mereka alami ketika menggunakan teknologi. Mereka juga diajak menentukan pilihan atas contoh-contoh persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari 74 siswa yang mengikuti kegiatan, sebanyak 63 siswa tercatat terlibat aktif. Angka tersebut setara dengan 85,14 persen dari keseluruhan peserta.
Jika dilihat berdasarkan jenjang kelas, tingkat partisipasi aktif tertinggi tercatat pada kelas VI, yakni 100 persen. Sementara itu, partisipasi terendah berada di kelas I dengan 66,67 persen.
Data tersebut menjadi salah satu indikator keterlibatan siswa selama program berlangsung. Namun, keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari jumlah siswa yang aktif mengikuti rangkaian kegiatan.
Evaluasi juga dilakukan melalui Manipulation Check yang diisi oleh guru pendamping. Penilaian tersebut mencakup sejumlah aspek, antara lain kejelasan materi, kesesuaian contoh dengan kehidupan siswa, penggunaan media, kemampuan fasilitator mengondisikan kelas, antusiasme siswa, pemahaman terhadap materi, serta ketercapaian tujuan program.
Guru pendamping memberikan penilaian positif terhadap komponen-komponen pelaksanaan tersebut. Sesi permainan menjadi salah satu bagian yang dinilai paling menarik bagi siswa karena mendorong keterlibatan mereka selama kegiatan.
Program Cyber Smart Kids sekaligus menunjukkan bahwa literasi digital untuk anak tidak selalu harus dimulai dari materi yang rumit. Persoalan yang sederhana dan dekat dengan keseharian—seperti kebiasaan bermain game, mengikuti tren media sosial, atau takut tertinggal dari teman—dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan perilaku digital yang lebih sehat.
Bagi mahasiswa KKN-PPM Kelompok 105 UMBY, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membekali siswa menghadapi lingkungan digital yang terus berkembang. Persiapan kegiatan yang dilakukan dalam waktu terbatas tidak menghalangi pelaksanaan program dan interaksi dengan siswa.
Pada akhirnya, literasi digital bagi anak bukan semata-mata persoalan kemampuan mengoperasikan perangkat. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami kapan harus menggunakan teknologi, apa yang layak diikuti, serta bagaimana menjaga diri ketika berada di ruang digital.
Melalui kegiatan ini, siswa SD Negeri Srowolan diajak untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pengguna yang mampu berpikir sebelum mengikuti sesuatu, mempertimbangkan dampaknya, dan memilih aktivitas digital yang baik bagi dirinya.





