Ketika Layar Gawai Menggeser Komunikasi Keluarga, ILM “Sebelum Terlambat” Hadirkan Pesan Reflektif

Poster ILM Sebelum Terlambat
Poster ILM Sebelum Terlambat

Yogyakarta – Ketika perhatian seseorang lebih banyak tertuju pada layar gawai, percakapan di dalam rumah dapat perlahan kehilangan ruang. Persoalan itulah yang diangkat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi AMIKOM Yogyakarta melalui Iklan Layanan Masyarakat (ILM) berjudul “Sebelum Terlambat”.

Film drama pendek berdurasi 1 menit 45 detik tersebut menggambarkan perubahan komunikasi antara anak dan orang tua akibat penggunaan gawai secara berlebihan. Alih-alih menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif, karya ini menyoroti persoalan yang muncul ketika penggunaannya mulai menggeser interaksi langsung dengan keluarga.

Bacaan Lainnya

https://drive.google.com/file/d/1vCMC3ecik2iv4NlZul5VdQNHAbr886Hx/view?usp=drive_link

ILM “Sebelum Terlambat” merupakan karya tugas akhir mahasiswa Ilmu Komunikasi yang dikemas dengan pendekatan dramatis dan emosional. Cerita berpusat pada seorang remaja bernama Bagus yang terlalu larut dalam penggunaan gawai hingga mengabaikan lingkungan di sekitarnya, termasuk ibunya.

Konflik muncul ketika sang ibu membutuhkan perhatian Bagus. Namun, perhatian remaja tersebut masih tertuju pada gawainya. Situasi itu menjadi titik penting dalam cerita karena Bagus dihadapkan pada kesadaran bahwa kehadiran orang tua tidak selalu dapat dianggap sebagai sesuatu yang akan tersedia selamanya.

Pesan tersebut menjadi inti dari karya “Sebelum Terlambat”. Film ini mengajak penonton melihat kembali bagaimana kebiasaan menggunakan gawai dapat memengaruhi kualitas komunikasi dalam keluarga, terutama ketika perangkat digital mulai mengambil alih perhatian dalam interaksi sehari-hari.

Berangkat dari Persoalan Literasi Digital Anak

Pengangkatan isu penggunaan gawai juga memiliki keterkaitan dengan perhatian terhadap literasi digital anak dan perlindungan anak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY memiliki Sistem Informasi Data Anak Jogja Istimewa yang memuat berbagai aspek kehidupan anak.

Aspek tersebut mencakup lingkungan keluarga dan pengasuhan, kesehatan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, hingga perlindungan khusus anak. Data dan perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan anak tersebut menjadi konteks yang relevan dengan isu yang diangkat dalam ILM “Sebelum Terlambat”.

Perhatian terhadap perilaku anak di ruang digital juga terlihat melalui program Capacity Building Forum Anak Daerah (FAD) DIY yang diselenggarakan DP3AP2 DIY pada 17 Mei 2025. Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan anak dari lima kabupaten/kota di DIY.

Salah satu materi yang diberikan dalam kegiatan itu adalah “Bijak Bermedia Digital”. Materi tersebut membahas dampak positif dan negatif media sosial sekaligus mengingatkan anak mengenai pentingnya menjaga keamanan data pribadi ketika beraktivitas di dunia maya.

Konteks tersebut memperlihatkan bahwa persoalan penggunaan teknologi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan perangkat. Anak juga perlu memahami bagaimana teknologi digunakan secara bijak dan bagaimana aktivitas digital dapat berdampak terhadap kehidupan sosial serta hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks keluarga, persoalan itu menjadi semakin dekat. Gawai dapat menjadi sarana komunikasi dan akses informasi, tetapi penggunaan yang tidak terkendali juga berpotensi mengurangi perhatian terhadap komunikasi langsung.

Melalui “Sebelum Terlambat”, persoalan tersebut diterjemahkan ke dalam cerita sederhana tentang hubungan seorang anak dan ibunya. Konflik yang dibangun tidak hanya berbicara tentang durasi penggunaan gawai, tetapi juga tentang perhatian, kehadiran, dan kesempatan berkomunikasi yang bisa terlewat.

