KKN UNS 173 Ajak Warga Dukuh Bungkal Ubah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi

Dokumentasi bersama setelah pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah oleh mahasiswa KKN UNS Kelompok 173 bersama warga Dukuh Bungkal Desa Kalang. (Dok. Pribadi/KKN UNS 173)
Dokumentasi bersama setelah pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah oleh mahasiswa KKN UNS Kelompok 173 bersama warga Dukuh Bungkal Desa Kalang. (Dok. Pribadi/KKN UNS 173)

Kalang, Krajan.id – Limbah minyak jelantah menjadi persoalan rumah tangga yang kerap dianggap sederhana, tetapi pembuangannya secara sembarangan dapat berdampak terhadap lingkungan. Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 173 yang mengajak masyarakat Dukuh Bungkal, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk yang lebih berguna.

Edukasi tersebut diwujudkan melalui pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah yang digelar di RW 01 Dukuh Bungkal, Senin (27/7/2026). Kegiatan menyasar masyarakat setempat dengan pendekatan praktik langsung agar peserta tidak hanya memahami persoalan limbah, tetapi juga mengetahui cara mengolahnya.

Bacaan Lainnya

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi oleh mahasiswa KKN mengenai minyak jelantah dan dampak pembuangannya terhadap lingkungan. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai sejumlah kemungkinan pemanfaatan minyak yang sudah tidak digunakan untuk memasak.

Salah satu pemanfaatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Menurut mahasiswa KKN, minyak yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.

Setelah materi diberikan, peserta diperkenalkan dengan sejumlah alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan lilin. Bahan tersebut antara lain minyak jelantah yang telah disaring, bahan pembentuk lilin, sumbu, wadah, dan bahan pewangi.

Mahasiswa kemudian memperagakan tahapan pembuatan lilin aromaterapi. Proses dimulai dari penyaringan minyak jelantah, dilanjutkan dengan pencampuran minyak dan bahan pembentuk lilin. Setelah itu, pewangi ditambahkan sebelum sumbu dipasang dan adonan dituangkan ke dalam wadah untuk kemudian didinginkan.

Warga praktik secara langsung pembuatan lilin aroma terapi dari minyak jelantah. (Dok. Pribadi/KKN UNS 173)
Warga praktik secara langsung pembuatan lilin aroma terapi dari minyak jelantah. (Dok. Pribadi/KKN UNS 173)

Pelatihan tidak berhenti pada demonstrasi. Peserta juga diberi kesempatan untuk mencoba membuat lilin secara langsung dengan pendampingan mahasiswa KKN UNS 173. Pendampingan diberikan pada setiap tahapan, terutama ketika peserta melakukan pengolahan minyak jelantah dan mencampurkannya dengan bahan pembentuk lilin.

Dalam praktik tersebut, peserta dapat memilih aroma dan wadah sesuai dengan kreativitas masing-masing. Pola pelatihan semacam ini membuat masyarakat memiliki pengalaman langsung mengenai proses pemanfaatan limbah rumah tangga.

Kegiatan berlangsung dengan partisipasi aktif masyarakat Dukuh Bungkal. Peserta memperoleh pemahaman mengenai dampak pembuangan minyak jelantah sekaligus pengalaman mengolahnya menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk edukasi sederhana mengenai pengelolaan limbah dari tingkat rumah tangga. Pengetahuan mengenai pemanfaatan minyak jelantah diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak langsung membuang minyak bekas pakai.

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi juga memperkenalkan alternatif pengolahan limbah yang dapat dilakukan dengan bahan dan proses yang relatif sederhana. Selain memiliki nilai guna, hasil olahan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui pelatihan tersebut, mahasiswa KKN UNS 173 berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi pembuangan limbah secara sembarangan sekaligus mengenalkan cara mengubah limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *