Sumberharjo, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 240 Universitas Sebelas Maret (UNS) 2026 mendorong diversifikasi pemanfaatan susu kambing di Padukuhan Ngeburan, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upaya itu dilakukan melalui pelatihan pembuatan GO-PIES (Goat Milk Pie Susu) dan pengolahan susu kambing menjadi yogurt.
Kedua program tersebut dilaksanakan dalam rangkaian KKN periode Juli-Agustus 2026. Mahasiswa tidak hanya mengenalkan bentuk olahan baru, tetapi juga memberikan pengetahuan mengenai higienitas pengolahan pangan, proses produksi, fermentasi, hingga pengemasan.
Langkah tersebut berangkat dari kondisi susu kambing yang selama ini masih banyak dipasarkan dalam bentuk murni. Di sisi lain, susu segar memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga diperlukan alternatif pengolahan untuk memperluas bentuk produk yang dapat ditawarkan kepada konsumen.
Melalui pengolahan menjadi pie susu dan yogurt, mahasiswa KKN 240 UNS mencoba memperkenalkan cara sederhana untuk meningkatkan nilai tambah susu kambing lokal tanpa meninggalkan bahan baku yang telah tersedia di masyarakat.
Program tersebut merupakan bagian dari tema KKN 240 UNS, yakni “Optimalisasi Potensi UMKM Dukuh Ngeburan melalui Inovasi Produk, Transformasi Digital, dan Edukasi Kewirausahaan”.
Tema itu disusun dengan mempertimbangkan potensi ekonomi lokal Ngeburan, salah satunya aktivitas peternakan kambing perah. Dari potensi tersebut, mahasiswa melihat peluang untuk memperkenalkan produk turunan yang dapat dikerjakan dalam skala rumah tangga maupun dikembangkan lebih lanjut oleh pelaku usaha.
Dari Susu Segar Menjadi Produk Olahan
Salah satu program yang dijalankan adalah GO-PIES, berupa pelatihan pembuatan pie susu berbahan dasar susu kambing. Program ini diarahkan untuk memperkenalkan alternatif pemanfaatan susu kambing dalam bentuk kudapan yang memiliki karakter berbeda dari produk susu segar.

Pelatihan berlangsung di GOR Kalurahan Sumberharjo dan diikuti 35 peserta. Mereka terdiri atas ibu-ibu PKK, warga RT 1 hingga RT 5 Padukuhan Ngeburan, serta pelaku UMKM setempat.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai susu kambing dan pentingnya menjaga kebersihan selama proses pengolahan pangan. Materi tersebut menjadi dasar sebelum peserta memasuki tahap praktik pembuatan pie.
Pada sesi praktik, peserta dibagi menjadi lima kelompok. Pembagian tersebut dilakukan agar peserta dapat terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan produk.
Anggota KKN 240 UNS mendampingi masing-masing kelompok, mulai dari persiapan bahan, pembuatan kulit pie, pengolahan vla berbahan susu kambing, hingga proses pemanggangan.
Pendampingan juga diarahkan pada aspek kebersihan alat dan bahan. Dengan pendekatan praktik, peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai proses pembuatan, tetapi juga dapat mencoba secara langsung tahapan produksi.
Setelah proses pembuatan selesai, peserta memperoleh pie susu sebagai contoh produk jadi yang dapat dikembangkan kembali secara mandiri.
Selain teknik produksi, mahasiswa memperkenalkan aspek kemasan produk. Bagi usaha skala rumah tangga, kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga membantu memperkenalkan produk kepada konsumen.
Pengenalan kemasan menjadi bagian dari upaya melihat produk olahan susu kambing secara lebih utuh. Produk tidak berhenti pada bagaimana makanan dibuat, tetapi juga bagaimana hasil olahan tersebut dapat disajikan secara lebih menarik dan memiliki identitas ketika dipasarkan.
Yogurt sebagai Alternatif Diversifikasi
Diversifikasi juga dilakukan melalui program sosialisasi dan rebranding susu kambing murni menjadi yogurt.
Program tersebut ditujukan kepada peternak dan masyarakat Padukuhan Ngeburan yang memiliki ketertarikan terhadap pengolahan susu kambing maupun peluang pengembangan produk olahan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan alasan susu kambing dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan. Yogurt diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengolahan melalui proses fermentasi.
Peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan dasar pembuatan yogurt, mulai dari pasteurisasi susu, pencampuran starter yogurt, proses fermentasi, hingga penyimpanan produk.
Demonstrasi tersebut juga menjadi ruang diskusi antara mahasiswa dan masyarakat. Beberapa aspek yang dibahas mencakup lama fermentasi, cara menyiasati aroma khas susu kambing, kemungkinan penambahan varian rasa, serta gambaran harga jual jika produk dikembangkan dalam skala rumah tangga.
Dengan demikian, pengenalan yogurt tidak hanya diarahkan pada kemampuan membuat produk. Mahasiswa juga membuka pembahasan mengenai kemungkinan pengembangan produk sesuai selera konsumen dan kemampuan produksi masyarakat.
Peserta juga memperoleh brosur panduan pembuatan yogurt. Materi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pengingat sehingga proses yang diperkenalkan selama kegiatan dapat dicoba kembali setelah rangkaian KKN selesai.
Konsep rebranding dalam program tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai perubahan tampilan produk. Lebih jauh, rebranding diarahkan untuk memperkenalkan susu kambing sebagai bahan baku yang dapat diolah menjadi produk dengan bentuk, rasa, dan cara penyajian yang berbeda.
Tidak Berhenti pada Pelatihan
Pelaksanaan dua program tersebut melibatkan seluruh anggota KKN 240 UNS. Mahasiswa turut menangani persiapan teknis, koordinasi, pendampingan peserta, dokumentasi, hingga penyelesaian kegiatan.
Keterlibatan tersebut diperlukan karena kedua program berbasis praktik. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diarahkan untuk mencoba tahapan pengolahan secara langsung.
Pendekatan praktik juga memungkinkan masyarakat melihat secara langsung kemungkinan pengembangan susu kambing menjadi produk lain. Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat menjadi dasar bagi warga untuk melakukan percobaan lanjutan sesuai kebutuhan.
Namun, program tersebut tidak serta-merta dapat dipandang sebagai jaminan terbentuknya usaha baru. Peluang ekonomi yang muncul masih membutuhkan proses lanjutan, termasuk penyesuaian resep, pengujian produk, perhitungan biaya produksi, penentuan harga, pengemasan, serta pengenalan kepada konsumen.
Karena itu, keberlanjutan menjadi salah satu aspek yang ditekankan mahasiswa. Resep, teknik produksi, varian rasa, penyimpanan, dan kemasan yang diperkenalkan selama kegiatan masih dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Penyesuaian tersebut penting agar produk yang dikembangkan tidak hanya menarik pada saat demonstrasi, tetapi juga realistis apabila diproduksi kembali oleh warga.
Berkaitan dengan Tiga SDGs
Rangkaian kegiatan GO-PIES dan pengolahan yogurt juga dikaitkan dengan tiga tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi bagian dari pelaksanaan KKN 240 UNS, yakni SDG 4, SDG 8, dan SDG 17.
Kontribusi terhadap SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas terlihat melalui proses transfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat.
Materi yang diberikan mencakup pengolahan pangan, higienitas, fermentasi, serta pengemasan produk. Kegiatan dirancang dengan pendekatan praktik agar pengetahuan yang diberikan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan kembali.
Sementara itu, SDG 8: Decent Work and Economic Growth atau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi berkaitan dengan upaya memperkenalkan peningkatan nilai tambah hasil peternakan lokal.
Pie susu dan yogurt diperkenalkan sebagai alternatif diversifikasi produk yang berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha rumahan maupun UMKM. Meski belum dapat disebut sebagai usaha yang telah berjalan, kedua produk tersebut memberikan contoh diversifikasi yang dapat dipertimbangkan masyarakat.
Adapun SDG 17: Partnerships for the Goals atau Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan.
Mahasiswa bekerja bersama pemerintah kalurahan dan padukuhan, peternak, kelompok masyarakat, ibu-ibu PKK, serta pelaku UMKM. Kolaborasi tersebut mempertemukan pengetahuan yang dibawa mahasiswa dengan pengalaman masyarakat dalam mengelola potensi lokal.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan program. Mahasiswa dapat memperkenalkan metode dan contoh produk, sementara masyarakat memiliki pengetahuan mengenai kondisi bahan baku, kebiasaan konsumen, serta kemampuan produksi di lingkungan setempat.
Mengolah Potensi yang Sudah Ada
GO-PIES dan yogurt pada dasarnya berangkat dari potensi yang sama, yakni susu kambing yang dihasilkan peternak di Ngeburan. Perbedaannya terletak pada bentuk pengolahan dan karakter produk yang diperkenalkan kepada masyarakat.
Susu kambing yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan sebagai produk segar diperkenalkan dalam bentuk kudapan melalui pie susu dan produk fermentasi melalui yogurt.
Diversifikasi tersebut memberikan pilihan baru dalam memanfaatkan hasil peternakan. Bagi masyarakat, produk olahan juga dapat menjadi alternatif apabila ingin memperluas bentuk penjualan susu kambing, meskipun pengembangan usaha tetap membutuhkan kajian dan pengujian lebih lanjut.
Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan potensi ekonomi lokal tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Pengetahuan pengolahan, kebersihan, pengemasan, dan kemampuan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen dapat menjadi langkah awal.

KKN 240 UNS di Padukuhan Ngeburan dilaksanakan oleh Dea Meilani, Fidela Gita Ramadhani, Aliefia Yumna Fakhrina Anam, Putri Triyana Indah Karunia, Noormalisa Larasati, Destriana Nur Rahayu, Anisa Fadhilah, dan Naila Runna Izzati.
Program pengolahan yogurt diinisiasi oleh Noormalisa Larasati. Sementara itu, program GO-PIES diinisiasi oleh Naila Runna Izzati dengan dukungan anggota kelompok dalam pelaksanaannya.
Seluruh rangkaian kegiatan KKN berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Tetri Widiyani, S.Si., M.Si.
Bagi masyarakat Ngeburan, pengembangan susu kambing menjadi pie dan yogurt menjadi salah satu cara untuk melihat kembali potensi yang telah tersedia di lingkungan mereka. Sementara bagi mahasiswa, program tersebut menjadi ruang penerapan pengetahuan sekaligus upaya mempertemukan inovasi sederhana dengan kebutuhan masyarakat.
Keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh produk yang dihasilkan selama kegiatan KKN. Keberlanjutannya akan bergantung pada sejauh mana masyarakat dapat mengadaptasi proses produksi, menjaga kualitas, menghitung kelayakan usaha, serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar.
Melalui pendekatan tersebut, susu kambing Ngeburan tidak hanya diposisikan sebagai komoditas segar, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi beragam produk. GO-PIES dan yogurt menjadi contoh awal diversifikasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN 240 UNS selama berada di Padukuhan Ngeburan.





