Muncangkopong, Krajan.id – Digitalisasi menjadi salah satu upaya yang ditempuh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 82 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) untuk membantu memperluas pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Muncangkopong.
Melalui program kerja yang dilaksanakan pada Sabtu (25/7/2026), mahasiswa KKM Kelompok 82 mendampingi pelaku usaha lokal Lilly Magadir, produsen camilan keripik singkong, dalam memperkuat keberadaan usahanya di ruang digital sekaligus memperjelas identitas usaha di lokasi.
Pendampingan tersebut berangkat dari kondisi usaha yang dinilai memiliki potensi pasar, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam menjangkau konsumen. Salah satunya karena lokasi usaha belum terintegrasi secara optimal dengan layanan digital yang dapat membantu calon pembeli menemukan produk.
Keripik singkong Lilly Magadir dipasarkan dalam dua varian rasa, yakni original dan balado. Varian original menawarkan rasa gurih dan renyah, sedangkan varian balado memiliki perpaduan rasa pedas dan manis.
Alih-alih hanya berfokus pada promosi produk, mahasiswa KKM Kelompok 82 mengarahkan pendampingan pada sejumlah aspek yang dapat digunakan pemilik usaha secara berkelanjutan.
Memperjelas Lokasi Usaha di Google Maps
Langkah pertama dilakukan dengan membantu mendaftarkan dan memverifikasi lokasi usaha Lilly Magadir di Google Maps. Informasi yang disiapkan mencakup titik lokasi, alamat, jam operasional, serta kontak pemesanan.
Keberadaan lokasi usaha pada layanan pemetaan digital diharapkan memudahkan konsumen menemukan tempat penjualan. Langkah ini juga membuka peluang agar usaha lokal tersebut lebih mudah dikenali oleh masyarakat di luar Desa Muncangkopong.
Bagi UMKM yang beroperasi dari lingkungan perdesaan, keberadaan informasi lokasi yang mudah ditemukan menjadi bagian penting dari upaya memperluas akses pasar. Konsumen tidak hanya membutuhkan informasi mengenai produk, tetapi juga kepastian mengenai tempat dan cara mendapatkannya.
Membuat Konten Promosi Digital
Selain memperbaiki keberadaan lokasi usaha, mahasiswa KKM 82 membuat video iklan promosi berdurasi pendek. Materi tersebut menampilkan produk keripik singkong beserta dua pilihan rasa yang tersedia.
Konten visual itu dirancang agar dapat digunakan pada berbagai platform media sosial. Dengan pendekatan tersebut, promosi tidak hanya mengandalkan konsumen yang datang langsung ke lokasi, tetapi juga dapat menjangkau calon pembeli melalui kanal digital.
Mahasiswa menampilkan karakter produk melalui visual tekstur keripik dan bumbu pada masing-masing varian. Materi tersebut kemudian disiapkan sebagai bagian dari strategi pengenalan produk kepada khalayak yang lebih luas.
Memperkuat Identitas Usaha
Upaya ketiga dilakukan melalui pembuatan dan pemasangan banner usaha. Mahasiswa membantu merancang visual yang memuat identitas usaha, pilihan rasa, serta kontak pemesanan.

Banner dipasang di area usaha Lilly Magadir agar keberadaan tempat produksi dan penjualan lebih mudah dikenali oleh masyarakat yang melintas. Langkah sederhana tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat identitas fisik usaha di tingkat lokal.
Pemilik usaha, Lilly Magadir, menyambut baik pendampingan yang dilakukan mahasiswa KKM UNIBA. Program tersebut dinilai membantu memperkenalkan produk keripik singkong kepada jangkauan pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.
Bagi mahasiswa KKM Kelompok 82, digitalisasi UMKM tidak berhenti pada pembuatan akun atau materi promosi. Keberadaan informasi lokasi, konten visual, dan identitas usaha perlu dikelola secara berkelanjutan oleh pemilik agar manfaatnya dapat terus dirasakan.

Pendampingan terhadap Lilly Magadir diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kemampuan usaha dalam memanfaatkan teknologi digital. Selain berpotensi memperluas pemasaran keripik singkong, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi pelaku UMKM Desa Muncangkopong lainnya untuk mulai memanfaatkan kanal digital dalam mengembangkan usaha.
Dengan demikian, program KKM tidak hanya menyasar peningkatan promosi produk dalam jangka pendek, tetapi juga mendorong pelaku usaha mengenali pentingnya kehadiran digital sebagai bagian dari pengembangan UMKM di tingkat desa.





