Karanganyar, Krajan.id – Peralihan ke transaksi digital masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku UMKM di tingkat desa. Persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan teknologi, tetapi juga keterbatasan pengetahuan dan kemampuan mengakses layanan pembayaran digital.

Kondisi itu menjadi perhatian mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 49 melalui program DIGITARA: Digitalisasi Transaksi untuk Usaha Rakyat di Desa Karanganyar. Program tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha mengenal dan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai salah satu metode pembayaran non-tunai.
Alih-alih hanya memberikan sosialisasi, mahasiswa melakukan pendampingan secara langsung kepada pelaku usaha. Pendekatan tersebut dilakukan karena sebagian pedagang sebenarnya telah memiliki keinginan menggunakan transaksi digital, tetapi masih menghadapi kendala teknis dalam proses pendaftaran.
Rangkaian kegiatan DIGITARA dimulai melalui sosialisasi di Tamariz Cafe pada 25 Juli 2026. Kegiatan itu diikuti 30 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM dan warga Desa Karanganyar.
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa menjelaskan manfaat QRIS, mekanisme pembayaran digital, serta aspek keamanan transaksi non-tunai yang mengacu pada regulasi resmi Bank Indonesia. Materi diberikan untuk membantu masyarakat memahami penggunaan QRIS sekaligus mengenali aspek keamanan dalam transaksi digital.
Setelah sosialisasi, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan pendampingan door to door. Mereka mendatangi enam toko dan tempat usaha di sekitar lokasi untuk membantu pedagang melakukan pendaftaran QRIS secara langsung hingga proses tersebut dapat diselesaikan.

Pendampingan itu menghasilkan tujuh pelaku usaha yang berhasil mendaftarkan QRIS. Sebanyak empat pelaku usaha telah mencetak kode QRIS dan siap menggunakannya untuk transaksi. Sementara itu, tiga pelaku usaha lainnya telah menyelesaikan proses pendaftaran, tetapi belum mencetak kode QRIS.
Bagi pelaku usaha, keberadaan QRIS dinilai memberikan kemudahan, terutama ketika menghadapi transaksi dengan nominal kecil. Sistem pembayaran tersebut dapat mengurangi persoalan penyediaan uang kembalian yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam transaksi tunai.
Salah seorang pemilik usaha di Desa Karanganyar, Ratinah, mengatakan penggunaan QRIS membuat proses pembayaran menjadi lebih praktis.
“Pembeli jadi gampang, jadi suka lah. Transaksi lebih cepat, saya juga tidak perlu repot nyiapin kembalian lagi. Pembeli suka, jadi sering ke sini,” ujar Ratinah.
Menurut Ratinah, keinginan menggunakan QRIS sebenarnya sudah muncul sejak sebelumnya. Namun, ia belum dapat melakukan proses pendaftaran secara mandiri karena terkendala persoalan teknis.
“Dari dulu memang ada niat, cuma tidak bisa bikin sendiri. Makanya kemarin itu sangat terbantu,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa literasi digital UMKM tidak hanya berkaitan dengan pemahaman mengenai manfaat teknologi, tetapi juga kemampuan menggunakannya secara praktis. Pendampingan menjadi penting ketika pelaku usaha telah memiliki kemauan untuk beradaptasi, tetapi belum memahami tahapan teknis yang diperlukan.
Dalam konteks ekonomi pedesaan, kemampuan beradaptasi dengan sistem pembayaran digital dapat menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap ekosistem ekonomi digital. QRIS juga dapat membantu transaksi menjadi lebih praktis, sekaligus memberikan alternatif pembayaran bagi konsumen yang tidak membawa uang tunai.
Meski demikian, program DIGITARA tidak berhenti pada pengenalan teknologi. Pendampingan terhadap proses pendaftaran menjadi bagian penting agar pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan secara langsung oleh pelaku usaha.
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 49 berharap penggunaan QRIS dapat terus dimanfaatkan oleh pelaku usaha setelah program pendampingan selesai. Keberlanjutan penggunaan tersebut menjadi tahap berikutnya agar digitalisasi transaksi tidak berhenti pada proses pendaftaran, tetapi benar-benar menjadi bagian dari aktivitas usaha sehari-hari.
Program DIGITARA dilaksanakan oleh 10 mahasiswa KKN UNS Kelompok 49 dari berbagai fakultas dan program studi dengan pendampingan Dr. Astiana Ajeng Rahadini, S.Pd., M.Pd.
Anggota KKN UNS Kelompok 49 terdiri atas Muhammad Asyrafal Fa’iq Baihaqi (Sastra Arab), Zahran Muhammad Fawaz (Ilmu Komunikasi), Muhammad Ceril Rasendriya Putra (Ilmu dan Teknologi Pangan), Muhammad Rizqi Abroori (Statistika), Almandine Tabtilarizquna Mahaswari (Desain Komunikasi Visual), Nafisa Putri Hananti (Ilmu Hukum), Ziyan Ashfiya (Arsitektur), As Syifa Rahmah (Pendidikan Geografi), Farah Nur Amilia (PGSD Kebumen), dan Nurnita Fardla Hakiki (Statistika).





