Surakarta, Krajan.id – Pendampingan anak dengan gangguan pendengaran tidak hanya membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Kesiapan keluarga, terutama orang tua, juga menjadi bagian penting agar anak memperoleh dukungan yang berkelanjutan.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian Research Group (RG) Citizenship and Inclusive Community Empowerment Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama Yayasan Gapai Indonesia melalui program penguatan kapasitas bagi orang tua anak dengan gangguan pendengaran yang tergabung dalam Komunitas Deaf Family Solo Raya (DFSR).
Kegiatan perdana program tersebut digelar pada Juli 2026 di Ruang 224 dan 226 FISIP UNS, Surakarta. Sebanyak 15 orang tua anggota DFSR mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan pendampingan psikososial, edukasi kesehatan telinga, serta pemeriksaan kesehatan.
Program bertajuk “Penguatan Kapasitas Orang Tua Anak dengan Gangguan Pendengaran melalui Pendampingan Psikososial dan Edukasi Kesehatan: Studi Kasus Komunitas Deaf Family Solo Raya (DFSR), Kota Solo” itu mendapat pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS.
Berbeda dari pendekatan yang hanya berfokus pada anak, program tersebut menempatkan orang tua sebagai salah satu sasaran utama intervensi. Keluarga merupakan lingkungan terdekat anak dan memiliki peran penting dalam mengenali kondisi anak, mengambil keputusan terkait layanan kesehatan, sekaligus memberikan dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, tanggung jawab tersebut dapat menjadi beban tersendiri bagi orang tua. Karena itu, pengetahuan mengenai kesehatan, dukungan psikologis, serta jejaring dengan keluarga lain yang memiliki pengalaman serupa diperlukan agar orang tua tidak menghadapi proses pendampingan seorang diri.
Kolaborasi antara FISIP UNS dan Yayasan Gapai Indonesia diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Yayasan Gapai Indonesia yang berbasis di Jebres, Surakarta, selama ini turut mendampingi keluarga anggota komunitas DFSR. Keterlibatan yayasan menjadi penghubung antara tim perguruan tinggi dengan keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Program tersebut melibatkan pendekatan lintas disiplin yang mencakup sosiologi, psikologi, serta kesehatan telinga, hidung, dan tenggorok (THT). Pendekatan ini memungkinkan persoalan keluarga tidak dilihat hanya dari aspek medis, tetapi juga dari sisi sosial dan psikologis.
Materi penguatan psikososial disampaikan Triana Rahmawati, anggota tim riset FISIP UNS sekaligus pengurus Yayasan Gapai Indonesia, bersama Khotimatun Na’imah. Sementara itu, edukasi mengenai kesehatan telinga diberikan oleh dr. Andri Firmansyah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan bagi peserta.
Edukasi kesehatan telinga menjadi bagian penting karena orang tua berada dalam posisi strategis untuk mengenali perubahan kondisi pendengaran anak. Pengetahuan yang memadai diharapkan membantu keluarga mengambil langkah lebih cepat ketika menemukan gejala atau persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan.
Dalam paparannya, dr. Andri Firmansyah menekankan pentingnya edukasi kesehatan telinga sejak lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran dalam mengenali gejala gangguan pendengaran, menjaga kesehatan telinga anak, serta memastikan anak mendapatkan layanan kesehatan yang sesuai.
Rangkaian kegiatan juga dirancang agar orang tua dapat mengikuti materi dengan lebih nyaman. Selama sesi berlangsung, anak-anak mengikuti kegiatan kreatif di ruang terpisah. Mereka didampingi relawan dan juru Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sehingga tetap dapat berkomunikasi dan mengikuti aktivitas sesuai kebutuhan mereka.
Ketua RG Citizenship and Inclusive Community Empowerment FISIP UNS, Dr. Ahmad Zuber, mengatakan keluarga merupakan fondasi penting dalam tumbuh kembang anak dengan gangguan pendengaran. Menurut dia, penguatan kapasitas orang tua perlu dilakukan tidak hanya melalui pemberian informasi, tetapi juga dengan membangun jejaring dukungan.
“Kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif,” ujarnya.
Bagi peserta, kegiatan tersebut memberikan manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan kesehatan. Pertemuan dengan sesama orang tua juga menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan menghadapi tantangan pengasuhan bersama.
Aisyah, salah seorang orang tua anggota DFSR, mengatakan kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai kesehatan telinga sekaligus menjadi ruang untuk mendapatkan dukungan psikologis melalui pertukaran pengalaman dengan orang tua lainnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan.
Pendampingan kemudian berlanjut di luar lingkungan kampus. Pada Agustus 2026, tim FISIP UNS bersama Yayasan Gapai Indonesia turut mendampingi sejumlah kegiatan Komunitas DFSR. Salah satunya adalah pendampingan terhadap keluarga yang tengah menjalani proses implan koklea di RS JIH.
Kehadiran tim dalam proses tersebut menunjukkan bahwa pendampingan keluarga tidak berhenti setelah kegiatan edukasi selesai. Orang tua tetap membutuhkan dukungan ketika menghadapi tahapan layanan kesehatan yang dapat menjadi proses panjang dan membutuhkan kesiapan fisik maupun psikologis.
Triana Rahmawati mengatakan pengalaman mendampingi keluarga DFSR memperlihatkan kuatnya daya juang para orang tua dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting dalam membangun model pendampingan yang lebih berkelanjutan.
“Saya terharu sekali melihat proses perjuangan ibu-ibu yang tidak mudah menyerah atas segala ujian hidup. Justru dari ujian itulah resiliensi mereka tumbuh dan menjadi luar biasa. Dari para ibu ini kami belajar bahwa kekuatan keluarga lahir dari kesabaran, keyakinan, dan dukungan satu sama lain. Karena itu, pendampingan ini tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi perlu hadir di setiap tahap perjuangan mereka,” tuturnya.
Program tersebut sekaligus mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Edukasi kesehatan telinga dan pemeriksaan kesehatan berkaitan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Penguatan kapasitas keluarga serta penggunaan BISINDO mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang inklusif.
Sementara itu, pemberdayaan keluarga anak dengan disabilitas pendengaran berkaitan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, yayasan, dan komunitas juga mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Ke depan, FISIP UNS dan Yayasan Gapai Indonesia menempatkan kegiatan tersebut sebagai awal dari pendampingan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga anak dengan gangguan pendengaran di Solo Raya.
Penguatan komunikasi inklusif, pembentukan kelompok dukungan sebaya ant orang tua, serta perluasan kerja sama dengan komunitas dan pemangku kepentingan menjadi arah pengembangan program berikutnya.
Melalui pendekatan tersebut, pendampingan keluarga diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan kepada orang tua, tetapi juga membangun lingkungan sosial yang memungkinkan keluarga saling mendukung. Bagi anak dengan gangguan pendengaran, dukungan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menciptakan ruang tumbuh yang lebih inklusif.





