Karanganyar, Krajan.id – Digitalisasi usaha tidak hanya berkaitan dengan penggunaan media sosial untuk promosi. Bagi pelaku UMKM, proses tersebut juga mencakup kemampuan membangun identitas usaha, menyajikan informasi produk secara sistematis, hingga menyediakan pilihan transaksi non-tunai.
Pendekatan itu menjadi bagian dari rangkaian program pemberdayaan yang dilakukan KKN UNS Kelompok 49 bersama PT Patra Logistik melalui program Pertamina Berdikari di Desa Karanganyar, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pendampingan diarahkan agar pelaku usaha tidak berhenti pada pemahaman mengenai pemasaran digital, tetapi mulai menerapkannya dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Salah satu kegiatan dilaksanakan di Tamariz Cafe, Desa Karanganyar, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti pelaku usaha, anggota PKK, serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Karanganyar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya membangun identitas usaha dan strategi promosi. Peserta diperkenalkan pada pemahaman bahwa kualitas produk perlu diikuti dengan identitas yang jelas dan konsisten agar lebih mudah dikenali masyarakat.
Dalam materi tersebut, promosi juga ditempatkan bukan semata-mata sebagai kegiatan untuk menjual produk. Promosi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan karakter usaha, membangun kepercayaan pelanggan, sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Media yang digunakan untuk promosi pun tidak terbatas pada cara konvensional. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial serta website desa sebagai sarana penyebaran informasi mengenai produk dan usaha masyarakat.
Pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan talkshow bersama pelaku UMKM Desa Karanganyar, Margiyati, pemilik Tamariz Cafe. Usaha tersebut mengusung konsep kafe dengan kebun anggur petik sendiri.
Margiyati membagikan pengalaman mengembangkan usaha dari skala kecil hingga dikenal masyarakat. Ia menilai ketekunan dalam menjalankan usaha perlu disertai keberanian untuk memperkenalkan identitas usaha kepada calon konsumen.
“Awalnya usaha saya kecil. Setelah mulai dikenal lewat Facebook dan konsep cafe dengan kebun anggur petik sendiri, semakin banyak orang datang. Dari situ saya belajar bahwa promosi dan identitas usaha sangat penting untuk mengembangkan bisnis,” ujar Margiyati.
Pengalaman tersebut menjadi contoh penerapan materi yang disampaikan kepada peserta. Identitas usaha yang memiliki ciri khas dapat menjadi pembeda, sementara media sosial membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas.
Dalam konteks Tamariz Cafe, konsep kebun anggur petik sendiri menjadi bagian dari identitas usaha yang kemudian diperkenalkan melalui media sosial. Pengalaman pengunjung yang dibagikan kepada orang lain juga turut membantu memperluas pengenalan usaha tersebut.
Dari Edukasi ke Pendampingan Langsung
Setelah mendapatkan pemahaman dasar, kegiatan berlanjut melalui Program 2, yakni Praktik Promosi Produk dalam Mendukung Digitalisasi Desa Karanganyar. Program ini menempatkan pendampingan langsung sebagai bagian penting dari proses penguatan kapasitas pelaku usaha.
Mahasiswa melakukan identifikasi dan pendataan terhadap pelaku usaha yang memiliki produk untuk dikembangkan dan dipromosikan melalui media digital. Pendataan dilakukan dengan mengumpulkan informasi dasar mengenai usaha dan produk, seperti nama produk, deskripsi, harga, kontak, serta informasi pendukung lainnya.
Informasi tersebut kemudian diarahkan sebagai bahan penyusunan e-katalog produk dan usaha Desa Karanganyar. Dengan cara itu, produk masyarakat diharapkan dapat disajikan dalam format informasi yang lebih terstruktur sehingga lebih mudah diperkenalkan melalui kanal digital desa.
Pendampingan tidak hanya dilakukan dalam forum bersama. Mahasiswa KKN juga mendatangi pelaku usaha secara langsung melalui pendekatan door to door.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mengidentifikasi produk yang dimiliki pelaku usaha, mendiskusikan kebutuhan promosi, serta membantu menyiapkan bahan informasi yang dapat digunakan untuk pemasaran digital.
Pendekatan langsung tersebut dilakukan untuk menyesuaikan pendampingan dengan kondisi masing-masing pelaku usaha. Mahasiswa membantu pelaku usaha memahami informasi apa saja yang perlu ditampilkan ketika memperkenalkan produk kepada konsumen.
Selain menyiapkan materi promosi, mahasiswa juga menyediakan name card bagi pelaku usaha sebagai salah satu sarana pendukung identitas dan pengenalan usaha.
Hasil pendataan dan materi promosi yang dikumpulkan tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan kegiatan KKN. Data tersebut dapat dikembangkan dan diperbarui secara berkala sehingga menjadi bagian dari media informasi digital desa.
Dengan demikian, proses digitalisasi tidak berhenti ketika kegiatan pendampingan selesai. Informasi usaha yang telah dikumpulkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan promosi produk lokal secara berkelanjutan.
Mengenalkan Transaksi Non-Tunai
Penguatan kapasitas digital juga dilakukan melalui DIGITARA (Digitalisasi Transaksi untuk Usaha Rakyat). Program ini diarahkan untuk mengenalkan transaksi non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kepada pelaku usaha.

