Sumberharjo, Krajan.id – Kelompok KKN 241 Universitas Sebelas Maret (UNS) mendorong masyarakat di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari rumah melalui program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah. Program yang digelar pada (13/8/2026) itu tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga diarahkan agar pengelolaan sampah dapat menjadi kebiasaan masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.
Kegiatan berlangsung di Rumah Kepala/Ibu Dukuh Sawo dengan menghadirkan Leni Triastuti, ST. dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai narasumber. Kelompok KKN 241 juga menyediakan tong sampah umum khusus botol plastik sebagai fasilitas awal untuk mendukung kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah.
Rizqiana Wardahani mengatakan program tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Dukuh Sawo yang masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan pengamatan kelompok KKN, sebagian masyarakat masih memiliki kebiasaan membakar sampah. Meski begitu, sudah terdapat dua RT yang mulai melaksanakan kegiatan sedekah sampah.
“Di Dukuh Sawo yang sering terlihat pengolahan sampah kebanyakan masih dibakar, tetapi ada dua RT yang sudah melaksanakan sedekah sampah,” ujar Rizqiana.
Kondisi tersebut juga terlihat dalam kebiasaan masyarakat menangani botol plastik. Pemilahan sampah belum sepenuhnya menjadi kebiasaan sehingga botol plastik yang sebenarnya masih dapat dikumpulkan dan memiliki nilai ekonomi masih berpotensi tercampur dengan sampah lainnya.
Karena itu, kelompok KKN memilih botol plastik sebagai salah satu jenis sampah yang dikumpulkan. Selain mudah ditemukan dalam aktivitas sehari-hari, botol plastik juga membutuhkan waktu lama untuk terurai sehingga perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaannya.
Rizqiana menjelaskan, edukasi yang diberikan kepada masyarakat tidak hanya mengenai pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga tentang keterlibatan warga dalam menciptakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Masyarakat diarahkan untuk mulai memilah sampah dari sumbernya, terutama dari rumah masing-masing.

Respons warga terhadap kegiatan tersebut dinilai positif. Masyarakat mengikuti sosialisasi dengan antusias. Salah satu pertanyaan yang muncul berkaitan dengan keberlangsungan program agar kegiatan sedekah sampah dapat berjalan tanpa hambatan.
“Responnya sangat antusias dan hanya ada satu pertanyaan tentang bagaimana program tersebut berjalan tanpa ada hambatan,” kata Rizqiana.
Menurut Rizqiana, keberlanjutan menjadi salah satu tantangan utama setelah mahasiswa meninggalkan Dukuh Sawo. Program yang sudah diperkenalkan selama KKN berpotensi berhenti apabila masyarakat tidak konsisten menjalankannya.
“Kami takut jika warga tidak konsisten, tetapi di sana ada tangan bawah dari DLH yaitu P3K, jadi saya harap bisa menjaga keberlanjutannya,” ujarnya.
Ia berharap ibu-ibu PKK di masing-masing RT dapat mengambil peran sebagai penggerak kegiatan. Dengan adanya penggerak dari masyarakat sendiri, program sedekah sampah diharapkan tidak bergantung pada keberadaan mahasiswa KKN.
Selain membantu mengurangi sampah yang berpotensi dibakar, mekanisme tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sampah yang terkumpul dan berhasil dijual dapat menghasilkan pemasukan yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan lingkungan setempat.
“Ya, pasti kita mengharapkan ada manfaatnya dari sampah yang terkumpul. Misalnya hasil penjualan sampah terkumpul lalu masuk ke kas per RT dan hasil tersebut bisa digunakan untuk kegiatan RT,” ujar Muhammad Yusuf.
Ia mengatakan kesadaran warga mulai terlihat setelah adanya kegiatan sosialisasi dan penyediaan fasilitas pengumpulan botol plastik. Namun, kelompok KKN belum dapat mengetahui perkembangan partisipasi masyarakat secara lebih jauh karena masa pelaksanaan KKN telah selesai.
“Untuk saat ini partisipasi besar, warga sudah mulai sadar, tetapi kami belum mengetahui dikarenakan kita sudah selesai KKN,” katanya.
Muhammad Yusuf menilai keterlibatan masyarakat dalam pembentukan kelompok sedekah sampah masih belum terlalu besar. Karena itu, keberadaan penggerak lokal menjadi penting untuk memastikan kegiatan tetap berjalan. Selain ibu-ibu PKK, dukungan dari P3K yang merupakan bagian dari pendampingan DLH juga diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan program.
Menurutnya, keberhasilan program sedekah sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Masyarakat harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk terus memilah serta mengumpulkan sampah secara rutin.
“Menurut kami yang terpenting dari warga sendiri yang bisa menggerakkan program tersebut lalu juga bisa dibantu dengan tangan bawah dari DLH yaitu P3K, yaitu Pak Singgih dan Bu Rika selaku P3K di Dukuh Sawo,” kata Muhammad Yusuf.

Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Kelompok KKN 241 berharap perubahan yang muncul tidak hanya berupa lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
“Perubahan yang ingin diwujudkan bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga terbentuknya kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Muhammad Yusuf.
Ia berharap sedekah sampah dapat terus berjalan meskipun mahasiswa KKN telah meninggalkan Dukuh Sawo. Program tersebut diharapkan berkembang dari kegiatan pendampingan menjadi kebiasaan bersama masyarakat.
“Kami harap bukan sekadar program KKN, tapi bisa menjadi program kebiasaan di Dukuh Sawo bersama,” tuturnya.
Kelompok KKN 241 UNS terdiri atas Dyah Intan Maharani, Nurul Fadhillah, Rizqiana Wardahani, Nasya Falaqya Azzahra, Khrisna Putri Maharani, Dewi Mayasari, Fajarina Wahyu Rahmawati, Nawra Rahmafalah Dewandaru, Muhammad Yusuf Raihan, dan Dewangga Kusuma Tirta. Kelompok tersebut berada di bawah bimbingan DPL Dr. Tetri Widiyani, S.Si., M.Si.





