Mahasiswa MKT UNTIDAR Dorong Literasi dan Keterampilan Digital Siswa SMPIT Ihsanul Fikri Magelang

Dokumentasi berbagai program pembelajaran yang memadukan literasi, bahasa, kreativitas, dan teknologi yang dilakukan mahasiswa MKT UNTIDAR untuk siswa SMPIT Ihsanul Fikri Kota Magelang. (Dok. Pribadi/MKT UNTIDAR)
Dokumentasi berbagai program pembelajaran yang memadukan literasi, bahasa, kreativitas, dan teknologi yang dilakukan mahasiswa MKT UNTIDAR untuk siswa SMPIT Ihsanul Fikri Kota Magelang. (Dok. Pribadi/MKT UNTIDAR)

Magelang, Krajan.id – Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (UNTIDAR) tahun 2026 mengembangkan program pembelajaran yang memadukan literasi, bahasa, kreativitas, dan teknologi bagi siswa SMPIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.

Program tersebut dikemas melalui Saturday RISE, akronim dari Reading, Innovation, Speaking, and Expression. Kegiatan ini dilaksanakan rutin setiap Sabtu sejak 25 Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Saturday RISE dirancang untuk memberikan ruang kepada siswa dalam mengembangkan kemampuan yang saling berkaitan. Aspek Reading diarahkan pada penguatan literasi, Innovation mengenalkan teknologi melalui pemrograman Python dan desain Canva, Speaking melatih kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sedangkan Expression mendorong siswa menuangkan gagasan melalui karya sastra.

Program tersebut tidak hanya menempatkan teknologi sebagai materi pembelajaran, tetapi juga menggabungkannya dengan kemampuan membaca, berbicara, menulis, dan berkarya. Pendekatan itu membuat siswa memiliki kesempatan untuk mencoba berbagai bentuk kegiatan sesuai minat dan kemampuan mereka.

Pelaksanaan Saturday RISE melibatkan mahasiswa dari sejumlah program studi di UNTIDAR. Setiap kelompok mahasiswa bertanggung jawab pada kegiatan yang sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, misalnya, mengelola kegiatan Expression. Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak mengembangkan kemampuan literasi melalui aktivitas menulis.

Materi menulis disesuaikan dengan jenjang kelas. Siswa kelas 7 diarahkan membuat pantun, siswa kelas 8 menulis puisi, sedangkan siswa kelas 9 mendapatkan tugas membuat cerpen.

Pembagian tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal karakteristik berbagai bentuk karya sastra. Mereka juga dapat belajar mengembangkan gagasan dan imajinasi melalui proses menulis yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan masing-masing.

Kegiatan Expression tidak berhenti pada proses pembelajaran di kelas. Karya yang dihasilkan para siswa nantinya akan dikumpulkan menjadi buku kumpulan karya sastra.

Rencana tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar mengenai teknik menulis, tetapi juga memiliki kesempatan menghasilkan karya yang terdokumentasi dan dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar mereka di sekolah.

Melalui kegiatan tersebut, siswa didorong untuk lebih berani menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Proses itu sekaligus menjadi ruang bagi mereka untuk mengenali potensi dan karakter kreativitas masing-masing.

Sementara itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris mengelola kegiatan Speaking. Fokus kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan komunikasi siswa menggunakan bahasa Inggris.

Siswa diperkenalkan dengan greeting dan storytelling melalui kegiatan yang interaktif. Dalam praktik storytelling, siswa belajar membaca cerita berbahasa Inggris dengan memperhatikan nada baca, pronunciation, serta ekspresi dan emosi saat menyampaikan cerita.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan bahasa Inggris secara langsung. Mereka tidak hanya mempelajari materi secara teori, tetapi juga berlatih berbicara dan menyampaikan cerita di hadapan orang lain.

Kemampuan berbicara menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena siswa dituntut untuk membangun kepercayaan diri ketika berkomunikasi. Pengalaman tampil dan berbicara di depan orang lain juga dapat membantu siswa mengurangi rasa ragu ketika menggunakan bahasa Inggris.

Selain literasi dan bahasa, aspek teknologi menjadi bagian dari Saturday RISE melalui kegiatan Innovation. Program ini dikelola mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika dengan mengenalkan dasar-dasar pemrograman menggunakan Python serta desain digital menggunakan Canva.

Pengenalan pemrograman Python memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami dasar teknologi pemrograman. Sementara itu, Canva digunakan sebagai media untuk mengembangkan kemampuan desain dan kreativitas digital.

Siswa memanfaatkan Canva untuk membuat sejumlah desain, antara lain poster struktur kelas, kampanye anti-bullying, dan jadwal piket. Aktivitas tersebut memperkenalkan penggunaan teknologi dalam konteks pembelajaran dan pembuatan karya.

Pendekatan itu sekaligus menunjukkan bahwa perangkat dan platform digital dapat digunakan untuk kegiatan yang produktif. Siswa diarahkan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan sesuatu.

Kolaborasi mahasiswa dari berbagai program studi menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan Saturday RISE. Kemampuan yang dikembangkan tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi antara literasi, komunikasi, teknologi, dan kreativitas.

Melalui kegiatan membaca, menulis, berbicara, coding, hingga desain digital, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih beragam. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menemukan bidang yang paling menarik bagi dirinya.

Salah satu mahasiswa MKT UNTIDAR, Farra, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan teknologi kepada siswa di lingkungan pesantren. Namun, pengenalan teknologi tetap diarahkan agar siswa mampu menggunakannya secara bijak dan kreatif.

“Program MKT ini menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan teknologi kepada anak-anak di lingkungan pesantren. Kami berharap mereka tetap melek teknologi, sekaligus mampu memanfaatkannya dengan bijak untuk menghasilkan karya sesuai dengan kreativitas dan kemampuan mereka sendiri, bukan sekadar mengandalkan atau menyalin hasil dari AI. Kami ingin kegiatan setiap Sabtu tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar hal baru dan mengeksplorasi kreativitas dalam berkarya. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara kreatif dan bertanggung jawab,” ujar Farra, salah satu mahasiswa MKT UNTIDAR.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa program Saturday RISE juga diarahkan untuk membangun kesadaran siswa dalam menggunakan teknologi. Di tengah semakin mudahnya akses terhadap berbagai perangkat dan kecerdasan buatan, siswa tetap didorong untuk menghasilkan gagasan berdasarkan kemampuan dan kreativitas sendiri.

Antusiasme siswa mengikuti kegiatan juga terlihat selama pelaksanaan program. Salah satunya ditunjukkan Syamil, siswa peserta Saturday RISE yang tertarik mempelajari pemrograman.

“Saya pengen bisa belajar coding, jadi dengan mengikuti kegiatan MKT ini jadi bisa belajar coding,” ujarnya.

Selain coding, Syamil juga menikmati kegiatan menulis cerpen. Ia menilai aktivitas tersebut menarik karena dirinya menyukai kegiatan mengarang dan menciptakan cerita.

Bagi siswa, kesempatan mengikuti berbagai kegiatan dalam satu program memberikan ruang untuk mencoba pengalaman baru. Siswa dapat mengikuti aktivitas teknologi sekaligus mengembangkan kemampuan menulis dan berkomunikasi.

Hal tersebut membuat Saturday RISE tidak sekadar menjadi kegiatan tambahan pada akhir pekan. Program ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan kemampuan akademik dan kreativitas siswa melalui kegiatan yang lebih aplikatif.

Koordinator ekstrakurikuler SMPIT Ihsanul Fikri, Elis, juga menilai kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa MKT UNTIDAR relevan dengan kebutuhan siswa di sekolah.

“Kegiatan yang dilakukan sudah sangat relevan dengan kebutuhan di sekolah. Harapannya program ini tidak hanya berhenti disitu saja, melainkan ada kegiatan celebrasi atau sebuah penampilan terhadap hasil karya siswa,” ujarnya.

Harapan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan hasil pembelajaran yang telah dilakukan siswa. Karya yang dibuat melalui kegiatan Expression, misalnya, tidak hanya diharapkan menjadi tugas kelas, tetapi dapat ditampilkan atau didokumentasikan sehingga siswa memperoleh pengalaman untuk mengapresiasi hasil karyanya sendiri.

Kehadiran Saturday RISE menunjukkan upaya mahasiswa MKT UNTIDAR mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi. Siswa diberi kesempatan untuk belajar melalui praktik, mencoba teknologi, berkomunikasi, serta menghasilkan karya.

Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa dari berbagai program studi membuat kegiatan tersebut memiliki pendekatan yang beragam. Kompetensi mahasiswa diterapkan sesuai bidang masing-masing, kemudian dipadukan dalam satu program yang ditujukan bagi kebutuhan siswa.

Melalui kegiatan tersebut, siswa SMPIT Ihsanul Fikri Kota Magelang diharapkan semakin percaya diri dalam menyampaikan gagasan, mampu mengembangkan kreativitas, serta memiliki keterampilan dasar dalam memanfaatkan teknologi.

Saturday RISE juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa MKT UNTIDAR untuk menerapkan kompetensi akademik dalam lingkungan pendidikan secara langsung. Kolaborasi tersebut mempertemukan kebutuhan siswa dengan keahlian mahasiswa, sekaligus membuka ruang bagi pembelajaran yang lebih kontekstual.

Dengan memadukan literasi dan teknologi, program ini diarahkan untuk membekali siswa menghadapi perubahan cara belajar dan perkembangan teknologi. Kemampuan menggunakan teknologi tetap ditempatkan berdampingan dengan kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan menghasilkan karya secara mandiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *