Magelang, Krajan.id – Pembiasaan mengerjakan soal matematika berbasis kehidupan sehari-hari selama beberapa menit sebelum pelajaran dimulai menunjukkan hasil positif bagi siswa SMP Negeri 11 Magelang. Program tersebut mendorong peningkatan kemampuan literasi matematika siswa kelas VIII E, dengan rata-rata nilai yang naik lebih dari 20 poin setelah intervensi pembelajaran dilakukan secara terprogram.
Program ini diterapkan sebagai bagian dari penelitian tindakan yang berangkat dari persoalan rendahnya kemampuan siswa dalam memahami dan menyelesaikan persoalan matematika kontekstual. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan perhitungan, tetapi juga mencakup penalaran logis dan kemampuan menerjemahkan persoalan sehari-hari ke dalam model matematika.
Persoalan itu menjadi tantangan tersendiri dalam pembelajaran matematika di Indonesia. Berdasarkan hasil tes PISA 2022, skor rata-rata literasi matematika siswa Indonesia tercatat 366 poin. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD yang mencapai 489 poin.
Di SMP Negeri 11 Magelang, pendekatan yang digunakan untuk merespons persoalan tersebut adalah membangun kebiasaan numerasi secara rutin. Siswa tidak langsung diarahkan pada soal dengan tingkat kesulitan tinggi, tetapi terlebih dahulu dipetakan kemampuannya melalui tes diagnostik.
Tes awal dilakukan pada 12 dan 19 Agustus 2026 terhadap siswa kelas VIII E. Hasilnya menunjukkan rata-rata nilai kelas sebesar 39,76. Angka tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun soal numerasi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa.
Intervensi pembiasaan numerasi selanjutnya dilaksanakan pada 20, 21, 26, dan 27 Agustus 2026. Setiap pagi, pukul 06.30 hingga 07.00 WIB, siswa mengerjakan lembar soal numerasi sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
Dalam pelaksanaannya, siswa memiliki waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan soal-soal kontekstual. Mereka juga diwajibkan menuliskan proses atau langkah perhitungan secara runtut. Dengan cara tersebut, kemampuan siswa tidak hanya dinilai berdasarkan jawaban akhir, tetapi juga dari proses berpikir yang digunakan untuk menemukan penyelesaian.
Setelah pengerjaan selesai, guru memberikan pembahasan dan penguatan konsep di papan tulis. Umpan balik tersebut diberikan segera agar siswa dapat mengetahui letak kesalahan sekaligus memahami konsep yang digunakan dalam menyelesaikan soal.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan literasi matematis. Rata-rata nilai siswa naik dari 39,76 pada tahap awal menjadi 61,16 setelah rangkaian pembiasaan dilakukan. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 21,40 poin atau sekitar 53,82 persen.
Dari 27 siswa yang menjadi sampel penelitian, sebanyak 23 siswa mengalami peningkatan nilai. Meski terdapat fluktuasi hasil pada beberapa tanggal pengukuran, terutama karena perbedaan tingkat kesulitan soal, program secara keseluruhan menunjukkan perkembangan positif.
Salah satu faktor yang mendukung hasil tersebut adalah penyesuaian tingkat kesulitan soal berdasarkan hasil tes diagnostik. Pendekatan ini memungkinkan siswa memperoleh tantangan yang lebih sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Pembiasaan numerasi juga menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan matematika tidak selalu harus dilakukan melalui tambahan waktu belajar yang panjang. Rutinitas singkat yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari strategi pembelajaran apabila disertai soal yang relevan, proses pengerjaan yang terarah, dan umpan balik yang cepat.
Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi dasar rekomendasi agar pembiasaan numerasi dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah di Magelang dan sekitarnya. Materi juga dapat dikaitkan dengan konteks lokal melalui pendekatan etnomatematika untuk menjaga ketertarikan siswa terhadap pembelajaran.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal, tetapi juga membantu siswa melihat matematika sebagai bagian dari persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini sekaligus dapat membantu mengurangi kecemasan siswa terhadap pelajaran matematika dan membangun kebiasaan berpikir yang lebih sistematis.





