Limbah Ternak Jadi Pupuk, Warga Sukorejo Belajar Mengolah Kotoran Sapi

Dokumentasi kegiatan bersama masyarakat. (Dok. Pribadi/KKN 44 UNS)
Dokumentasi kegiatan bersama masyarakat. (Dok. Pribadi/KKN 44 UNS)

Tugurejo, Krajan.id – Kotoran sapi yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah mulai diperkenalkan sebagai bahan baku pupuk organik oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 44. Melalui demonstrasi pengolahan, warga Kelompok Tani Ternak (KTT) Sayuk Rukun diajak memanfaatkan limbah peternakan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Kegiatan bertajuk “Demonstrasi Pembuatan Pupuk Organik Padat dari Kotoran Sapi sebagai Upaya Pertanian Berkelanjutan” tersebut berlangsung pada Rabu (22/7/2026) di salah satu rumah warga Dusun Tugurejo, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya

Kegiatan menyasar anggota KTT Sayuk Rukun yang sehari-hari menjalankan usaha peternakan sapi sekaligus pertanian. Bagi kelompok tersebut, kotoran sapi merupakan limbah yang tersedia dari aktivitas peternakan dan berpotensi dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lahan pertanian.

Mahasiswa KKN tidak hanya memberikan penyuluhan mengenai manfaat pupuk organik. Peserta juga dilibatkan dalam praktik sehingga dapat melihat secara langsung tahapan pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik padat.

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 44 bersama anggota Kelompok Tani Ternak Sayuk Rukun saat proses pembuatan pupuk organik padat dari kotoran sapi. (Dok. Pribadi/KKN 44 UNS)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 44 bersama anggota Kelompok Tani Ternak Sayuk Rukun saat proses pembuatan pupuk organik padat dari kotoran sapi. (Dok. Pribadi/KKN 44 UNS)

Materi demonstrasi disampaikan Salma Eliana Suryanto, anggota KKN UNS Kelompok 44. Materi dimulai dengan pemaparan mengenai pupuk organik, dilanjutkan pengenalan produk pupuk kompos hasil produksi Jatikuwung Innovation Center (JIC) UNS.

Salma juga menjelaskan bahan tambahan yang digunakan dalam proses pembuatan pupuk, antara lain dolomit atau kapur dan Stardec. Setelah penjelasan bahan dan proses pengolahan, mahasiswa bersama anggota KTT Sayuk Rukun mempraktikkan pembuatan pupuk kompos.

Tahapan berikutnya mencakup proses fermentasi hingga pengenalan ciri-ciri pupuk yang telah matang dan siap diaplikasikan pada lahan pertanian. Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi dan sesi tanya jawab bersama peserta.

Pendekatan praktik tersebut membuat warga tidak hanya memperoleh informasi mengenai teori pengolahan limbah ternak, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai proses produksi yang dapat diterapkan secara mandiri.

Kegiatan mendapat dukungan Mulyanto selaku Ketua Peternakan yang menyediakan tempat pelaksanaan. Kawito selaku Ketua KTT Sayuk Rukun turut memfasilitasi kegiatan dan mengoordinasikan warga yang mengikuti demonstrasi.

Antusiasme warga terlihat ketika mereka terlibat langsung dalam proses pembuatan pupuk. Salah satu warga bahkan memberikan apresiasi terhadap mahasiswa KKN yang bersedia berinteraksi langsung dengan kotoran sapi selama praktik.

“Saya salut sama anak-anak KKN ini, nggak jijik pegang kotoran sapi,” ujar salah satu warga.

Bagi mahasiswa KKN, keterlibatan langsung warga menjadi bagian penting agar pengetahuan mengenai pengolahan limbah ternak tidak berhenti pada kegiatan demonstrasi. Pengolahan kotoran sapi diharapkan dapat terus dilakukan sehingga memiliki manfaat bagi aktivitas pertanian masyarakat.

Selain mengurangi penumpukan limbah peternakan, pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik diperkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar warga juga membuka peluang penggunaan kembali limbah peternakan untuk kebutuhan pertanian.

Penyerahan pupuk organik padat yang sudah jadi kepada Bapak Kawito selaku Ketua Kelompok Tani Ternak (KTT) Sayuk Rukun. (Dok. Pribadi/KKN UNS Kelompok 44)
Penyerahan pupuk organik padat yang sudah jadi kepada Bapak Kawito selaku Ketua Kelompok Tani Ternak (KTT) Sayuk Rukun. (Dok. Pribadi/KKN UNS Kelompok 44)

Sebagai bagian dari keberlanjutan kegiatan, mahasiswa KKN UNS Kelompok 44 menyerahkan pupuk organik padat yang telah selesai diproduksi kepada Kawito selaku Ketua KTT Sayuk Rukun. Pupuk tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk mendukung kegiatan pertanian mereka.

Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan KKN UNS Kelompok 44 di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Kegiatan berada di bawah bimbingan Catur Sugiarto, S.E., M.SM., M.Rech., Ph.D., CDMP., CPM (Asia) selaku Dosen Pembimbing Lapangan.

Program dilaksanakan Salma Eliana Suryanto, Adjie Eza Poetra, Alya Qomalasari, Alya Azizah, Luthfiah Resti Hikmahita, Hudha Aulya Lutfiona, Firdausi Hanifa Zayniputri, Meyshaulla Salma Retyas, Aprilia Pamuji, dan Putri Nurraini Mei Setiani.

Pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik padat menunjukkan bahwa limbah dari aktivitas peternakan masih dapat dikembangkan menjadi sumber daya yang berguna bagi pertanian. Melalui keterlibatan warga sejak tahap pengolahan hingga pemanfaatan, mahasiswa KKN mendorong agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan di Dusun Tugurejo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *