Gunungsari, Krajan.id – Kelompok KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) 235 mendorong ibu-ibu PKK di Padukuhan Gunungsari, Kalurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengembangkan potensi tanaman di lingkungan sekitar menjadi produk bernilai ekonomi. Upaya tersebut dilakukan melalui workshop pembuatan sabun lidah buaya yang dirangkaikan dengan sosialisasi kewirausahaan di Balai Dusun Gunungsari, Sabtu (25/7/2026).
Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut. Tidak hanya diajarkan membuat sabun cuci tangan berbahan lidah buaya, peserta juga diajak memahami dasar pengembangan produk melalui penentuan nama dan harga jual.
Program tersebut dirancang dalam dua kegiatan yang saling berkaitan. Kegiatan pertama berfokus pada keterampilan produksi, sedangkan kegiatan kedua diarahkan pada pengenalan peluang usaha dari produk yang telah dibuat.
Penanggung jawab pembuatan sabun lidah buaya, Adrian Hutomo, terlebih dahulu memberikan demonstrasi kepada peserta mengenai proses pengolahan sabun. Setelah melihat demonstrasi, ibu-ibu PKK kemudian mempraktikkan sendiri tahapan pembuatan dengan didampingi mahasiswa KKN UNS 235.
Menurut Adrian, ketepatan dalam mencampurkan bahan menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan selama proses pembuatan. Setiap bahan harus digunakan sesuai takaran dan dicampurkan berdasarkan urutan yang telah ditentukan agar dapat tercampur secara merata.
“Pencampuran bahan sesuai takaran dan urutan sehingga sabun tercampur merata dan menghasilkan sabun yang baik,” ujar Adrian.
Pendampingan mahasiswa dilakukan selama peserta mempraktikkan proses tersebut. Dengan pendampingan itu, peserta dapat mengikuti tahapan sesuai demonstrasi yang diberikan sebelumnya sekaligus memperoleh pengalaman langsung dalam membuat produk.
Pelaksanaan praktik sempat menghadapi kendala berupa keterbatasan peralatan. Beberapa alat harus digunakan secara bergantian oleh peserta. Mahasiswa kemudian mengatur penggunaan alat sekaligus mendampingi peserta agar seluruh kelompok tetap dapat mengikuti proses pembuatan.

Bagi Adrian, pengalaman praktik tersebut menjadi bagian penting karena peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis. Ibu-ibu PKK juga memperoleh pemahaman baru mengenai potensi pemanfaatan lidah buaya.
Selama ini, lidah buaya lebih banyak dikenal masyarakat sebagai bahan yang digunakan untuk perawatan kulit atau produk skincare. Melalui kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan lain, yakni mengolahnya menjadi sabun cuci tangan yang dapat memiliki nilai jual.
“Peserta juga memperoleh pengetahuan baru bahwa lidah buaya tidak hanya untuk perawatan kulit wajah atau skincare, tetapi juga dapat diolah menjadi sabun cuci tangan yang memiliki nilai jual dan peluang usaha,” kata Adrian.
Setelah peserta menyelesaikan praktik pembuatan sabun, kegiatan dilanjutkan dengan workshop kewirausahaan yang dipandu Ranindira Mayla Zetadewi. Peserta sebelumnya telah dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempersiapkan gagasan mengenai produk yang mereka hasilkan.
Setiap kelompok diminta menentukan nama dan memperkirakan harga jual sabun lidah buaya. Metode tersebut digunakan untuk memperkenalkan peserta pada proses pengembangan produk secara sederhana, sehingga kegiatan tidak berhenti pada kemampuan membuat sabun.
Ranindira menjelaskan, keterlibatan peserta dalam menentukan identitas dan harga produk bertujuan agar mereka memahami bahwa pengembangan usaha membutuhkan sejumlah pertimbangan sejak awal.
“Tujuannya agar ibu-ibu itu tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami proses pengembangan usaha seperti menentukan identitas produk hingga memperkirakan harga jualnya,” ujar Ranindira.
Dalam menentukan harga jual, peserta diarahkan untuk mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Beberapa komponen yang diperhitungkan antara lain bahan, kemasan, dan label, kemudian disesuaikan dengan keuntungan yang ingin diperoleh.
Pendekatan tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa penentuan harga produk tidak cukup hanya berdasarkan perkiraan, tetapi perlu mempertimbangkan biaya produksi dan keuntungan agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sementara dalam penentuan identitas produk, kreativitas peserta terlihat dari sejumlah nama yang dihasilkan melalui diskusi kelompok. Lima nama yang muncul dalam kegiatan tersebut yakni Aloe Glow, Sari Buaya, Buaya Berseri, Aloeveraku, dan Fresh Aloe Vera.
Menurut Ranindira, munculnya berbagai nama tersebut menunjukkan antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan. Peserta mulai dilibatkan secara langsung untuk memikirkan bagaimana sebuah produk dapat diperkenalkan kepada calon konsumen.
“Dari hal itu kreativitas dan antusias ibu-ibu sangat terlihat,” kata Ranindira.
Selain membahas nama dan harga, mahasiswa juga memperkenalkan peluang pemasaran sabun lidah buaya berdasarkan potensi yang terdapat di lingkungan Gunungsari. Salah satu peluang yang disampaikan adalah memasarkan produk di sekitar destinasi wisata dan lokasi kuliner.
Menurut Ranindira, keberadaan berbagai destinasi wisata dan kuliner di Gunungsari dapat menjadi ruang pemasaran bagi produk masyarakat. Sabun lidah buaya yang diproduksi secara lokal berpotensi diarahkan sebagai produk yang dapat diedarkan di lingkungan sekitar destinasi tersebut.
Gagasan tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman peserta bahwa peluang usaha tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Potensi usaha juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dan mengolahnya menjadi produk yang memiliki manfaat serta nilai jual.
Adrian menilai sabun lidah buaya memiliki peluang untuk dibuat kembali secara mandiri oleh masyarakat setelah program KKN berakhir. Selain bahan yang mudah ditemukan, proses pembuatannya juga relatif sederhana.
“Karena bahannya mudah ditemukan, proses pembuatannya sederhana, memiliki manfaat dan nilai jual sehingga masyarakat bisa melanjutkan pembuatannya secara mandiri setelah KKN selesai,” jelas Adrian.
Aspek keberlanjutan menjadi salah satu tujuan dari program tersebut. KKN UNS 235 tidak hanya memberikan pengalaman selama kegiatan berlangsung, tetapi juga berupaya membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri.
Melalui workshop tersebut, ibu-ibu PKK diharapkan mampu melihat tanaman yang selama ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk. Pengetahuan produksi kemudian dipadukan dengan pemahaman dasar mengenai identitas produk, penentuan harga, dan peluang pemasaran.
Kegiatan ditutup dengan pemberian piagam kepada peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam mengikuti workshop.

KKN UNS 235 terdiri atas 10 mahasiswa, yakni Adrian Hutomo Ruswitananda dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP, Adyuta Mahadri dari Sosiologi FISIP, Riska Dewi Vibriana dari Pendidikan Ekonomi FKIP, Shaesa Rindini Nabiila dari Sastra Arab FIB, Ranindira Mayla Zetadewi dari Desain Interior FSRD, Zanita Qothrun Nadaa dari Ilmu Hukum FH, Elvina Ayu Hapsari dan Rara Galuh Prameswari dari Akuntansi FEB, Zakiyya Maftuhah dari Pendidikan Bahasa Inggris FKIP serta Nayla Rahma Ridhafasya dari Statistika FMIPA.
Program tersebut dilaksanakan di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Kahar Sunoko, S.T., M.T.
Melalui kegiatan ini, KKN UNS 235 menempatkan keterampilan produksi dan pengetahuan kewirausahaan sebagai satu rangkaian pemberdayaan. Sabun lidah buaya menjadi contoh produk sederhana yang dapat dikembangkan dari potensi lingkungan sekaligus membuka kemungkinan bagi masyarakat untuk membangun usaha skala rumahan.





