KKN 237 UNS Dorong Pemanfaatan Jagung Lokal Lewat Inovasi Susu Jagung

Foto Bersama Sosialisasi dan Demonstrasi Pembuatan Susu Jagung. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)
Foto Bersama Sosialisasi dan Demonstrasi Pembuatan Susu Jagung. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)

Lemahbang, Krajan.id – Jagung selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan pangan yang diolah menjadi makanan. Di Padukuhan Lemahbang, Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), komoditas tersebut diperkenalkan dalam bentuk lain melalui inovasi SAJAGI (Susu Jagung Istimewa) yang dikembangkan Kelompok 237 KKN Universitas Sebelas Maret (UNS).

Produk Susu Jagung. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)
Produk Susu Jagung. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui program bertajuk Emas Kuning dari Ladang: Inovasi SAJAGI (Susu Jagung Istimewa) sebagai Minuman Bernilai Tambah dan Berdaya Saing Ekonomi. Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan SAJAGI berlangsung di Balai Dusun Lemahbang pada Selasa (28/7/2026).

Bacaan Lainnya

Program ini tidak hanya mengenalkan alternatif pengolahan jagung, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali potensi pangan lokal sebagai bahan baku produk yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan usaha skala rumah tangga.

Mengolah Jagung Menjadi Produk Bernilai Tambah

Demonstrasi Pembuatan Susu Jagung. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)
Demonstrasi Pembuatan Susu Jagung. (Dok. Pribadi/KKN 237 UNS)

Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai kandungan gizi jagung, pentingnya konsumsi susu, serta peluang ekonomi dari pengolahan jagung menjadi minuman. Materi tersebut disampaikan Annida Azyan Nurul Hidayah, mahasiswa S1 Peternakan UNS sekaligus penanggung jawab program kerja.

Setelah pemaparan materi, warga mengikuti demonstrasi pembuatan SAJAGI. Proses dilakukan secara interaktif sehingga peserta dapat melihat secara langsung tahapan pengolahan, mulai dari persiapan bahan hingga produk siap dikonsumsi.

Pembuatan SAJAGI diawali dengan pemipilan jagung manis. Jagung kemudian direbus bersama bonggolnya sebelum diblender. Hasil blender selanjutnya disaring untuk memperoleh sari jagung.

Sari jagung tersebut kembali direbus dengan tambahan susu full cream, gula, dan garam. Tahapan ini diperagakan secara langsung agar warga tidak hanya mengenal produk akhirnya, tetapi juga memahami proses pengolahan yang perlu dilakukan secara higienis.

Pendekatan praktik tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena pengetahuan mengenai bahan pangan lokal tidak berhenti pada aspek konsumsi. Warga juga diperkenalkan pada kemungkinan mengolah komoditas yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk dengan bentuk dan nilai jual berbeda.

Dari Bahan Pangan Menjadi Peluang Usaha

Selain demonstrasi pembuatan, program SAJAGI memberikan pengenalan mengenai pengembangan produk dan peluang usaha lokal. Materi mencakup sejumlah aspek dasar bisnis rintisan, seperti pengemasan, pemasaran digital, hingga sistem titip jual di warung sekitar.

Pengenalan tersebut diarahkan agar masyarakat memiliki gambaran mengenai tahapan yang dapat dilakukan apabila produk susu jagung dikembangkan lebih lanjut. Dengan demikian, jagung tidak hanya ditempatkan sebagai bahan pangan untuk konsumsi keluarga, tetapi juga sebagai bahan baku produk olahan yang berpotensi menghasilkan pendapatan.

Bagi masyarakat pedesaan, pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di sekitar lingkungan dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah dikenal. Pengolahan menjadi produk turunan juga membuka ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Warga Ikut Terlibat dalam Proses

Pelaksanaan program mendapat perhatian dari warga, termasuk ibu-ibu PKK dan anak-anak yang mengikuti rangkaian sosialisasi, pelatihan, serta demonstrasi. Keterlibatan peserta menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa KKN dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat.

Bagi Annida, proses tersebut juga memberikan pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan teknis selama kegiatan. Interaksi dengan warga menjadi ruang bagi anggota kelompok untuk mengasah kemampuan komunikasi, adaptasi, dan pengelolaan kegiatan di tengah masyarakat.

Annida berharap inovasi tersebut tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Ia berharap masyarakat dapat terus mengembangkan pengolahan bahan pangan lokal secara kreatif dan higienis serta menjadikan SAJAGI sebagai salah satu embrio usaha mikro yang dapat dikelola secara mandiri.

Keberlanjutan program, menurutnya, juga membutuhkan semangat gotong royong dan kekompakan masyarakat agar inovasi yang diperkenalkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan warga.

Mendukung Pengembangan Ekonomi Lokal

Program SAJAGI menjadi salah satu upaya Kelompok 237 KKN UNS untuk memperkenalkan keterampilan produktif berbasis potensi lokal. Pengolahan jagung menjadi minuman memberikan contoh bahwa komoditas pangan dapat dikembangkan melalui diversifikasi produk.

Dari sisi pemberdayaan, kegiatan tersebut juga menghubungkan pengetahuan mengenai gizi, pengolahan pangan, dan kewirausahaan dalam satu rangkaian kegiatan. Pendekatan itu sejalan dengan tujuan program untuk memperkenalkan keterampilan yang dapat mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.

Melalui pengembangan keterampilan produktif dan pengenalan peluang usaha mandiri, program SAJAGI turut diarahkan untuk mendukung SDG 8 atau Decent Work and Economic Growth, khususnya melalui penguatan potensi ekonomi lokal.

Dengan demikian, keberadaan jagung di lingkungan masyarakat tidak berhenti pada fungsi sebagai bahan pangan. Melalui pengolahan yang tepat, komoditas tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi diversifikasi pangan sekaligus pengembangan produk lokal yang memiliki nilai tambah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *