Sabut Kelapa Disulap Jadi Kokedama, Warga Plaosan Didorong Berkebun di Lahan Terbatas

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 170 menggelar pelatihan pembuatan kokedama berbahan dasar sabut kelapa bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Plaosan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Kamis (23/7/2026). (Dok. Pribadi/KKN 170 UNS)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 170 menggelar pelatihan pembuatan kokedama berbahan dasar sabut kelapa bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Plaosan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Kamis (23/7/2026). (Dok. Pribadi/KKN 170 UNS)

Plaosan, Krajan.id – Keterbatasan lahan tidak menghalangi warga Kelurahan Plaosan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, untuk menyalurkan hobi berkebun. Melalui teknik kokedama, sabut kelapa yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah dimanfaatkan menjadi media tanam sekaligus elemen dekoratif.

Gagasan tersebut diperkenalkan mahasiswa KKN UNS Kelompok 170 melalui pelatihan pembuatan kokedama bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Plaosan, Kamis (23/7/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari program kerja bertajuk “Kokedama: Inovasi Media Tanam Ramah Lingkungan”.

Bacaan Lainnya

Program tersebut dirancang dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan warga. Selain menawarkan alternatif media tanam tanpa pot, pengolahan sabut kelapa menjadi kokedama diarahkan untuk mengurangi penggunaan wadah plastik sekaligus membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi.

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 170 melaksanakan kegiatan itu di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Prof. Ir. Ary Setyawan, M.Sc., Ph.D. Pelatihan menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan limbah organik dan sumber daya lokal.

Pilihan kokedama tidak terlepas dari kondisi warga Plaosan yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Aktivitas pertanian juga membuat berkebun menjadi salah satu kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan ibu-ibu PKK.

Persoalannya, tidak semua rumah memiliki pekarangan yang cukup luas untuk menempatkan tanaman. Kondisi itu mendorong mahasiswa memperkenalkan kokedama sebagai salah satu alternatif.

Kokedama merupakan teknik menanam asal Jepang yang menggunakan media berbentuk bola untuk membungkus akar tanaman sehingga tidak membutuhkan pot konvensional. Tanaman dapat ditempatkan di atas meja, digantung, maupun disusun secara vertikal sehingga lebih fleksibel untuk rumah dengan ruang terbatas.

Dari sisi lingkungan, penggunaan sabut kelapa juga menjadi bagian penting dari konsep pelatihan. Bahan tersebut diolah menjadi media pembungkus tanaman sebagai alternatif terhadap pot plastik.

Pemanfaatan sabut kelapa tidak hanya berkaitan dengan persoalan sampah, tetapi juga menunjukkan bagaimana bahan organik yang tersedia di sekitar masyarakat dapat diberi fungsi baru. Dalam konteks tersebut, kokedama ramah lingkungan menjadi produk yang menggabungkan aspek penghijauan, kreativitas, dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Paskalia, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan praktik, tetapi dapat dikembangkan menjadi keterampilan yang memiliki nilai ekonomi bagi warga.

“Sabut kelapa yang tadinya hanya jadi limbah, sekarang bisa diolah jadi kerajinan bernilai jual dan ramah lingkungan. Kami juga ingin menjawab kebutuhan warga yang mayoritas petani dan hobi berkebun, tapi lahannya terbatas. Harapannya keterampilan ini bisa terus dikembangkan dan bahkan jadi produk unggulan kelurahan,” ujarnya.

Dalam pelatihan, peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan bahan dan peralatan yang digunakan. Mahasiswa kemudian memandu proses pembentukan media tanam, teknik mengikat sabut kelapa, hingga penanaman bibit tanaman hias.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pemilihan sabut kelapa, cara membentuk media agar tidak mudah rontok, jenis tanaman yang dapat digunakan, serta perawatan setelah kokedama selesai dibuat.

Kegiatan berlangsung dengan metode praktik langsung. Peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi turut membuat kokedama secara mandiri. Sejumlah peserta bahkan membuat lebih dari satu kokedama dengan kombinasi tanaman yang berbeda untuk dibawa pulang.

, mahasiswa KKN UNS memandu peserta secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan dan alat, teknik mengikat media tanam dengan sabut kelapa, hingga proses penanaman bibit tanaman hias ke dalam kokedama. (Dok. Pribadi/KKN 170 UNS)
, mahasiswa KKN UNS memandu peserta secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan dan alat, teknik mengikat media tanam dengan sabut kelapa, hingga proses penanaman bibit tanaman hias ke dalam kokedama. (Dok. Pribadi/KKN 170 UNS)

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang muncul selama praktik. Pengalaman berkebun yang sudah dimiliki sebagian peserta menjadi modal untuk mencoba teknik baru tersebut.

Salah satu peserta mengaku tertarik membuat kembali kokedama di rumah karena teknik tersebut dinilai tidak membutuhkan ruang yang luas.

“Baru tahu kalau sabut kelapa bisa dibuat jadi media tanam seperti ini, ternyata caranya juga tidak sulit. Saya jadi pengin coba bikin lagi di rumah, kebetulan memang suka berkebun,” ujar salah satu ibu PKK peserta pelatihan.

Ketua PKK Kelurahan Plaosan, Ibu Restu, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap keterampilan yang diperkenalkan mahasiswa dapat dilanjutkan oleh warga setelah masa KKN berakhir.

Kokedama hasil praktik peserta rencananya akan dipajang sebagai hiasan di lingkungan kelurahan. Keberadaan produk tersebut sekaligus dapat menjadi contoh pemanfaatan teknik bercocok tanam yang tidak bergantung pada ketersediaan lahan luas.

Lebih jauh, kegiatan itu membuka kemungkinan agar kokedama tidak hanya dipandang sebagai produk dekorasi. Dengan bahan dasar yang berasal dari sumber daya lokal, produk tersebut berpotensi dikembangkan menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual apabila dikelola secara konsisten.

Dari sisi pemberdayaan, pelatihan juga mempertemukan pengetahuan praktis dengan aktivitas yang sudah akrab bagi warga. Hobi berkebun tidak harus dilakukan melalui cara konvensional menggunakan pot dan pekarangan luas. Teknik kokedama menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel sekaligus memberi ruang bagi kreativitas peserta.

Program tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah sasaran dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dari aspek pendidikan, pelatihan menjadi sarana transfer pengetahuan dan keterampilan baru kepada masyarakat yang sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Potensi pengembangan kokedama sebagai produk bernilai jual juga berkaitan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Sementara itu, pemanfaatan ruang terbatas untuk penghijauan mendukung SDG 11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.

Adapun penggunaan kembali sabut kelapa sebagai bahan media tanam dan upaya mengurangi ketergantungan pada pot plastik berkaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Bagi Kelurahan Plaosan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari bahan sederhana yang tersedia di sekitar. Sabut kelapa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini diperkenalkan sebagai bagian dari media tanam yang dapat digunakan untuk memperluas aktivitas berkebun tanpa menuntut ketersediaan lahan besar.

Melalui program KKN UNS Kelompok 170, keterampilan membuat kokedama diharapkan dapat terus dipraktikkan dan dikembangkan warga. Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi pemanfaatan limbah organik, penghijauan rumah tangga, serta pengembangan produk kreatif berbasis sumber daya lokal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *