Purwobinangun, Krajan.id – Keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan bagi warga Dusun Srowolan, Padukuhan Gatep, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. Kondisi itu terutama dirasakan ketika musim kemarau saat debit sumur warga menyusut hingga berpotensi mengering.
Persoalan tersebut mendorong mahasiswa KKN-PPM Kelompok 105 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) membangun jalur advokasi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih warga. Program yang dijalankan diberi nama “Advokasi Air Bersih Srowolan: Tetes Kebaikan untuk Srowolan”.
Berdasarkan data yang dihimpun mahasiswa bersama warga, sebanyak 48 kepala keluarga terdampak langsung oleh keterbatasan air bersih. Selama ini, sebagian besar warga mengandalkan sumur galian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketika kemarau tiba, debit air dari sumur tersebut dapat berkurang. Warga pun melakukan berbagai upaya secara swadaya. Di antaranya memperdalam sumur, menimba air secara manual ketika pompa tidak mampu menarik air, hingga mencari tenaga bantuan untuk memperdalam sumur galian.
Upaya tersebut kemudian berkembang dengan pembentukan Kelompok Air Bersih “Sumber Lancar” pada 7 Desember 2025. Kelompok ini dibentuk sebagai wadah warga untuk mengelola dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah tersebut.
Dengan dukungan swadaya masyarakat dan Kalurahan Purwobinangun, pengeboran sumur utama kemudian berhasil dilakukan. Namun, keberadaan sumber air itu belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan.
Air dari sumur utama belum dapat dialirkan secara optimal ke rumah warga. Selain itu, kedalaman sumur dinilai masih perlu ditambah. Warga juga masih membutuhkan fasilitas penampungan serta jaringan distribusi air sepanjang sekitar 800 meter.
Kondisi inilah yang kemudian menjadi titik masuk bagi mahasiswa KKN-PPM Kelompok 105. Alih-alih hanya menggalang dana, mahasiswa memilih membangun jalur advokasi yang diharapkan dapat tetap berjalan setelah masa pengabdian mereka selesai.
Proses tersebut dimulai pada 23 Juli 2026 melalui diskusi bersama perangkat dusun. Sehari kemudian, mahasiswa menggali informasi lebih jauh bersama Jendro selaku Ketua Kelompok Air Bersih “Sumber Lancar” dan warga.
Dari proses tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kondisi sumber air, kebutuhan warga, upaya yang telah dilakukan, serta kebutuhan teknis yang masih harus dipenuhi. Kelompok Air Bersih “Sumber Lancar” juga dilibatkan sebagai pihak lokal karena memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung mengenai persoalan air di Srowolan.
Kelompok tersebut telah memiliki struktur kepengurusan yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, seksi pemeliharaan, dan seksi pelayanan. Struktur itu menjadi salah satu modal penting untuk memastikan pengelolaan air bersih dapat dilakukan oleh masyarakat setempat.

Untuk memperluas dukungan, mahasiswa kemudian menggandeng ASAR Humanity sebagai mitra kelembagaan. Pemilihan mitra dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian program serta aspek kelembagaan dalam pengelolaan kampanye dan penghimpunan dukungan.
ASAR Humanity memiliki program air bersih yang mencakup pembangunan sumur, sarana pendukung, serta pipanisasi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan warga dengan dukungan dari pihak yang memiliki kapasitas dalam pengembangan sarana air bersih.
Pada 29 Juli 2026, ASAR Humanity bersama mahasiswa, perangkat dusun, dan pengurus Kelompok Air Bersih “Sumber Lancar” melakukan survei langsung ke Srowolan. Survei mencakup lokasi sumber air, calon lokasi penampungan, serta fasilitas air di sekitar wilayah Gatep.
Kegiatan kemudian dilanjutkan pada 11 Agustus 2026. Saat itu, ASAR Humanity kembali hadir untuk melakukan pengambilan foto dan video yang diperlukan sebagai bagian dari persiapan kampanye.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa advokasi tidak berhenti pada pengumpulan informasi. Mahasiswa juga terlibat dalam observasi lapangan, wawancara warga, pengumpulan data, survei teknis, dokumentasi, penyusunan proposal, hingga koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian mahasiswa adalah keberlanjutan program. Karena itu, dibangun skema dua PIC atau penanggung jawab. Tim mahasiswa berperan sebagai inisiator sekaligus fasilitator selama masa pengabdian. Sementara itu, Kelompok Air Bersih “Sumber Lancar” ditempatkan sebagai pihak lokal yang dapat meneruskan koordinasi dengan ASAR Humanity setelah mahasiswa meninggalkan Srowolan.
Skema tersebut menjadi penting karena pembangunan jaringan air bersih belum dapat dinyatakan selesai hingga masa pengabdian berakhir. Namun, sejumlah capaian telah dihasilkan.
Capaian itu antara lain proposal advokasi yang memuat kondisi warga, kebutuhan teknis, struktur kelompok pengelola, serta kebutuhan anggaran. Mahasiswa juga menghasilkan dokumentasi lapangan untuk mendukung proses pengajuan dan kampanye.
Selain itu, telah terbangun komunikasi antara mahasiswa, Kelompok Air Bersih “Sumber Lancar”, ASAR Humanity, dan perangkat dusun. Proposal yang telah direvisi beserta dokumentasi yang dibutuhkan juga telah diserahkan kepada ASAR Humanity.

Dengan kondisi tersebut, capaian program tidak semata-mata dilihat dari jumlah dana yang berhasil dihimpun. Fokus utama program berada pada terbentuknya jalur advokasi yang dapat diteruskan oleh pihak-pihak yang telah terlibat.
Program ini juga menjadi bagian dari tema besar KKN-PPM Kelompok 105, yakni “Menyambut Desa Berdaya: Menenun Tradisi & Potensi Melalui Digitalisasi”.
Dalam program tersebut, digitalisasi ditempatkan sebagai sarana pendukung. Teknologi digunakan untuk memperluas jangkauan informasi, membangun komunikasi dengan mitra, serta membuka peluang dukungan terhadap upaya pemenuhan kebutuhan air bersih yang telah lebih dahulu dilakukan masyarakat.
Bagi mahasiswa, proses tersebut menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus berujung pada penyelesaian persoalan dalam waktu singkat. Dalam situasi tertentu, peran mahasiswa justru berada pada upaya mempertemukan pengetahuan lokal, kebutuhan masyarakat, dan dukungan kelembagaan.
Di Srowolan, persoalan air bersih belum sepenuhnya selesai. Air belum mengalir ke seluruh rumah warga. Namun, jalur untuk melanjutkan upaya pemenuhannya mulai terbentuk melalui kerja bersama antara warga, kelompok pengelola, mahasiswa, perangkat dusun, dan mitra kelembagaan.





