EcoBank Desa KKN 237 UNS Dorong Warga Lemahbang Melihat Sampah sebagai Sumber Nilai Ekonomi

Foto Bersama Pak Dukuh dan Pak RT dalam Pelaksanaan Kegiatan EcoBank Desa. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)
Foto Bersama Pak Dukuh dan Pak RT dalam Pelaksanaan Kegiatan EcoBank Desa. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)

Lemahbang, Krajan.id – Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kaleng kerap dipandang sebagai barang sisa yang tidak lagi memiliki kegunaan. Namun, ketika dipilah dan dikumpulkan dengan baik, jenis sampah tersebut masih dapat memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

Pemahaman itulah yang coba dibangun Kelompok 237 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui program EcoBank Desa di Padukuhan Lemahbang, Kalurahan Gayamharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

Program bertema “EcoBank Desa: Membangun Budaya Menabung Sampah untuk Masa Depan Berkelanjutan” tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah anorganik.

Alih-alih hanya berfokus pada persoalan membuang sampah, program ini memperkenalkan pendekatan berbeda. Sampah yang masih memiliki nilai dapat dikumpulkan dan dikelola sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah.

Menyediakan Sarana di Lima RT

Salah satu langkah awal Kelompok 237 KKN UNS adalah menyediakan sarana pengumpulan sampah anorganik di lingkungan Padukuhan Lemahbang. Tempat pengumpulan tersebut dibuat menggunakan kawat strimin dan PVC board.

Pembuatan sarana dimulai pada 31 Juli 2026. Setelah selesai, sebanyak 10 tempat pengumpulan sampah diserahkan kepada masyarakat pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Penyerahan dilakukan di Padukuhan Lemahbang dan Balai Dusun Lemahbang bersama Suroto selaku Dukuh Lemahbang.

Sepuluh tempat tersebut kemudian didistribusikan ke lima RT, yakni RT 1 hingga RT 5. Masing-masing RT mendapatkan dua tempat pengumpulan.

Sarana itu diperuntukkan bagi masyarakat untuk mengumpulkan sejumlah jenis sampah anorganik, terutama botol plastik, kardus, dan kaleng yang masih mempunyai nilai guna dan nilai jual.

Pembagian tempat pengumpulan ke setiap RT diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam memilah sampah sejak dari lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada proses pembuangan, tetapi dimulai dari kebiasaan memilah dan mengumpulkan.

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

EcoBank Desa tidak berhenti pada penyediaan fasilitas. Program tersebut membawa gagasan bahwa perubahan pengelolaan sampah perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.

Melalui konsep menabung sampah, masyarakat diperkenalkan pada pemahaman bahwa sampah anorganik tidak selalu harus diperlakukan sebagai barang yang tidak berguna. Material yang dipilah dan dikumpulkan secara tepat masih dapat dimanfaatkan serta memiliki nilai ekonomi.

Pendekatan tersebut sekaligus mempertemukan dua kepentingan. Pengelolaan sampah dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan, sementara sampah yang terkumpul berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, keberadaan tempat pengumpulan di setiap RT menjadi bagian dari langkah awal untuk membangun kebiasaan tersebut. Fasilitas yang sederhana diarahkan untuk mendukung proses yang lebih panjang, yakni membentuk budaya memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan.

Program ini juga mendapat apresiasi dari Panewu Prambanan, Purwati, S.H., M.M. Ia berharap kegiatan EcoBank Desa dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh kelompok KKN berikutnya.

Harapan keberlanjutan tersebut menjadi penting karena keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh tersedianya sarana selama mahasiswa menjalankan KKN. Keberlanjutan justru bergantung pada kemampuan masyarakat untuk mempertahankan kebiasaan memilah dan mengumpulkan sampah setelah program selesai.

Berharap Berlanjut Setelah KKN

Reyhan Adiyanova, mahasiswa S1 FKIP Pendidikan Ekonomi UNS sekaligus penanggung jawab program EcoBank Desa, mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pembelajaran baru.

Bagi Reyhan, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, tetapi juga bagaimana membangun kepedulian masyarakat sekaligus melihat peluang yang dapat dikembangkan dari persoalan sampah.

Berbagai tantangan selama pelaksanaan program dapat dilalui melalui kerja sama Kelompok 237 KKN UNS dan dukungan masyarakat Lemahbang.

Reyhan berharap program Bank Sampah dapat terus dilanjutkan sehingga manfaatnya tidak berhenti ketika masa KKN berakhir.

Ia juga berharap kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat tetap berjalan di tengah masyarakat. Dengan begitu, fasilitas yang telah disediakan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan KKN, tetapi dapat menjadi pendukung bagi kebiasaan baru dalam mengelola sampah.

EcoBank Desa pada akhirnya menjadi langkah awal untuk memperkenalkan cara pandang bahwa persoalan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan kebersihan. Jika dikelola dengan tepat, sampah anorganik juga dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi berbasis masyarakat.

Program tersebut turut dikaitkan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, melalui pengenalan pemanfaatan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi serta dorongan terhadap kegiatan ekonomi berbasis masyarakat.

Meski demikian, capaian program tidak hanya dapat dilihat dari jumlah tempat pengumpulan yang telah tersedia. Ukuran yang lebih penting adalah apakah kebiasaan memilah, mengumpulkan, dan mengelola sampah dapat terus dilakukan masyarakat setelah mahasiswa KKN meninggalkan Lemahbang.

Di titik itulah EcoBank Desa diharapkan tidak berhenti sebagai program kerja mahasiswa, melainkan menjadi awal dari kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah secara lebih bertanggung jawab sekaligus melihat peluang ekonomi di dalamnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *