Solo, Krajan.id – Perubahan sosial tidak selalu berlangsung dalam ruang kebijakan atau institusi besar. Di tingkat desa dan komunitas, perubahan dapat terlihat dari cara warga mengelola air, mempertahankan kesenian tradisional, membangun jaringan sosial, hingga mengembangkan potensi ekonomi lokal. Beragam persoalan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam The 9th International Conference on Social and Political Sciences (ICOSAPS) 2026 di Kota Solo.
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) menggelar ICOSAPS 2026 pada 9–10 September 2026 di UNS Tower, Jebres, Solo. Konferensi dua tahunan itu mempertemukan lebih dari 100 pemakalah dan peserta dari hampir 20 institusi.
Peserta berasal dari Indonesia serta sejumlah negara, antara lain Malaysia, Zimbabwe, Timor-Leste, Tanzania, Sierra Leone, Filipina, dan Sri Lanka. Konferensi mengangkat tema “Negotiating Changes: Society, Policy, and Global Engagement for Sustainable Future”.
Salah satu ciri konferensi tahun ini adalah kuatnya keterkaitan penelitian dengan persoalan di tingkat lokal. Sejumlah makalah yang dipresentasikan berangkat dari penelitian lapangan di desa dan komunitas akar rumput.
Dalam ruang paralel bertema Sustainability, Community Resilience & Local Development, misalnya, peneliti membahas modal sosial dan nilai adat masyarakat Kasepuhan Gelar Alam. Ada pula kajian mengenai pemetaan jaringan perlindungan sosial pada ekosistem industri batik Desa Trusmi, Cirebon, serta penelitian mengenai jalur kemandirian penerima Program Keluarga Harapan.
Persoalan pengelolaan sumber daya juga menjadi perhatian. Dosen Sosiologi FISIP UNS, Triana Rahmawati, S.Sos., M.Sos., mempresentasikan makalah berjudul “Assembling Water: Institutional Bricolage, Moral Economy, and the Electricity Ceiling in a Central Javanese Village”.

Penelitian kualitatif tersebut menelusuri cara warga desa menyusun aturan dalam mengelola air sekaligus melihat bagaimana keterbatasan daya listrik turut memengaruhi akses masyarakat terhadap sumber daya tersebut.
Isu masyarakat desa dan kebudayaan lokal juga hadir dalam sejumlah penelitian lain. Di antaranya kajian penyebaran narasi budaya Jawa melalui akun TikTok Museum Keraton Surakarta Hadiningrat, penelitian mengenai bahasa gaul Boso Katengko sebagai penanda identitas anak muda Ngawi, serta kajian ketahanan kesenian jathilan dalam menghadapi perubahan sosial.
Selain itu, terdapat penelitian mengenai peluang ekspor bagi pelaku usaha mikro gula semut di Kebumen. Keragaman topik tersebut menunjukkan bagaimana perubahan sosial dapat dibaca dari berbagai sisi, mulai dari tata kelola sumber daya, kebudayaan, identitas generasi muda, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Konferensi berlangsung dalam dua hari dengan format berbeda. Pada hari pertama, Rabu (9/9), kegiatan digelar secara hibrida di Ballroom UNS Tower lantai 3 dan dibuka Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset UNS, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, S.Si., M.Si.
Sesi panel menghadirkan lima pembicara utama dari lima negara. Ts. Dr. Latifah binti Abd Latib dari Universiti Putra Malaysia dan Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., dari Universitas Sebelas Maret hadir secara langsung.
Sementara itu, Prof. Paul Fawcett, Ph.D., dari The Australia and New Zealand School of Government (ANZSOG), Farzana Nayani dari University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, dan Arno T. Immelman, M.Sc., dari Prince of Songkla University, Thailand, mengikuti secara daring.
Immelman sebelumnya dijadwalkan hadir langsung di Solo. Namun, kehadirannya berubah menjadi daring karena gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik di wilayah Indonesia.
Pada sesi siang, panitia menggelar tiga lokakarya, yakni Social Network Analysis, NVivo untuk penelitian kualitatif, dan Policy Brief. Lokakarya tersebut diperuntukkan bagi peserta yang telah melakukan pendaftaran.
Hari kedua, Kamis (10/9), berlangsung sepenuhnya secara daring melalui tujuh ruang sesi paralel.
ICOSAPS 2026 diselenggarakan bersama sejumlah co-host, yakni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA), dan Telkom University. Makalah terpilih berpeluang diterbitkan dalam jurnal internasional dan nasional bereputasi, prosiding internasional Atlantis Press, serta book chapter ber-ISBN.
Ketua Panitia ICOSAPS 2026, Dr. Asal Wahyuni Erlin Mulyadi, S.Sos., MPA, mengatakan persoalan sosial dan politik saat ini tidak lagi dapat dipahami secara terpisah.
“Mengutip Ki Hajar Dewantara dan John F. Kennedy bahwa change is the law of life menjadi pengingat bahwa peran perguruan tinggi bukan sekedar menjadi penonton perubahan melainkan turut memberi arah bagi perubahan itu sendiri,” katanya.

Rangkaian ICOSAPS 2026 ditutup dengan pengumuman Best Presenter dan Best Paper. Melalui forum tersebut, penelitian mengenai desa, komunitas, dan kebudayaan lokal ditempatkan dalam percakapan akademik yang lebih luas mengenai perubahan sosial, kebijakan, dan pembangunan berkelanjutan.





