Getasanyar, Krajan.id – Pengelolaan sampah di tingkat desa tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan pemilahan dan penjualan sampah bernilai ekonomi. Dibutuhkan sistem yang melibatkan masyarakat sejak dari sumber sampah hingga proses pengolahan. Upaya membangun sistem tersebut menjadi fokus rangkaian program kerja KKN UNS Kelompok 169 di Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) itu mengembangkan tiga program, yakni sosialisasi sampah organik dan anorganik, praktik budidaya maggot, serta pembelajaran penggunaan alat press sampah manual.
Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan observasi di Bank Sampah Induk (BSI) yang berada di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) Kabupaten Magetan. Observasi dilakukan untuk mempelajari mekanisme pemilahan dan pengelolaan sampah yang telah berjalan.
Informasi dari hasil observasi kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menyusun materi edukasi sekaligus menentukan bentuk pengelolaan sampah yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat Desa Getasanyar.

Salah satu kegiatan utama berupa sosialisasi yang menghadirkan narasumber dari DLHP Kabupaten Magetan. Kegiatan tersebut diikuti masyarakat setempat dengan kuota peserta sebanyak 48 orang.
Dalam kegiatan itu, warga memperoleh penjelasan mengenai jenis sampah, dampak sampah terhadap lingkungan, serta pemanfaatan limbah organik rumah tangga sebagai media pakan dalam budidaya maggot. Materi kemudian diperkuat melalui demonstrasi alat dan bahan yang diperlukan dalam proses budidaya tersebut.
Ketua KKN UNS Kelompok 169, Muhammad Auffarrasi Azka Jibran, mengatakan program tersebut disusun dengan mengadaptasi praktik pengelolaan sampah yang telah dilakukan BSI Magetan.
“Program kerja ini terinspirasi dari keberhasilan BSI Magetan yang telah mampu mandiri dalam pengelolaan sampahnya, mulai dari pemilahan hingga pengolahan menjadi produk yang bernilai guna,” ujar Muhammad.
Menurut dia, pengalaman BSI Magetan menunjukkan bahwa sampah dapat dikelola lebih lanjut sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
“Kami melihat bahwa sistem yang diterapkan di BSI Magetan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu berakhir di tempat pembuangan, tetapi bisa menjadi sumber daya yang bermanfaat jika dikelola dengan baik,” katanya.
Konsep tersebut kemudian coba diperkenalkan dalam skala desa. Muhammad berharap masyarakat dapat mulai membangun pola pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga sebagai bagian dari pengelolaan dari hulu.
“Melalui adaptasi konsep tersebut dalam skala desa, kami berharap masyarakat Desa Getasanyar dapat mulai membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai sejak dari hulu,” ujarnya.
Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Getasanyar. Kepala Desa Getasanyar, Angga Suprapto, menilai kehadiran narasumber dari DLHP serta praktik langsung dalam kegiatan membuat materi sosialisasi lebih mudah diterima masyarakat.
“Teman-teman di tim KKN kali ini sudah menghadirkan expertnya dari Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan dan sudah menghadirkan barang barang nyata maggot aslinya, saya berharap dan saya yakin akan lebih nandes masuk ke hatinya para peserta sosialisasi,” kata Angga.
Ia mengatakan rangkaian kegiatan tersebut juga dapat menjadi awal pembentukan kelembagaan masyarakat yang berfokus pada pengelolaan sampah.
“Progam ini menjadi embrio awal terbentuknya Kelompok Swadaya Masyaraat (KSM) yang memang fokus dalam pengelolaan sampah di tingkat desa,” ujarnya.
Pembentukan KSM diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir. Dengan adanya kelompok masyarakat yang memiliki fokus khusus, pengelolaan sampah dapat dikembangkan secara lebih terarah, mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan sampah yang memiliki nilai guna.
Bagi KKN UNS Kelompok 169, rangkaian program tersebut bukan hanya ditujukan untuk mengenalkan teknik pengolahan sampah. Lebih jauh, kegiatan itu diarahkan untuk mendorong keterlibatan warga dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, Desa Getasanyar diharapkan memiliki fondasi awal untuk mengembangkan pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah.