Pendampingan diberikan mulai dari pengenalan manfaat transaksi digital hingga bantuan dalam proses pendaftaran dan penggunaan QRIS. Berdasarkan pelaksanaan program yang tercantum dalam rilis, sebanyak tujuh pelaku usaha berhasil melakukan pendaftaran QRIS. Dari jumlah tersebut, empat pelaku usaha telah mencetak kode QRIS dan siap menggunakannya dalam transaksi.
Bagi pelaku usaha, penggunaan QRIS dapat menjadi alternatif ketika konsumen tidak membawa uang tunai. Salah satu pelaku usaha, Ratinah, merasakan manfaat tersebut dalam kegiatan transaksi sehari-hari.
“Pembeli jadi gampang, jadi suka lah. Transaksi lebih cepat, saya juga tidak perlu repot nyiapin kembalian lagi. Pembeli suka, jadi sering ke sini,” ujar Ratinah.
Menurut Ratinah, pendampingan mahasiswa juga membantu mengatasi kendala teknis yang sebelumnya membuatnya belum dapat mendaftarkan QRIS secara mandiri.
“Dari dulu memang ada niat, cuma tidak bisa bikin sendiri. Makanya kemarin itu sangat terbantu,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa adopsi teknologi pada usaha mikro tidak selalu terkendala oleh ketidaktertarikan terhadap teknologi. Dalam sejumlah kasus, pelaku usaha membutuhkan pendampingan praktis agar dapat memahami proses dan mulai menggunakannya.
Identitas Usaha hingga Ekosistem Digital
Rangkaian kegiatan di Desa Karanganyar memperlihatkan bahwa penguatan UMKM dilakukan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan. Prosesnya dimulai dari membangun pemahaman mengenai identitas usaha dan promosi, dilanjutkan dengan pendataan serta penyusunan materi digital, kemudian diperkuat melalui pengenalan transaksi non-tunai.
Pelaku usaha tidak hanya menerima materi secara teoritis. Mereka juga mendapatkan pengalaman mengidentifikasi potensi produk, menyusun informasi usaha, menyiapkan bahan promosi, serta mengenal teknologi yang dapat digunakan dalam transaksi.
Dokumen pelaksanaan program mencatat bahwa Program 2 menghasilkan data dan informasi mengenai pelaku usaha serta produk yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan media informasi digital desa. Hasil pendampingan juga diarahkan agar dapat terus dikembangkan setelah program KKN berakhir.
Dukungan terhadap rangkaian kegiatan tersebut datang dari Pemerintah Desa Karanganyar dan PT Patra Logistik. Dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ), PT Pertamina Patra Logistik disebut sebagai pendukung utama yang turut mendukung proses pendampingan dan pembentukan identitas usaha.

Selain dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan, PT Patra Logistik juga menyerahkan bantuan berupa satu unit speaker kepada Pemerintah Desa Karanganyar. Perangkat tersebut diharapkan dapat digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat, antara lain sosialisasi, pelatihan, dan kegiatan pemberdayaan di tingkat desa.
Melalui kolaborasi tersebut, KKN UNS Kelompok 49 dan PT Patra Logistik mendorong pelaku usaha agar semakin mampu mengelola identitas usaha, memperkenalkan produk melalui media digital, serta memanfaatkan teknologi dalam transaksi.
Upaya tersebut sekaligus menempatkan digitalisasi UMKM sebagai bagian dari pengembangan ekosistem ekonomi desa. Ketika informasi produk tersusun dengan baik, promosi dapat dilakukan melalui kanal digital, dan transaksi mulai beralih ke sistem non-tunai, pelaku usaha memiliki lebih banyak pilihan untuk menjangkau konsumen.
Bagi Desa Karanganyar, penguatan tersebut juga dapat menjadi fondasi bagi pengembangan media informasi produk lokal yang dikelola secara lebih terstruktur. E-katalog yang dibangun dari hasil pendataan dapat diperbarui sesuai perkembangan usaha, sementara kemampuan menggunakan media sosial dan QRIS dapat terus diterapkan oleh pelaku usaha dalam aktivitas sehari-hari.
Kegiatan KKN tersebut dilaksanakan oleh KKN UNS Kelompok 49, yang terdiri atas 10 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi di Universitas Sebelas Maret, dengan pendampingan Dr. Astiana Ajeng Rahadini, S.Pd., M.Pd.
Anggota KKN UNS Kelompok 49 terdiri atas Muhammad Asyrafal Fa’iq Baihaqi dari Sastra Arab, Zahran Muhammad Fawaz dari Ilmu Komunikasi, Muhammad Ceril Rasendriya Putra dari Ilmu dan Teknologi Pangan, Muhammad Rizqi Abroori dari Statistika, Almandine Tabtilarizquna Mahaswari dari Desain Komunikasi Visual, Nafisa Putri Hananti dari Ilmu Hukum, Ziyan Ashfiya dari Arsitektur, As Syifa Rahmah dari Pendidikan Geografi, Farah Nur Amilia dari PGSD Kebumen, dan Nurnita Fardla Hakiki dari Statistika.
Rangkaian pendampingan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa KKN. Pengetahuan mengenai identitas usaha, promosi digital, penyusunan informasi produk, serta transaksi non-tunai dapat menjadi bekal bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya secara bertahap.
Pada akhirnya, penguatan kapasitas tersebut diarahkan untuk membantu produk lokal Desa Karanganyar lebih mudah dikenali, memperluas akses pasar, serta mendukung perkembangan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital.