Pendekatan Mise en Scène dan 5C’s Cinematography

Dari sisi produksi, sutradara Aditya Surya Saputra menggunakan pendekatan mise en scène dalam mengatur berbagai elemen visual di dalam frame. Setting, properti, pencahayaan, blocking pemain, kostum, dan tata rias digunakan untuk membangun suasana sekaligus membantu menggambarkan kondisi psikologis karakter.

Pendekatan tersebut membuat elemen visual tidak sekadar berfungsi sebagai pelengkap cerita. Penataan ruang dan posisi pemain turut digunakan untuk memperlihatkan hubungan antara Bagus dan ibunya, termasuk jarak emosional yang muncul di antara keduanya.

Aspek sinematografi dalam karya ini mengacu pada konsep 5C’s Cinematography, yakni Camera Angles, Continuity, Cutting, Close-Up, dan Composition.

Camera Angles digunakan untuk menentukan sudut pandang kamera berdasarkan kondisi karakter. Sementara Composition diterapkan melalui penataan pemain dan objek dalam frame untuk memperlihatkan hubungan serta jarak emosional Bagus dengan ibunya.

Teknik Close-Up digunakan untuk menangkap ekspresi karakter, terutama ketika Bagus mulai menyadari kondisi ibunya. Pengambilan gambar tersebut menjadi bagian penting untuk memperkuat ekspresi keterkejutan dan penyesalan yang dialami karakter.

Adapun Continuity digunakan untuk menjaga kesinambungan visual antarepisode adegan. Sementara Cutting diterapkan dalam proses penyuntingan untuk menentukan perpindahan antarshot sekaligus membangun ritme cerita.

Kombinasi pendekatan tersebut digunakan agar pesan mengenai dampak penggunaan gawai tidak disampaikan secara verbal semata. Pesan dibangun melalui situasi, ekspresi, jarak antarkarakter, serta perubahan suasana dalam cerita.

Dikerjakan secara Kolaboratif

Karya tersebut melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi AMIKOM Yogyakarta angkatan 2022. Aditya Surya Saputra bertindak sebagai sutradara, Gangga Ariftha Wimanjaya sebagai cameraman/DOP, dan Vandesar Baskara Jatti sebagai editor. Ketiganya berada di bawah bimbingan Sheila Lestari Giza Pudrianisa, M.I.Kom.

Sebagai sutradara, Aditya bertanggung jawab mengarahkan cerita, akting pemain, blocking, serta konsep visual. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan Gangga ke dalam bahasa visual melalui pengaturan sudut kamera, komposisi, dan pengambilan gambar.

Sementara itu, Vandesar menyusun hasil rekaman menjadi rangkaian cerita yang utuh. Tahap pascaproduksi mencakup pengaturan pacing, color grading, sound design, dan scoring untuk mendukung suasana emosional film.

Pembagian peran tersebut menunjukkan bahwa pesan sosial dalam sebuah ILM tidak hanya dibangun melalui gagasan cerita. Cara cerita divisualisasikan dan disunting juga menentukan bagaimana pesan diterima penonton.

Mengajak Keluarga Lebih Bijak Menggunakan Gawai

Melalui “Sebelum Terlambat”, tim produksi mengajak anak, remaja, dan orang tua untuk lebih bijak menggunakan teknologi digital. Pesan yang dibangun tidak berhenti pada ajakan mengurangi penggunaan gawai, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi langsung di lingkungan keluarga.

Karya tersebut menempatkan keluarga sebagai ruang pertama tempat anak membangun komunikasi dan hubungan interpersonal. Karena itu, ketika perhatian terhadap layar mulai mengalahkan perhatian terhadap orang di sekitar, persoalan yang muncul bukan sekadar soal penggunaan teknologi, melainkan juga soal kualitas hubungan.

ILM ini diharapkan dapat menjadi media edukasi audiovisual yang meningkatkan kesadaran mengenai penggunaan gawai secara berlebihan sekaligus mendorong terciptanya komunikasi keluarga yang lebih sehat.

Pesan yang disampaikan sederhana: jangan sampai kesibukan di depan layar membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berbicara, mendengarkan, dan hadir bagi orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *