Regenerasi Pranatacara di Desa Mundu Dimulai dari Keberanian Remaja Tampil di Depan Publik

Foto Bersama Pemuda-Pemudi Desa Mundu. (Dok. Pribadi/KKN 144 UNS)
Foto Bersama Pemuda-Pemudi Desa Mundu. (Dok. Pribadi/KKN 144 UNS)

Mundu, Krajan.id – Kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu bekal yang perlu dimiliki generasi muda, termasuk untuk menjaga keberlanjutan tradisi di tingkat desa. Persoalan itu menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 144 melalui pelatihan keterampilan pranatacara bagi remaja Desa Mundu, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.

Pelatihan tersebut digelar di TPQ Al-Ikhlas, Dukuh Kwarangan, Desa Mundu, pada Ahad (2/8/2026). Kegiatan diikuti puluhan remaja setempat dan diarahkan untuk menjawab persoalan minimnya regenerasi pranatacara atau juru pambiwara di kalangan generasi muda.

Bacaan Lainnya

Pranatacara memiliki posisi penting dalam berbagai kegiatan masyarakat Jawa. Selain bertugas memandu jalannya acara, seorang pranatacara dituntut mampu menggunakan bahasa Jawa krama, mengatur intonasi, menjaga ketepatan susunan acara, serta memiliki keberanian tampil di hadapan khalayak.

Di Desa Mundu, keterampilan tersebut dinilai masih dibutuhkan dalam berbagai hajatan dan kegiatan kemasyarakatan. Namun, keberadaan generasi muda yang menguasai tata cara pranatacara mulai terbatas.

Kondisi itu mendorong mahasiswa KKN UNS Kelompok 144 menyusun pelatihan yang tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai teknik menjadi pembawa acara. Peserta juga diberi ruang untuk mengasah keberanian dan mempraktikkan kemampuan tersebut secara langsung.

Materi pelatihan mencakup penggunaan bahasa Jawa krama, teknik olah vokal dan intonasi, penyusunan susunan acara atau ubarampe, serta praktik membawakan acara di depan peserta lain. Pola pelatihan tersebut membuat peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga belajar menerapkannya dalam situasi praktik.

Untuk memperkuat materi, mahasiswa KKN menghadirkan Kent Fauzan Suryo Rambeli sebagai narasumber. Ia merupakan alumnus Siswa Sanggar Pambiwara Mardikundha Karaton Surakarta Hadiningrat babaran 43.

Kehadiran narasumber tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN memperkenalkan keterampilan pranatacara yang bersumber dari tradisi kepambiwaraan Jawa. Materi yang diberikan diharapkan dapat menjadi pijakan bagi remaja untuk memahami pranatacara sekaligus mengenal kembali salah satu keterampilan budaya yang masih digunakan dalam kehidupan masyarakat.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 144 Desa Mundu, M. Rudianto, S.E., S.Sn., M.Sn., menilai pelatihan tersebut memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar kemampuan memandu acara.

Menurut dia, keterampilan berbicara di depan umum dapat membantu membangun kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan remaja. Kemampuan tersebut dapat digunakan dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

“Ke depan, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu modal bagi remaja Desa Mundu untuk tampil lebih percaya diri, komunikatif, dan profesional dalam berbagai ruang publik. Dengan demikian, pelatihan pranatacara/MC ini dapat menjadi bagian dari upaya pemberdayaan generasi muda sekaligus memperkuat partisipasi mereka dalam kehidupan sosial dan pembangunan Desa Mundu,” ujar M. Rudianto.

Bagi mahasiswa KKN, keberlanjutan program menjadi salah satu hal yang turut diperhatikan. Pelatihan tidak diarahkan semata-mata sebagai kegiatan yang selesai bersamaan dengan berakhirnya masa KKN. Remaja yang mengikuti kegiatan diharapkan dapat meneruskan keterampilan tersebut dan menggunakannya dalam kegiatan desa.

Kemampuan pranatacara dapat dimanfaatkan dalam kegiatan kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, hingga kegiatan sosial dan budaya. Dengan munculnya generasi muda yang memiliki kemampuan tersebut, kebutuhan terhadap juru pambiwara di lingkungan desa diharapkan dapat diisi secara bertahap oleh generasi berikutnya.

Namun, kemampuan teknis bukan satu-satunya persoalan yang muncul dalam pelatihan. Kesiapan mental justru menjadi salah satu catatan penting dari kegiatan tersebut.

Sesi Praktek  Pranatacara. (Dok. Pribadi/KKN 144 UNS)
Sesi Praktek Pranatacara. (Dok. Pribadi/KKN 144 UNS)

Ketua RT setempat yang menyaksikan pelatihan menilai program yang dirancang mahasiswa KKN sudah runtut dan lengkap. Ia juga melihat antusiasme peserta melalui berbagai masukan yang disampaikan selama kegiatan berlangsung.

“Proker pelatihan pranatacara punika tatananipun sampun runtut lan jangkep. Sanajan taksih wonten kekurangan, punika perkawis ingkang lumrah. Ingkang dados cathetan wigati inggih punika gregetipun para pemuda ingkang kathah maringi masukan. Wulangan ingkang paling wigati saking kagiatan punika: senajan gadhah bekal materi kathah, bilih boten dipun kuasai lan boten gadhah mental, nggih bakal percuma. Ingkang paling baku inggih punika mbangun mental rumiyin,” ungkap Ketua RT setempat.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dari pelatihan. Penguasaan materi pranatacara tidak otomatis membuat seseorang mampu tampil dengan baik. Kemampuan menyampaikan acara di depan banyak orang membutuhkan keberanian, penguasaan diri, dan kesiapan mental.

Dalam konteks regenerasi, persoalan tersebut menjadi penting. Remaja yang memahami teknik pranatacara tetapi tidak berani tampil akan kesulitan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, keberanian tampil yang disertai penguasaan materi dapat menjadi modal untuk mengembangkan kemampuan komunikasi secara berkelanjutan.

Pelatihan pranatacara juga memiliki kaitan dengan upaya menjaga keberadaan budaya Jawa di tengah perubahan sosial. Bahasa, tata cara, dan etika dalam pranatacara merupakan bagian dari pengetahuan budaya yang diwariskan antargenerasi.

Program tersebut sekaligus sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan keterampilan nonformal generasi muda. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui upaya menjaga budaya lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat.

KKN UNS Kelompok 144 di Desa Mundu melibatkan sembilan mahasiswa, yakni Raka Nur Aziizul, Anita Kristiana, Akbar Maulana Rifki, Zahra Annisa Fitriani, Afnia Nursidik, Zakiya Al Hayaah, Salma Qonita, Aulia Syifa Muthiannida, dan Nisrina Atha Albirra.

Melalui pelatihan tersebut, regenerasi pranatacara tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan mempertahankan tradisi. Lebih dari itu, keterampilan berbicara di depan publik menjadi sarana bagi remaja untuk membangun kepercayaan diri dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Bagi Desa Mundu, keberadaan remaja yang mampu menjadi pranatacara dapat menjadi investasi sosial dan budaya. Sementara bagi peserta, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal untuk tampil di ruang publik sekaligus mengenal dan meneruskan tradisi yang hidup di lingkungan mereka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *