Muntilan, Krajan.id – Pengelolaan program lingkungan di sekolah tidak hanya membutuhkan kegiatan nyata, tetapi juga dokumentasi yang mampu merekam proses dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (Untidar) saat mendampingi program Adiwiyata di SMA Negeri 1 Muntilan, Kabupaten Magelang.
Mahasiswa MKT mengembangkan sebuah website yang memuat informasi dan edukasi mengenai kegiatan pengelolaan lingkungan di SMA Negeri 1 Muntilan. Media digital tersebut diarahkan untuk membantu sekolah mendokumentasikan berbagai kegiatan Adiwiyata sekaligus memperkenalkan budaya peduli lingkungan yang dikembangkan warga sekolah.
Pengembangan website dilakukan selama mahasiswa menjalankan program MKT di SMA Negeri 1 Muntilan. Kegiatan itu menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa di luar tugas praktik pembelajaran di kelas. Mereka turut terlibat dalam sejumlah aktivitas sekolah, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan.
Dari keterlibatan tersebut, mahasiswa melihat pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat penyampaian informasi program lingkungan. Berbagai kegiatan yang berlangsung di sekolah dapat dihimpun dalam satu media sehingga informasi tidak hanya tersimpan sebagai dokumentasi internal, tetapi juga dapat diketahui oleh masyarakat di luar sekolah.
Website yang dikembangkan memuat informasi mengenai kegiatan dan program Adiwiyata SMA Negeri 1 Muntilan. Penyusunan informasi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah sehingga materi yang ditampilkan tetap berkaitan dengan aktivitas lingkungan yang telah dijalankan.
Dalam proses pengembangannya, mahasiswa MKT berkoordinasi dengan pihak sekolah. Koordinasi dilakukan bersama Margaretha Dumpyuk, S.Pd., selaku Ketua Adiwiyata SMA Negeri 1 Muntilan. Langkah tersebut dilakukan agar konsep dan isi website tidak terlepas dari program lingkungan yang telah berjalan.
Kolaborasi antara mahasiswa dan pihak sekolah menjadi bagian penting dalam pengembangan program. Mahasiswa membawa keterampilan dan gagasan yang diperoleh selama perkuliahan, sedangkan pihak sekolah memberikan arahan berdasarkan kondisi serta kebutuhan program Adiwiyata.
Melalui website tersebut, berbagai informasi kegiatan kepedulian lingkungan dapat disajikan dalam bentuk digital. Materi yang ditampilkan mencakup kegiatan pengelolaan sumber daya, aktivitas kepedulian lingkungan, serta inovasi yang dilakukan warga sekolah.
Kehadiran media tersebut memberikan alternatif dalam mendokumentasikan perkembangan program lingkungan sekolah. Informasi yang sebelumnya lebih banyak diketahui oleh warga sekolah dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui media daring.
Digitalisasi dokumentasi juga memungkinkan informasi mengenai kegiatan Adiwiyata dibagikan secara lebih mudah. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, website dapat menjadi ruang untuk memperbarui informasi mengenai kegiatan sekolah dari waktu ke waktu.
Bagi SMA Negeri 1 Muntilan, keberadaan website tidak semata-mata berkaitan dengan teknologi. Media tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun dokumentasi yang lebih terstruktur mengenai perjalanan sekolah dalam mengembangkan budaya peduli lingkungan.
Program Adiwiyata sendiri tidak berhenti pada penyediaan sarana lingkungan. Keterlibatan warga sekolah dalam menjaga kebersihan, mengelola sumber daya, serta membangun kebiasaan yang mendukung keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian dari proses tersebut.
Karena itu, dokumentasi menjadi unsur yang penting untuk memperlihatkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Dokumentasi yang tertata dapat membantu sekolah menyimpan rekam kegiatan sekaligus menyampaikan informasi mengenai praktik pengelolaan lingkungan kepada pihak yang membutuhkan.
Selain mengembangkan website, mahasiswa MKT Universitas Tidar juga membuat inovasi filtrasi air sederhana sebagai bagian dari program kerja lingkungan di SMA Negeri 1 Muntilan.
Inovasi tersebut menggunakan sejumlah bahan penyaring, yakni kapas filter, kerikil, batu zeolit, arang aktif, dan pasir silika. Masing-masing bahan ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian media penyaringan dengan fungsi yang berbeda.
Kerikil digunakan untuk membantu menyaring partikel berukuran lebih besar. Pasir silika digunakan untuk membantu menyaring partikel yang lebih halus. Adapun zeolit menjadi salah satu media penyaring yang digunakan untuk membantu mengurangi sejumlah zat pengotor.
Arang aktif juga digunakan sebagai media penyaring yang membantu mengurangi bau, warna, dan sebagian senyawa organik dalam air. Penggunaan sejumlah material tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa memperkenalkan konsep penyaringan air melalui perangkat sederhana.
Program filtrasi air tidak hanya diarahkan pada pembuatan perangkat. Mahasiswa juga memperhatikan sisi edukasi agar proses tersebut dapat menjadi media pembelajaran bagi peserta didik.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat mengenali berbagai bahan yang digunakan dalam proses penyaringan air sekaligus memahami fungsi masing-masing material. Pengetahuan tersebut dapat dikaitkan dengan pembelajaran mengenai lingkungan dan pengelolaan sumber daya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi lingkungan dapat dilakukan melalui praktik sederhana. Peserta didik tidak hanya menerima informasi secara teoritis, tetapi juga dapat melihat secara langsung bagaimana material tertentu digunakan dalam proses penyaringan.
Program filtrasi air juga menjadi bentuk pemanfaatan teknologi sederhana yang dapat diperkenalkan dalam lingkungan sekolah. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks.
