Wanarejan Selatan, Krajan.id – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RW 07, Kelurahan Wanarejan Selatan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, mulai kembali digerakkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP). Salah satu hasil awal program tersebut terlihat dari penjualan 15 kilogram botol plastik yang hasilnya dimasukkan ke kas Posyandu RW 07.
Program bertajuk “Pilot RW Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Wansel” itu tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah. Tim KKN UNDIP menggabungkan edukasi kesehatan, pemanfaatan sampah organik, pengembangan produk olahan, hingga penguatan kembali operasional Bank Sampah RW 07.
Penjualan botol plastik menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sampah yang secara langsung memberikan manfaat bagi kegiatan masyarakat. Pada (13/8/2026), sebanyak 15 kilogram botol plastik dijual kepada depot rongsok di wilayah RW 01 dengan nilai Rp33.000. Seluruh hasil penjualan tersebut kemudian dimasukkan ke kas Posyandu RW 07.

Langkah itu menjadi bagian penting dari upaya mendorong agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan membersihkan lingkungan. Sampah yang dikumpulkan warga dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung kegiatan sosial di lingkungan RW.
Program KKN tersebut diawali dengan rapat koordinasi pada (23/7/2026). Tim mahasiswa berdiskusi dengan Ketua RW 07, para ketua RT, serta kader RW mengenai dasar hukum pengelolaan sampah rumah tangga dan rencana pelaksanaan kegiatan.
Setelah koordinasi, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi mengenai risiko kesehatan dan pengelolaan sampah rumah tangga pada (28/7/2026). Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Materi menekankan dampak sampah terhadap kesehatan serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Pemahaman peserta kemudian dievaluasi melalui permainan interaktif. Hasil evaluasi menunjukkan peserta telah memiliki pengetahuan yang baik sebagai bekal untuk menerapkan pengelolaan sampah rumah tangga.
Untuk mendukung perubahan perilaku, tim KKN juga menyediakan dua unit prototipe penyangga tempat sampah rumah tangga. Prototipe tersebut dibuat menggunakan pipa PVC yang dinilai kuat, ekonomis, dan mudah diperoleh masyarakat.
Model tersebut diarahkan sebagai sarana pemilahan sampah dari sumbernya. Dengan pemilahan sejak rumah, sampah yang masih memiliki nilai dapat dipisahkan sebelum disetorkan ke Bank Sampah RW 07.
Selain sampah anorganik, program juga menyasar pengelolaan sampah organik. Pada (31/7/2026), warga mengikuti praktik pembuatan eco-enzyme. Kegiatan diawali dengan pengenalan budaya 5R, yakni ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin, yang diadaptasi dari konsep 5S Jepang.
Dalam praktik tersebut, peserta memanfaatkan sampah organik rumah tangga. Sebanyak tiga botol eco-enzyme dihasilkan dan selanjutnya memasuki proses fermentasi.
Aspek pemanfaatan sampah kemudian diperluas melalui edukasi mengenai citra positif sampah serta strategi pemasaran produk daur ulang dan eco-enzyme pada (10/8/2026). Sebanyak 27 warga mengikuti kegiatan tersebut.
Materi tersebut diarahkan untuk memperkenalkan kemungkinan pemanfaatan sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Pengetahuan mengenai pengolahan dan pemasaran diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan sampah untuk kebutuhan rumah tangga maupun tambahan pendapatan.
Sementara itu, operasional Bank Sampah RW 07 menjadi salah satu bagian utama dalam rangkaian program. Bank sampah dikelola oleh tim KKN UNDIP pada (3-7/8/2026). Mulai (10/8/2026), pengelolaan dilanjutkan oleh kader RW 07.
Keterlibatan kader menjadi penting karena keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada masa pelaksanaan KKN. Pengelolaan oleh warga diharapkan membuat aktivitas bank sampah tetap berjalan setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan di wilayah tersebut.
Ketua RW 07 Wawan mengatakan, edukasi yang diberikan mahasiswa mulai mendorong perubahan di tengah masyarakat. Warga perlahan mengikuti arahan mengenai pengelolaan sampah yang disampaikan selama kegiatan.
“Jelas ada. Setelah mahasiswa KKN memberi paparan-paparan dampak negatif dan positif sampah, warga RW 07 sedikit demi sedikit mengikuti arahan mahasiswa KKN,” ujar Wawan.

Perubahan juga terlihat dalam kebiasaan warga menyimpan botol plastik bekas. Ketua PKK RW 07 Henny Windi mengatakan, botol yang sebelumnya langsung dibuang kini mulai dikumpulkan untuk disetorkan kepada pengelola bank sampah.
“Biasanya botol-botol bekas dibuang, sekarang disimpan dan setiap hari ke sini, saat MBG, mereka bawa botol satu, bawa botol satu,” kata Henny.
Menurut dia, warga juga mulai mempelajari pembuatan eco-enzyme karena bahan yang digunakan mudah ditemukan dan manfaatnya dapat digunakan dalam kebutuhan sehari-hari.
“Untuk eco-enzyme, mereka juga ada yang belajar membuat karena manfaatnya ada untuk kita sehari-hari, khususnya bagi ibu rumah tangga, dan bahan-bahannya mudah dicari,” ujar Henny.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat RW dapat dikembangkan melalui pendekatan yang tidak hanya menekankan aspek lingkungan. Edukasi kesehatan, pemilahan dari rumah, pengolahan sampah organik, serta pemanfaatan nilai ekonomi sampah ditempatkan dalam satu rangkaian kegiatan.
Hasil penjualan botol plastik yang masuk ke kas Posyandu juga menjadi contoh pemanfaatan langsung dari sampah yang dikumpulkan warga. Skema tersebut sekaligus menghubungkan aktivitas menjaga kebersihan lingkungan dengan kebutuhan kegiatan sosial masyarakat.
Keberlanjutan program kini bergantung pada konsistensi warga dan kader RW 07 dalam menjalankan bank sampah. Kebiasaan menyimpan dan menyetorkan botol plastik serta keterlibatan warga dari seluruh RT menjadi bagian penting agar pengelolaan sampah tidak berhenti setelah program KKN selesai.
Program KKN UNDIP di Wanarejan Selatan dengan demikian tidak hanya menghidupkan kembali aktivitas Bank Sampah RW 07, tetapi juga memperkenalkan pola pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah dan diarahkan untuk memberikan manfaat kembali kepada masyarakat.





