Magelang, Krajan.id – Pengelolaan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu perhatian dalam upaya membangun budaya peduli lingkungan di SMP Negeri 7 Magelang. Untuk mendukung hal tersebut, mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar membangun rumah maggot yang sekaligus disiapkan sebagai sarana pembelajaran bagi murid.
Rumah maggot tersebut mulai dibangun pada Jumat (28/8/2026) dan diserahterimakan kepada pihak SMP Negeri 7 Magelang pada Selasa (15/9/2026). Fasilitas itu menjadi salah satu program kerja mahasiswa MKT yang ditempatkan di sekolah tersebut.
Sebanyak 15 mahasiswa MKT Universitas Tidar menjalankan kegiatan magang di SMP Negeri 7 Magelang. Mereka terbagi menjadi dua kelompok dengan program kerja berbeda. Salah satu kelompok berfokus pada pembangunan dan pengelolaan rumah maggot, sementara kelompok lainnya menjalankan program yang berkaitan dengan Adiwiyata dan kegiatan kokurikuler sekolah.
Pembangunan rumah maggot tidak berhenti pada penyelesaian fisik bangunan. Menjelang penyerahan, mahasiswa masih melakukan sejumlah penyempurnaan agar fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari lingkungan sekolah.
Pada Rabu (9/9/2026), mahasiswa menambahkan identitas kelompok berupa tulisan “MKT Untidar 2026” pada sisi kanan dan kiri bangunan. Mereka juga memberikan gambar gajah yang merepresentasikan Ganesha, sesuai dengan lambang SMP Negeri 7 Magelang.
Hiasan berupa gambar rumput turut ditambahkan pada bagian kanan, kiri, dan belakang bangunan. Penataan tersebut dimaksudkan agar rumah maggot lebih menyatu dengan lingkungan sekolah.
Namun, fungsi utama fasilitas tersebut bukan sekadar menjadi bagian dari lingkungan fisik sekolah. Rumah maggot disiapkan untuk membantu mengolah sampah organik, termasuk sisa makanan yang berasal dari pelaksanaan program MBG.
Dalam pengelolaannya, larva black soldier fly (BSF) atau maggot digunakan untuk mengurai sampah organik. Budi daya maggot juga menghasilkan larva yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif. Sementara itu, sisa hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos.
Konsep tersebut membuat rumah maggot memiliki fungsi ganda. Selain membantu mengurangi sampah organik di lingkungan sekolah, fasilitas ini dapat menjadi media pembelajaran yang memperkenalkan proses pengelolaan limbah kepada murid secara langsung.
Murid dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemberian pakan, pembersihan rumah maggot hingga perawatan budi daya. Melalui kegiatan tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya diperkenalkan sebagai materi, tetapi juga menjadi aktivitas yang dapat dilakukan secara langsung di lingkungan sekolah.
Kepala SMP Negeri 7 Magelang, Iwuk Juliyani, S.Pd., mengapresiasi program yang dilakukan mahasiswa MKT Universitas Tidar tersebut. Menurut dia, keberadaan rumah maggot dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan.
“Terimakasih untuk rekan-rekan mahasiswa MKT Untidar, nantinya program ini menjadi salah satu inovasi sekolah dalam pembelajaran berbasis lingkungan. Melalui pengolahan sisa makanan menjadi pakan maggot, siswa akan belajar mengelola limbah organik sekaligus memahami pemanfaatannya bagi lingkungan sekolah,” ujar Iwuk Juliyani.
Saat proses penyerahan pada Selasa (15/9/2026), Iwuk bersama penanggung jawab pengelolaan maggot, Subroto, S.Pd., dan Ketua Tim Adiwiyata, Dessy W., S.Pd., M.Pd., turut memasukkan baby maggot ke dalam rumah maggot. Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya pemanfaatan fasilitas yang telah dibangun mahasiswa.
Agar pengelolaan tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan masa magang, mahasiswa MKT juga menyiapkan jadwal piket bagi murid yang tergabung dalam Tim Adiwiyata Maggot. Jadwal tersebut mencakup kegiatan perawatan dan budi daya, termasuk pemberian pakan serta pembersihan rumah maggot secara berkala.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program. Keberadaan fasilitas pengolahan sampah akan membutuhkan pengelolaan rutin agar tetap berfungsi. Pelibatan murid melalui Tim Adiwiyata Maggot juga membuka ruang bagi sekolah untuk menjadikan rumah maggot sebagai bagian dari kegiatan lingkungan yang berlangsung secara berkelanjutan.
Program ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pengelolaan sisa makanan dapat dikaitkan dengan proses pendidikan. Sampah organik yang sebelumnya menjadi bagian dari persoalan kebersihan dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam budi daya maggot, sementara proses pengolahannya menjadi pengalaman belajar bagi murid.
Bagi SMP Negeri 7 Magelang, rumah maggot diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program Adiwiyata sekaligus memperkuat keterlibatan warga sekolah dalam menjaga lingkungan. Sementara bagi mahasiswa MKT Universitas Tidar, pembangunan fasilitas tersebut menjadi bentuk kontribusi dalam menghubungkan kegiatan kependidikan dengan kebutuhan nyata di sekolah.
Keberlanjutan program akan bergantung pada pengelolaan setelah masa magang mahasiswa berakhir. Dengan adanya Tim Adiwiyata Maggot dan jadwal perawatan yang telah disiapkan, rumah maggot diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas hasil program mahasiswa, tetapi terus dimanfaatkan sebagai sarana pengelolaan sampah organik dan pembelajaran lingkungan di SMP Negeri 7 Magelang.





