Dersono, Krajan.id – Pengembangan potensi Desa Dersono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, dilakukan melalui dua pendekatan berbeda. Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama BUMDes Tirta Sakti dan Pokdarwis Sungai Maron pada hari yang sama, dengan agenda yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mitra.
Bersama BUMDes Tirta Sakti, tim pengabdian memusatkan pembahasan pada pengembangan dan diversifikasi produk olahan lokal. Sementara itu, FGD bersama Pokdarwis Sungai Maron diarahkan pada penyusunan konsep awal penataan kawasan wisata melalui pendekatan landscape, streetscape, dan pedestrian.
Dua kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 dengan judul “Introduksi Teknologi Solar Cell pada Pengembangan Wisata dan Perbaikan Kualitas Air Bersih untuk Mewujudkan Desa Mandiri Energi Wisata Sungai Maron Derkuku Pacitan.”
Pelaksanaan FGD secara terpisah menunjukkan bahwa program pengabdian tidak hanya berorientasi pada satu bentuk intervensi. Kebutuhan pengembangan ekonomi masyarakat dan penataan kawasan wisata menjadi dua aspek yang dibahas melalui forum berbeda.
Diversifikasi Produk Jadi Fokus Bersama BUMDes
FGD bersama BUMDes Tirta Sakti diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengembangan usaha melalui diversifikasi produk olahan yang bersumber dari potensi lokal. Sebanyak 11 peserta mengikuti workshop pengembangan UMKM tersebut.
Dalam kegiatan itu, peserta membahas peluang mengolah bahan baku yang tersedia di masyarakat menjadi produk dengan nilai tambah. Salah satu arah pengembangannya adalah menghadirkan produk yang dapat dikembangkan sebagai oleh-oleh khas Desa Maron.
Tim memperkenalkan sejumlah produk, di antaranya Sambal Blondo Premium dan Sirup Gula Kelapa Premium. Pengenalan produk kemudian dilanjutkan dengan praktik uji coba pengembangan resep.
Tahap tersebut menjadi bagian penting karena pengembangan produk tidak berhenti pada pengenalan jenis olahan. Peserta juga mencoba menemukan formulasi yang sesuai dengan karakter bahan baku dan potensi lokal yang tersedia.
Uji coba resep selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi sebelum produk dikembangkan lebih lanjut. Aspek yang dapat diperhatikan meliputi cita rasa, aroma, tekstur, keunikan, penerimaan masyarakat, potensi pasar, hingga kemudahan proses produksi.
Melalui proses tersebut, pengembangan UMKM berbasis potensi desa diarahkan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Target pengembangan berikutnya adalah tersedianya produk oleh-oleh khas yang dapat memiliki nilai jual sekaligus mendukung produktivitas masyarakat. BUMDes Tirta Sakti menjadi salah satu mitra dalam proses tersebut melalui penguatan kapasitas pengembangan produk dan usaha masyarakat.
Pokdarwis Bahas Penataan Kawasan Sungai Maron
Pendekatan berbeda diterapkan dalam FGD bersama Pokdarwis Sungai Maron. Jika kegiatan bersama BUMDes berfokus pada produk dan pengembangan usaha, forum bersama Pokdarwis membahas penataan kawasan Wisata Sungai Maron.
Sebanyak 20 peserta mengikuti FGD yang digunakan sebagai ruang untuk menghimpun gagasan mengenai pengembangan kawasan. Pembahasan mencakup aspek landscape, streetscape, dan pedestrian.
Proses diskusi diawali dengan analisis SWOT. Peserta bersama tim pengabdian mengidentifikasi berbagai kondisi dan masukan yang dapat menjadi dasar penyusunan konsep penataan kawasan.
Analisis tersebut kemudian digunakan untuk menyusun konsep awal atau desain kasar kawasan wisata. Gagasan yang muncul dalam FGD tidak berhenti sebagai hasil diskusi, tetapi menjadi bahan untuk proses pengembangan desain berikutnya.
