Pembelajaran Interaktif KKN UNS Dorong Keberanian Siswa SD Pelangi Handayani Menggunakan Bahasa Inggris

Dokumentasi bersama setelah mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak siswa SD Pelangi Handayani mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris interaktif melalui pengenalan kosakata yang dikemas dengan permainan. (Dok. Pribadi/KKN 71 UNS Karangawen)
Dokumentasi bersama setelah mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak siswa SD Pelangi Handayani mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris interaktif melalui pengenalan kosakata yang dikemas dengan permainan. (Dok. Pribadi/KKN 71 UNS Karangawen)

Karangawen, Krajan.id – Pembelajaran Bahasa Inggris bagi siswa sekolah dasar tidak cukup hanya dengan menghafalkan kosakata. Kesempatan untuk mendengar, merespons, dan menggunakan kosakata dalam situasi sederhana menjadi bagian penting agar siswa terbiasa menggunakan bahasa tersebut.

Hal itu menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui program pembelajaran Bahasa Inggris interaktif di SD Pelangi Handayani. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah perbendaharaan kosakata siswa, tetapi juga mendorong keberanian mereka untuk mencoba menggunakan Bahasa Inggris.

Bacaan Lainnya

Program bertajuk “Pembelajaran Bahasa Inggris Interaktif bagi Siswa Sekolah Dasar sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Dasar Bahasa Inggris” dilaksanakan dalam dua pertemuan, yakni pada 30 Juli dan 6 Agustus 2026. Kegiatan diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD Pelangi Handayani.

Materi yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan dasar siswa. Mahasiswa KKN menggunakan permainan dan media pembelajaran interaktif agar siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah.

Pada pertemuan pertama, 30 Juli 2026, siswa mempelajari materi body parts atau anggota tubuh. Kegiatan diawali dengan pengenalan kosakata Bahasa Inggris beserta cara pengucapannya.

Setelah pengenalan materi, mahasiswa KKN mengajak siswa mengingat kembali kosakata yang telah dipelajari melalui pertanyaan dan instruksi sederhana. Tahapan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk langsung merespons materi yang sebelumnya mereka dengarkan.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui permainan Simon Says. Dalam permainan itu, siswa diminta mendengarkan instruksi dalam Bahasa Inggris dan menunjukkan bagian tubuh sesuai kata yang disebutkan.

Permainan tersebut membuat proses pengulangan kosakata berlangsung dalam bentuk aktivitas fisik. Siswa tidak sekadar menghafalkan kata, tetapi juga menghubungkan kosakata dengan objek atau bagian tubuh yang dimaksud.

Cara tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih aktif. Ketika instruksi diberikan, siswa berusaha memahami kata yang didengar sebelum memberikan respons. Interaksi semacam ini sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk berlatih memahami Bahasa Inggris dalam konteks sederhana.

Materi pada pertemuan kedua, 6 Agustus 2026, beralih pada colors atau nama-nama warna dalam Bahasa Inggris. Berbeda dari pertemuan sebelumnya, mahasiswa KKN menggunakan media pembelajaran berbasis website yang memungkinkan siswa mengikuti kegiatan dalam bentuk permainan.

Melalui media tersebut, siswa diajak mengenali berbagai warna, menjawab pertanyaan, serta mengikuti aktivitas yang tersedia. Penggunaan media digital menjadi bagian dari upaya membuat pembelajaran lebih variatif dan sesuai dengan karakter siswa sekolah dasar.

Kegiatan pada dua pertemuan tersebut menunjukkan bahwa permainan dapat digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran Bahasa Inggris dasar. Siswa mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan, mengikuti instruksi, bergerak, serta mencoba menggunakan kosakata yang baru dipelajari.

Pendekatan tersebut juga membuat proses belajar berlangsung lebih komunikatif. Mahasiswa KKN tidak hanya menyampaikan materi, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan respons secara langsung.

Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Ketika pertanyaan disampaikan secara langsung maupun ditampilkan di papan tulis, sejumlah siswa berani mencoba memberikan jawaban. Sebagian siswa bahkan tetap berusaha menjawab meskipun belum sepenuhnya yakin dengan jawabannya.

Guru SD Pelangi Handayani, Rina, menilai penggunaan permainan membantu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan bagi siswa.

“Anak-anak terlihat senang mengikuti pembelajaran. Mereka juga jadi lebih berani menjawab ketika pembelajarannya diselingi permainan,” ujar Rina, salah satu guru SD Pelangi Handayani.

Keaktifan siswa juga terlihat ketika permainan dimulai. Suasana kelas menjadi lebih ramai, tetapi siswa tetap mengikuti arahan yang diberikan mahasiswa KKN.

Interaksi berlangsung dua arah. Siswa diminta menyebutkan kosakata, menjawab pertanyaan, mengikuti instruksi, serta menunjukkan bagian tubuh atau warna yang dimaksud. Aktivitas tersebut membuat siswa memiliki ruang untuk mencoba tanpa hanya bergantung pada penjelasan dari pengajar.

Dari sisi pembelajaran dasar, kegiatan tersebut menempatkan kosakata sebagai pintu masuk untuk membangun kemampuan Bahasa Inggris siswa. Materi yang diberikan memang sederhana, tetapi penggunaannya dalam permainan membuat siswa berlatih memahami kata sekaligus memberikan respons.

Program KKN ini juga memperlihatkan bahwa pengenalan Bahasa Inggris pada jenjang sekolah dasar dapat dilakukan melalui aktivitas yang dekat dengan dunia anak. Permainan Simon Says dan media berbasis website digunakan sebagai sarana untuk menghubungkan materi dengan kegiatan yang dapat dilakukan secara langsung oleh siswa.

Mahasiswa KKN UNS berupaya agar pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengingat kosakata. Siswa juga didorong untuk memiliki keberanian mencoba dan menggunakan Bahasa Inggris sesuai tingkat kemampuan mereka.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bagian awal dari proses belajar Bahasa Inggris yang lebih positif bagi siswa SD Pelangi Handayani. Kosakata dasar yang diperoleh selama kegiatan dapat menjadi bekal untuk memahami materi berikutnya.

Selain penguasaan kosakata, keberanian untuk menjawab dan mencoba menggunakan Bahasa Inggris menjadi aspek yang turut diperhatikan. Dengan terbiasa mencoba, siswa diharapkan tidak terlalu takut melakukan kesalahan ketika berhadapan dengan materi Bahasa Inggris pada pembelajaran selanjutnya.

Melalui pendekatan interaktif tersebut, program KKN UNS tidak hanya menghadirkan materi tambahan bagi siswa, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menempatkan siswa sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran Bahasa Inggris pun diarahkan agar lebih dekat dengan aktivitas siswa, mudah dipraktikkan, dan tetap sesuai dengan kemampuan dasar mereka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *