Padukuhan Mertan, Krajan.id – Ranting kayu, daun kering, kotoran hewan, tanah, hingga sisa sayuran rumah tangga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari media tanam. Pemanfaatan bahan organik tersebut diperkenalkan mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Periode 159 Unit III.B.3 melalui teknik Hügelkultur kepada masyarakat Padukuhan Mertan, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Edukasi sekaligus praktik pembuatan Hügelkultur digelar pada Minggu (23/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa dengan mengajak masyarakat melihat kembali potensi bahan organik di lingkungan sekitar yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah.
Hügelkultur merupakan teknik bercocok tanam yang berasal dari Jerman. Teknik ini menggunakan bedengan yang tersusun dari material organik yang dapat terurai secara alami. Material tersebut kemudian ditutup dengan tanah dan dimanfaatkan sebagai media tanam.

Dalam proses penguraiannya, material organik di dalam bedengan dapat membantu menyediakan unsur hara sekaligus mempertahankan kelembapan tanah. Karena itu, teknik tersebut dapat menjadi salah satu alternatif bercocok tanam dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar rumah.
Di Padukuhan Mertan, mahasiswa memperkenalkan penggunaan sejumlah bahan sederhana untuk membuat bedengan Hügelkultur. Bahan tersebut antara lain ranting atau potongan kayu, daun kering, kohe atau kotoran hewan, dan tanah.
Bahan organik lain, seperti sisa sayuran dari dapur, juga dapat dimanfaatkan sebagai material tambahan. Penggunaannya tetap perlu memperhatikan pemilahan agar bahan organik tidak tercampur dengan sampah anorganik.
Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai konsep, manfaat, serta tahapan penerapan Hügelkultur. Mahasiswa menjelaskan bahwa bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dikembalikan ke dalam siklus pemanfaatan melalui pengolahan sebagai bagian dari media tanam.
Setelah sesi edukasi, mahasiswa bersama masyarakat mempraktikkan langsung pembuatan bedengan. Ranting atau potongan kayu terlebih dahulu disusun sebagai lapisan dasar. Lapisan tersebut kemudian dilanjutkan dengan daun kering dan bahan organik lainnya.
Tahap berikutnya adalah penambahan kohe atau kotoran hewan. Setelah susunan bahan organik terbentuk, seluruh lapisan ditutup dengan tanah yang berfungsi sebagai media tanam. Sisa sayuran dari dapur dapat ditambahkan sebagai bahan organik tambahan untuk mendukung proses penguraian.
Praktik dilakukan secara gotong royong. Pola tersebut membuat masyarakat tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi juga dapat mengamati sekaligus mencoba setiap tahapan pembuatan bedengan Hügelkultur.
Ketua Kelompok KKN UAD Periode 159, Zanuar Andika Pratama, mengatakan pengenalan teknik tersebut ditujukan untuk memberikan alternatif bercocok tanam yang sederhana dan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat.
“Kami ingin mengenalkan teknik Hügelkultur kepada masyarakat sebagai salah satu alternatif bercocok tanam yang dapat memanfaatkan bahan-bahan organik di sekitar. Harapannya masyarakat tidak hanya mengetahui teorinya, tetapi juga bisa menerapkannya secara mandiri di rumah,” ujar Zanuar.
Menurut rilis kegiatan, penerapan Hügelkultur juga berpotensi membantu masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan bahan organik yang tersedia di sekitar. Dengan pendekatan tersebut, ranting, daun kering, kohe, tanah, dan sisa sayuran tidak hanya dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
Bagi masyarakat Padukuhan Mertan, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan cara baru dalam memanfaatkan bahan organik yang mudah ditemukan. Salah satu warga, Gunawan, mengaku sebelumnya belum mengetahui teknik Hügelkultur.
“Sebelumnya saya belum mengetahui tentang teknik Hügelkultur. Setelah mengikuti kegiatan ini saya jadi tahu bahwa ranting, daun kering, dan bahan organik lainnya bisa dimanfaatkan untuk membuat media tanam,” ungkap Gunawan.
Pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu aspek yang ditekankan dalam kegiatan tersebut. Selain berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam, pengolahan material organik dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi bahan yang berakhir sebagai limbah.
Mahasiswa KKN UAD Periode 159 Unit III.B.3 berharap praktik yang diperkenalkan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Masyarakat diharapkan dapat mengembangkan teknik Hügelkultur secara mandiri sesuai dengan ketersediaan bahan dan kondisi lingkungan setempat.
Program tersebut juga menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak selalu berbentuk pemberian bantuan fisik. Transfer pengetahuan dan praktik sederhana yang dapat diterapkan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun pemanfaatan sumber daya lokal.
Melalui edukasi dan praktik langsung, masyarakat Padukuhan Mertan memperoleh gambaran mengenai cara mengolah bahan organik menjadi bagian dari media tanam. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan sekaligus berinteraksi langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Pengenalan teknik Hügelkultur pada akhirnya diarahkan sebagai langkah awal untuk membangun kebiasaan memanfaatkan bahan organik secara lebih optimal. Jika dikembangkan secara konsisten, praktik tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bercocok tanam yang memanfaatkan sumber daya lokal dan mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.