Konsep awal tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi desain yang lebih realistis dengan melibatkan mahasiswa MBKM. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari proses lanjutan dalam menerjemahkan hasil diskusi ke dalam rancangan penataan kawasan.
Pendekatan landscape, streetscape, dan pedestrian digunakan untuk melihat kawasan wisata secara lebih menyeluruh. Penataan tidak hanya menyangkut tampilan kawasan, tetapi juga bagaimana ruang tersebut dapat dikembangkan secara bertahap sesuai karakter dan kebutuhan Wisata Sungai Maron.
Hasil FGD kemudian menjadi pijakan dalam proses penyusunan desain. Dengan cara tersebut, forum bersama Pokdarwis memiliki keluaran yang dapat ditindaklanjuti dalam tahapan pengembangan berikutnya.

Pengembangan Desa Berangkat dari Kebutuhan Mitra
Dua FGD yang berlangsung pada hari yang sama memperlihatkan perbedaan kebutuhan antara BUMDes Tirta Sakti dan Pokdarwis Sungai Maron. Perbedaan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi agenda pengembangan yang berbeda.
Pada BUMDes Tirta Sakti, pengembangan diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah potensi lokal. Diversifikasi produk menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku sekaligus membuka peluang pengembangan produk khas desa.
Sementara itu, Pokdarwis Sungai Maron membutuhkan konsep penataan kawasan sebagai dasar pengembangan wisata. Karena itu, FGD difokuskan pada pemetaan gagasan, analisis kondisi, dan penyusunan konsep awal yang dapat dikembangkan menjadi desain.
Kedua pendekatan tersebut berada dalam satu kerangka program pengabdian. Pengembangan produk lokal berkaitan dengan penguatan potensi ekonomi masyarakat, sedangkan penataan kawasan berkaitan dengan pengembangan lingkungan pendukung kegiatan wisata.
Program tersebut juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan diversifikasi produk olahan lokal bersama BUMDes Tirta Sakti mendukung SDGs Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan potensi usaha serta peningkatan nilai tambah produk lokal.
Sementara itu, penyusunan konsep penataan kawasan wisata melalui pendekatan landscape, streetscape, dan pedestrian dikaitkan dengan SDGs Tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses perencanaan infrastruktur pendukung kawasan wisata.
Kegiatan ini juga mencerminkan SDGs Tujuan 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Program melibatkan tim perguruan tinggi, BUMDes Tirta Sakti, Pokdarwis Sungai Maron, masyarakat, serta mahasiswa dalam proses pelaksanaan dan pengembangan program.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan kapasitas perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks Desa Dersono, kerja sama itu diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi lokal dan kawasan wisata Sungai Maron.
Bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan
Kegiatan bersama BUMDes Tirta Sakti dan Pokdarwis Sungai Maron merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 melalui skema Program Pemberdayaan Desa Binaan.
Program tersebut mendapat dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Melalui dua kegiatan dengan fokus berbeda itu, proses pengabdian diarahkan pada kebutuhan konkret mitra. Pengembangan produk olahan dilakukan melalui pengenalan diversifikasi dan uji coba resep, sedangkan pengembangan wisata dimulai dari penggalian gagasan, analisis SWOT, hingga penyusunan konsep awal penataan kawasan.
Rangkaian tersebut menempatkan masyarakat dan mitra sebagai bagian dari proses pengembangan, bukan sekadar penerima program. Hasil diskusi dan praktik yang dilakukan menjadi bahan untuk melanjutkan tahapan pengembangan sesuai bidang masing-masing.
Di sisi ekonomi, produk olahan lokal menjadi ruang untuk mengembangkan nilai tambah dari potensi yang telah tersedia. Di sisi pariwisata, penyusunan desain menjadi tahap awal untuk menata kawasan secara lebih terarah.
Dua jalur pengembangan itu menjadi bagian dari upaya mendukung Desa Dersono dan kawasan Sungai Maron agar dapat mengoptimalkan potensi lokal melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.





