Magelang, Krajan.id – Majalah dinding (mading) di sekolah selama ini identik dengan ruang untuk memajang karya siswa. Namun, mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (Untidar) mengembangkan fungsi tersebut menjadi media untuk menyampaikan informasi mengenai kesehatan sekaligus mendorong siswa menghasilkan karya literasi.
Program mading bertema “Sekolah Sehat” itu digelar di SMA Muhammadiyah 2 Kota Magelang (SMA Mudatama) pada 3–21 Agustus 2026. Kegiatan melibatkan siswa dari setiap kelas untuk menyusun dan menampilkan beragam karya yang berkaitan dengan kesehatan fisik, kesehatan mental, pencegahan penyalahgunaan narkoba, hingga etika pergaulan.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya ditempatkan sebagai pembaca. Mereka juga terlibat dalam proses memilih gagasan, mengolah informasi, membuat karya, hingga menyajikannya dalam bentuk yang dapat dinikmati warga sekolah.
Tema “Sekolah Sehat” dibagi menjadi empat subtema, yakni Gizi dan Pola Hidup Sehat, No Drug, Kesehatan Mental, serta Etika Pergaulan Positif. Keempat subtema tersebut menjadi landasan bagi siswa dalam menentukan informasi dan karya yang akan ditampilkan pada mading kelas.
Karya yang disajikan cukup beragam, antara lain cerita pendek, puisi, berita, kaligrafi, poster, pantun, dan infografis. Keragaman bentuk tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan gagasan melalui media yang sesuai dengan kemampuan dan kreativitas masing-masing.
Proses pembuatan mading juga menjadi bagian penting dalam kegiatan. Siswa tidak sekadar menghasilkan karya untuk dipajang, tetapi melalui tahapan perencanaan, pencarian ide, pengembangan gagasan, penyuntingan, hingga penyajian.
Tahapan itu menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengorganisasi informasi dan menggunakan bahasa secara efektif. Pada saat yang sama, siswa dapat mengembangkan kreativitas melalui penyajian visual dan pemilihan bentuk karya.
Setelah seluruh mading kelas selesai disusun, penilaian dilakukan pada 22 Agustus 2026. Proses pengolahan nilai kemudian dilaksanakan pada 24 Agustus 2026.
Program tersebut sekaligus dikemas dalam bentuk kejuaraan dengan memperebutkan Piala Bergilir Mading. Penilaian dilakukan oleh Farid Azhar, S.Pd. dan Khairinnisa Rizqi Karima, S.Pd. bersama mahasiswa MKT Untidar.
Terdapat tujuh aspek yang menjadi pertimbangan dalam penilaian, yakni kesesuaian tema, keberagaman konten atau karya, kualitas isi, penggunaan bahasa Indonesia, kreativitas, kerapian dan kebersihan, serta partisipasi kelas.
Dengan sejumlah aspek tersebut, penilaian tidak hanya berfokus pada tampilan visual mading. Isi, penggunaan bahasa, kesesuaian informasi dengan tema, hingga keterlibatan siswa dalam proses penyusunan turut menjadi bagian dari evaluasi.
Mahasiswa MKT Untidar kemudian melakukan evaluasi lanjutan melalui kuesioner yang dibagikan pada 28–29 Agustus 2026. Kuesioner tersebut digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap tampilan dan isi mading, manfaatnya sebagai sarana literasi, serta keterlibatan antarkelas.
Sebanyak 55 siswa memberikan respons terhadap program tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi, program mading berada dalam kategori baik.
Program ini dikoordinasikan oleh Annisa Adzkia Akhsin selaku ketua MKT Untidar. Ia bersama anggota tim, yakni Desi Astalia, Tasya Ngesti Maureta, Nabilla Dwi Lestari, Zakia Yasmitahati, Yosua Alfa Putra Lesmana, Syifa Kania Sasabila, dan M Sulthon Rafi Aljabar, terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan Piala Bergilir Mading pada 5 September 2026. Berdasarkan hasil penilaian, kelas X menjadi pemenang dalam program mading bertema “Sekolah Sehat”.
Penghargaan diserahkan kepada perwakilan kelas X dalam kegiatan yang turut dihadiri seluruh siswa SMA Mudatama.
Bagi mahasiswa MKT Untidar, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan praktik literasi sekolah yang melibatkan siswa secara aktif. Mading tidak hanya berfungsi sebagai tempat menampilkan hasil karya, tetapi juga menjadi media bagi siswa untuk membaca, menulis, mengolah informasi, dan menyampaikan gagasan.
Tema kesehatan yang digunakan dalam kegiatan juga membuat materi literasi memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan siswa di lingkungan sekolah. Informasi mengenai pola hidup sehat, bahaya narkoba, kesehatan mental, dan etika pergaulan disampaikan melalui karya yang dibuat oleh siswa sendiri.
Melalui pola tersebut, budaya literasi diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca. Siswa juga didorong untuk memahami informasi, mengembangkan gagasan, dan mengomunikasikannya melalui karya yang dapat diakses warga sekolah.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa media sederhana seperti mading masih dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran dan komunikasi di lingkungan sekolah. Ketika siswa terlibat sejak proses perencanaan hingga penyajian, mading dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang menggabungkan kreativitas, literasi, dan kesadaran kesehatan.





