Dari Pasar ke Kebun, Mahasiswa KKN 31 UNS Olah Limbah Sayur Menjadi Pupuk Organik

Penyerahan Pupuk Organik Kompos Blok dan POC Buatan Kelompok 31 KKN UNS kepada Kepala Desa Mliwis di Kebun Buah Desa, Kamis (20/08/2026). (Dok. Bondan)
Penyerahan Pupuk Organik Kompos Blok dan POC Buatan Kelompok 31 KKN UNS kepada Kepala Desa Mliwis di Kebun Buah Desa, Kamis (20/08/2026). (Dok. Bondan)

Cepogo, Krajan.id – Tumpukan sayuran yang tidak lagi terjual di Pasar Sayur Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dimanfaatkan mahasiswa KKN 31 Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi pupuk organik. Program yang berlangsung selama empat pekan itu menghasilkan 10 botol Pupuk Organik Cair (POC) dan sembilan kompos blok dari lima karung limbah sayur.

Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan KKN periode Juli-Agustus 2026. Pengambilan limbah sayur dilakukan pada Selasa (21/7/2026) dan turut dihadiri Dosen Koordinator Lapangan, Donna Budi Kharisma, S.H., M.H.

Bacaan Lainnya

Alih-alih membiarkan limbah membusuk dan menjadi persoalan baru bagi lingkungan, mahasiswa mengolahnya menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pertanian. Program ini diinisiasi Fadila Yumna dari Fakultas Matematika dan Ilmu Alam serta Aldi Hardika dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Dalam pelaksanaannya, Tim KKN 31 Mliwis menggandeng komunitas agrikultur lokal, Gumregah Agriculture. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan pengelolaan limbah sayur yang masih segar agar memiliki nilai guna.

Founder Gumregah Agriculture, Ahmad Fahrezi, mengatakan limbah sayur yang masih segar relatif lebih mudah diolah. “Nah makanya ini coba kita kelola, ini kan masih seger-seger sebetulnya. Ini lebih mudah ngolahnya.”

Pengolahan dilakukan di Garden Gumregah sejak 21 Juli hingga 14 Agustus 2026. Tahapannya meliputi pencacahan sayur, pemerasan dan penyaringan sari limbah, hingga fermentasi. Dari rangkaian proses tersebut dihasilkan dua jenis pupuk, yakni POC dan kompos blok.

Untuk membuat kompos blok, ampas hasil penyaringan terlebih dahulu dikeringkan selama dua hingga tiga hari di bawah sinar matahari. Setelah kering, ampas dicampur dengan molase, sekam bakar, kotoran hewan, dan cairan bakteri.

Komposisi bahan terdiri atas 80 persen ampas limbah, 10 persen sekam kering, 5 persen molase, dan 5 persen cairan bakteri, ditambah 100 gram kotoran hewan. Campuran tersebut kemudian diaduk hingga merata dan dicetak berbentuk balok.

Setiap kompos blok memiliki berat sekitar satu kilogram dan ditujukan untuk penggunaan pada satu pohon, baik pada fase vegetatif maupun generatif.

Koordinator pembuatan kompos blok, Aldi Hardika, mengatakan proses pengeringan menjadi salah satu tahap yang membutuhkan waktu cukup panjang. Selain itu, proses pembuatan juga memerlukan sejumlah penyesuaian selama pelaksanaan.

“Prosesnya lumayan lama di pengeringan sih. Ampasnya perlu waktu 3 hari di bawah matahari terik, dan setelah jadi kompos bloknya masih harus dijemur lagi kurang lebih 4 hari, kalau mataharinya sedang nggak terik,” ujar Aldi.

Sementara itu, Fadila Yumna memimpin pengolahan pupuk organik cair. Bahan yang digunakan berasal dari air hasil fermentasi limbah yang telah dicampurkan dengan dekomposer dan katalis. Campuran tersebut kemudian diaduk secara berkala dan diberi aerasi untuk mendukung aktivitas mikroorganisme.

Ahmad Fahrezi menjelaskan aerasi diperlukan untuk membantu proses penguraian bahan organik sekaligus meningkatkan kualitas pupuk. “Kenapa harus begini, ya karena membantu proses penguraian bahan organik serta meningkatkan kualitas pupuk yang dihasilkan,” katanya.

Fadila menambahkan, proses fermentasi POC membutuhkan waktu tunggu sekitar tujuh hari sebelum dapat digunakan.

Hasil pengolahan kemudian disalurkan ke kebun buah desa. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa agar hasil program tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Kepala Desa Mliwis, Hardani, yang ditemui pada Kamis (20/8/2026), menyambut pemanfaatan limbah sayur tersebut. Menurut dia, inovasi pengolahan limbah berpotensi menjadi salah satu alternatif penanganan sampah sekaligus mendukung kegiatan pertanian warga.

“Dengan inovasi ini, harapan kami mampu mengurangi biaya operasional tanam,” ujar Hardani.

Ia juga berharap penggunaan kompos blok dan POC dapat membantu mengurangi ketergantungan petani di Desa Mliwis terhadap pupuk kimia.

Program KKN 31 UNS tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah organik dapat didekati melalui pemanfaatan kembali bahan yang masih memiliki nilai guna. Limbah dari pasar tidak hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi diolah menjadi produk yang kembali masuk ke siklus pertanian.

Dengan pola tersebut, kegiatan mahasiswa tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara mahasiswa, komunitas agrikultur, dan pemerintah desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *