Magelang, Krajan.id – Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar di dalam kelas. Bagi mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar tahun 2026, lingkungan sekolah juga dapat menjadi ruang pembelajaran untuk mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan secara langsung.
Gagasan itu diwujudkan melalui program penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di SMP Negeri 7 Kota Magelang, Selasa (15/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan mahasiswa terhadap program Adiwiyata yang tengah dijalankan sekolah.
Program tidak berhenti pada penanaman tanaman. Mahasiswa MKT juga memasang label pada setiap tanaman serta menyusun jadwal piket perawatan yang melibatkan siswa. Dengan pola tersebut, area TOGA diharapkan tidak sekadar menjadi penghijauan, tetapi juga media pembelajaran sekaligus sarana membangun kebiasaan merawat lingkungan.
Kegiatan diikuti mahasiswa MKT Universitas Tidar, pembina program Adiwiyata, perwakilan siswa dari tim Adiwiyata, serta siswa kelas 9A. Kolaborasi tersebut mempertemukan mahasiswa, guru, dan siswa dalam kegiatan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan lingkungan sekolah.
Sejumlah tanaman yang ditanam meliputi jahe, kencur, kunyit, sereh, binahong, daun sirih, daun mint, dan kumis kucing. Tanaman-tanaman tersebut dipilih karena dikenal memiliki manfaat dan relatif mudah dibudidayakan di lingkungan sekolah.
Keberadaan TOGA di lingkungan sekolah juga dapat memperkenalkan siswa pada jenis tanaman obat dan manfaatnya. Pengalaman menanam dan merawat tanaman memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengenal pemanfaatan lahan secara produktif melalui kegiatan yang sederhana.
TOGA Jadi Media Pembelajaran
Salah satu bagian penting dari program tersebut adalah pemberian label pada tanaman. Setiap tanaman diberi nama agar siswa dan warga sekolah lebih mudah mengenali jenis TOGA yang ditanam.
Langkah tersebut membuat area TOGA memiliki fungsi tambahan sebagai media pembelajaran. Siswa dapat mengamati langsung jenis tanaman yang ada di sekitar mereka, sekaligus mengenal nama dan manfaat tanaman tersebut.
Mahasiswa MKT kemudian menyusun jadwal piket untuk menjaga keberlangsungan tanaman. Perawatan mencakup penyiraman secukupnya, pembersihan area dari gulma, serta pemantauan kondisi tanaman dan kebutuhan cahaya matahari.
Keterlibatan siswa dalam perawatan menjadi bagian penting karena keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kegiatan penanaman. Tanaman yang telah ditanam membutuhkan pemeliharaan secara berkala agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut sekaligus memperluas makna kegiatan Adiwiyata. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya diwujudkan melalui penambahan tanaman, tetapi juga melalui kebiasaan menjaga, memanfaatkan, dan merawat lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Pot dari Galon Bekas
Hal lain yang menarik dari program ini adalah penggunaan pot tanaman yang merupakan hasil karya siswa melalui kegiatan kokurikuler. Pot tersebut dibuat dari galon bekas yang diolah dan dibentuk menyerupai gajah.
Pemanfaatan galon bekas membuat kegiatan penanaman TOGA memiliki keterkaitan dengan kreativitas siswa dan pengelolaan barang bekas. Galon yang sebelumnya tidak digunakan diubah menjadi wadah tanaman yang memiliki fungsi sekaligus nilai estetika.
Kreativitas tersebut sejalan dengan semangat 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Prinsip tersebut menjadi salah satu pendekatan dalam menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan barang, menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, serta mendaur ulang material tertentu.
Dalam konteks sekolah, penggunaan pot hasil karya siswa juga menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat dikembangkan melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian. Siswa tidak hanya menerima penjelasan mengenai pentingnya menjaga lingkungan, tetapi terlibat dalam menghasilkan benda yang kemudian digunakan dalam kegiatan sekolah.
Pot berbentuk gajah itu selanjutnya menjadi bagian dari area TOGA yang ditanami berbagai tanaman obat. Dengan demikian, hasil kreativitas siswa tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kegiatan penghijauan dan pembelajaran lingkungan.
Diperkuat Kolaborasi Sekolah dan Mahasiswa
Program penanaman TOGA tersebut mendapat sambutan dari Kepala SMP Negeri 7 Kota Magelang, Iwuk Juliyani, S.Pd. Pihak sekolah menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada mahasiswa MKT Universitas Tidar atas kepedulian serta kesadaran mereka dalam mendukung program sekolah, khususnya Adiwiyata.
Dukungan tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa dan siswa untuk terus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih hijau dan nyaman.
Bagi mahasiswa MKT, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman dalam merancang dan melaksanakan program yang melibatkan partisipasi siswa. Sementara bagi sekolah, keberadaan TOGA dapat menjadi bagian dari upaya memanfaatkan ruang yang tersedia sekaligus memperkuat kegiatan pendidikan lingkungan.
Keberlanjutan menjadi aspek yang perlu diperhatikan setelah kegiatan penanaman selesai. Penyiraman secara berkala, pembersihan gulma, dan pemantauan kebutuhan cahaya matahari menjadi bagian dari perawatan yang perlu dilakukan bersama.
Keterlibatan warga sekolah dalam pemeliharaan diharapkan membuat tanaman yang telah ditanam tidak berhenti sebagai hasil kegiatan mahasiswa. TOGA dapat terus dirawat dan dimanfaatkan sebagai bagian dari lingkungan sekolah.
Melalui program tersebut, mahasiswa MKT Universitas Tidar tahun 2026 tidak hanya menambah tanaman di lingkungan SMP Negeri 7 Kota Magelang. Mereka juga memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan TOGA, kreativitas siswa, pengelolaan barang bekas, dan kepedulian lingkungan.
Jika dirawat secara konsisten, area TOGA dan pot hasil karya siswa dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari warga sekolah. Dari ruang sederhana di lingkungan sekolah, siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai bagaimana lingkungan dapat dijaga sekaligus dimanfaatkan secara produktif.