Bagi mahasiswa MKT, keterlibatan dalam program lingkungan memberikan pengalaman untuk menerapkan pengetahuan di luar ruang kelas. Kegiatan tersebut sekaligus memperluas peran mahasiswa selama menjalani program magang di satuan pendidikan.
Margaretha Dumpyuk, S.Pd., selaku Ketua Adiwiyata SMA Negeri 1 Muntilan, mengatakan keterlibatan mahasiswa MKT dalam program lingkungan dapat memberikan gagasan baru bagi sekolah.
“Keterlibatan mahasiswa MKT dalam program Adiwiyata menjadi bentuk kolaborasi yang memberikan gagasan dan inovasi baru bagi sekolah. Website yang dikembangkan diharapkan dapat membantu mendokumentasikan dan memperkenalkan berbagai kegiatan Adiwiyata kepada warga sekolah dan masyarakat,” ujar Margaretha.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa website diposisikan sebagai bagian dari kolaborasi, bukan sekadar produk yang dibuat selama mahasiswa menjalankan MKT. Media digital tersebut diharapkan tetap dapat dimanfaatkan sekolah setelah kegiatan mahasiswa selesai.
Keberlanjutan menjadi salah satu aspek yang penting dalam pengembangan program berbasis lingkungan. Website dapat terus diperbarui dengan informasi mengenai kegiatan Adiwiyata yang dilaksanakan sekolah. Dengan pembaruan secara berkala, media tersebut dapat berkembang menjadi pusat informasi digital mengenai kegiatan lingkungan SMA Negeri 1 Muntilan.
Sementara itu, inovasi filtrasi air sederhana dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai media edukasi. Sekolah dapat memanfaatkannya untuk memperkenalkan pengelolaan air dan pentingnya menjaga kualitas lingkungan kepada peserta didik.
Kedua program tersebut memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Website berfungsi memperkuat aspek informasi dan dokumentasi, sedangkan filtrasi air memberikan pengalaman praktik dalam memahami pengelolaan lingkungan.
Kombinasi tersebut memperlihatkan bagaimana pemanfaatan teknologi digital dapat berjalan berdampingan dengan inovasi sederhana. Teknologi tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga dapat mendukung upaya sekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga memberikan pemahaman bahwa pengembangan program di sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan setempat. Ide yang dibawa mahasiswa perlu dikomunikasikan dengan pihak sekolah agar dapat diterapkan secara relevan.
Koordinasi dengan Ketua Adiwiyata menjadi bagian dari proses tersebut. Melalui koordinasi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kegiatan lingkungan yang telah berjalan sekaligus dapat menyesuaikan program yang dikembangkan dengan kebutuhan sekolah.
Kolaborasi semacam itu menjadi penting karena keberhasilan program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pihak yang merancang kegiatan. Pelaksanaan dan keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan berbagai unsur di sekolah, mulai dari guru, peserta didik, hingga warga sekolah secara keseluruhan.
Pengembangan website juga dapat memberikan ruang bagi sekolah untuk memperlihatkan proses, bukan hanya hasil. Informasi mengenai kegiatan, inovasi, dan keterlibatan warga sekolah dapat dihimpun sehingga perjalanan program Adiwiyata terdokumentasi secara lebih utuh.
Dokumentasi digital juga dapat membantu menjaga kesinambungan informasi ketika terjadi perubahan kegiatan atau pergantian pengelola program. Informasi yang telah dipublikasikan dapat menjadi rekam jejak yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah.
Dalam konteks SMA Negeri 1 Muntilan yang tengah mengembangkan program menuju Adiwiyata tingkat nasional, penguatan dokumentasi menjadi salah satu bagian pendukung. Website tidak secara otomatis menentukan keberhasilan program, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai aktivitas dan inovasi yang dilakukan sekolah.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga agar media digital tetap berisi informasi yang sesuai dengan kegiatan nyata di sekolah. Karena itu, keterlibatan pihak sekolah dalam pengelolaan konten menjadi penting agar informasi yang disampaikan tetap relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, inovasi filtrasi air memberikan dimensi lain dalam program lingkungan. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diterjemahkan menjadi aktivitas edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pengalaman mahasiswa MKT dalam menjalankan kedua program tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan magang kependidikan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kontribusi di luar proses pembelajaran. Mahasiswa dapat memanfaatkan keterampilan yang dimiliki untuk membantu menjawab kebutuhan sekolah.
Bagi SMA Negeri 1 Muntilan, kolaborasi tersebut memberikan tambahan alternatif dalam mengembangkan media informasi dan kegiatan edukasi lingkungan. Bagi mahasiswa, kegiatan itu menjadi pengalaman dalam menghubungkan pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan.
Ke depan, keberlanjutan kedua program akan bergantung pada bagaimana hasil kegiatan tersebut dimanfaatkan dan dikembangkan oleh sekolah. Website dapat diperbarui dengan kegiatan terbaru, sementara inovasi filtrasi air dapat digunakan sebagai salah satu sarana pembelajaran lingkungan.
Pengembangan media digital dan inovasi sederhana tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari upaya mahasiswa MKT Universitas Tidar mendukung program Adiwiyata SMA Negeri 1 Muntilan. Kontribusi itu diarahkan bukan sekadar menghasilkan produk selama masa magang, melainkan meninggalkan media dan gagasan yang dapat terus dimanfaatkan.
Melalui dokumentasi digital yang lebih terstruktur dan kegiatan edukasi berbasis praktik, program lingkungan di sekolah memiliki ruang untuk diperkenalkan secara lebih luas. Upaya tersebut sekaligus mendukung pembangunan budaya peduli lingkungan yang melibatkan warga sekolah secara berkelanjutan dalam perjalanan SMA Negeri 1 Muntilan menuju Adiwiyata tingkat nasional.





