Dilem, Krajan.id – Kebiasaan menjaga kesehatan gigi diperkenalkan kepada siswa SDN Dilem, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, melalui mata acara Senyum Nirmala dalam program Jagawana 5.0 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair), Rabu (19/8/2026).
Sekitar 18 siswa kelas 1 hingga 6 mengikuti kegiatan tersebut. Edukasi tidak hanya berisi penjelasan mengenai kesehatan gigi, tetapi juga mengajak siswa mempraktikkan cara menyikat gigi yang benar melalui kegiatan yang dirancang interaktif.
Penanggung jawab mata acara Senyum Nirmala Jagawana 5.0, Aulia Putri Sisma, mengatakan pemilihan siswa sekolah dasar sebagai sasaran kegiatan didasarkan pada pentingnya membentuk kebiasaan menjaga kesehatan sejak usia dini.
“Kami ingin mengedukasi anak-anak mumpung mereka masih kecil, supaya bisa mencegah sejak awal dan mereka tidak merasakan dampak buruknya di kemudian hari. Anak-anak kadang belum tahu cara menggosok gigi yang baik dan benar, sehingga harapannya melalui kegiatan ini mereka jadi paham dan risiko sakit gigi bisa berkurang,” ujar Aulia, mahasiswa Program Studi Manajemen Perkantoran Digital angkatan 2024.

5.0 di Senyum Nirmala. (Sumber foto: Staff Divisi Publikasi, Desain dan Dokumentasi Jagawana 5.0)
Menurut Aulia, edukasi mengenai kesehatan gigi anak perlu disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan usia peserta. Karena itu, tim tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi mengemas kegiatan dengan praktik dan kuis.
Materi yang diberikan mencakup perbedaan gigi susu dan gigi dewasa, ciri-ciri gigi sehat serta gigi yang mengalami masalah. Para siswa juga diperkenalkan pada proses terbentuknya gigi berlubang yang berkaitan dengan sisa makanan dan bakteri di dalam mulut.
Selain itu, siswa mendapatkan penjelasan mengenai jenis makanan yang baik untuk kesehatan gigi dan makanan yang sebaiknya dihindari. Tim juga menyampaikan waktu serta durasi menyikat gigi yang dianjurkan.
Bagian praktik menjadi salah satu kegiatan utama. Seluruh siswa diajak mempraktikkan enam langkah menyikat gigi yang benar secara bersama-sama. Setelah praktik, kegiatan dilanjutkan dengan kuis interaktif untuk mengetahui sejauh mana materi yang diberikan dapat dipahami peserta.
Aulia mengatakan penyelenggaraan mata acara tersebut telah dipersiapkan selama sekitar satu bulan. Tantangan utama bukan hanya menyiapkan materi, tetapi menentukan cara penyampaian agar dapat diterima siswa dari kelas yang berbeda.
“Tantangannya adalah bagaimana mengemas acara ini supaya asyik, gampang diterima, mudah dipahami, dan mudah diaplikasikan, sehingga materi yang kami ajarkan bisa benar-benar melekat di pikiran anak-anak,” katanya.
Perbedaan usia peserta menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kegiatan. Materi mengenai kesehatan gigi perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar dapat dipahami siswa sekaligus mendorong mereka untuk mempraktikkannya setelah kegiatan selesai.
Respons siswa selama acara menjadi salah satu catatan bagi panitia. Aulia mengatakan antusiasme peserta berada di luar perkiraan tim penyelenggara. Pihak sekolah juga memberikan sambutan positif terhadap pelaksanaan edukasi tersebut.
“Responsnya tentu di luar dugaan, anak-anak terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, bahkan lebih dari yang kami perkirakan. Pihak sekolah juga menyambut baik acara ini,” tutur Aulia.
Pemahaman siswa kemudian terlihat dalam sesi kuis yang digelar pada penghujung acara. Sejumlah pertanyaan berkaitan dengan materi yang sebelumnya disampaikan, termasuk cara menjaga dan merawat gigi.
“Salah satu indikator keberhasilannya bisa dilihat dari kuis yang kami adakan tadi. Kabar baiknya, anak-anak mampu menjawab dengan tepat dan ada pemenangnya, tandanya mereka memang memahami materi tentang cara merawat gigi yang sudah kami ajarkan,” tambahnya.
Bagi tim Senyum Nirmala, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari kemampuan siswa menjawab pertanyaan selama acara. Pengetahuan tersebut diharapkan berlanjut menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aulia berharap siswa SDN Dilem dapat mempertahankan kebiasaan menjaga kebersihan gigi setelah kegiatan berakhir. Menurut dia, kebiasaan sederhana justru perlu dilakukan secara konsisten agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Harapan saya sederhana, semoga anak-anak bisa konsisten menerapkan kebiasaan merawat gigi ini ke depannya. Sebab, hal-hal sederhana semacam ini justru yang paling sering terlupakan,” pungkasnya.
Kegiatan Senyum Nirmala dalam Jagawana 5.0 menempatkan edukasi kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran sejak lingkungan sekolah. Melalui pengenalan perawatan gigi sejak dini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk mempraktikkan kebiasaan yang dapat diterapkan dalam keseharian.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana dan dekat dengan kehidupan anak. Dalam konteks Jagawana 5.0, pesan mengenai lingkungan sehat diperluas melalui kesadaran menjaga kesehatan diri sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.





