Mahasiswa KKN UMBY Ajak Siswa SD di Pakis Mengenali Kelebihan Diri dan Berani Merangkai Cita-cita

Mahasiswa KKN Kelompok 68 UMBY bersama siswa SD berfoto bersama seusai kegiatan psikoedukasi “Mengenali Potensi, Merangkai Mimpi” di Dusun Pakis Tengah, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. (Dok. Pribadi/KKN Kelompok 68 UMBY)
Mahasiswa KKN Kelompok 68 UMBY bersama siswa SD berfoto bersama seusai kegiatan psikoedukasi “Mengenali Potensi, Merangkai Mimpi” di Dusun Pakis Tengah, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. (Dok. Pribadi/KKN Kelompok 68 UMBY)

Pakis, Krajan.id – Mengenali kemampuan diri sejak usia sekolah menjadi bagian penting dalam membantu anak membangun kepercayaan diri. Hal itu menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 68 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melalui kegiatan psikoedukasi bagi siswa sekolah dasar di Dusun Pakis Tengah, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Program bertajuk “Mengenali Potensi, Merangkai Mimpi” tersebut tidak hanya mengajak siswa berbicara mengenai cita-cita. Mahasiswa juga mendorong anak-anak untuk mengenali kelebihan yang mereka miliki serta memahami bahwa kemampuan setiap orang dapat berbeda.

Bacaan Lainnya

Kegiatan menyasar siswa kelas 4 SD dan digelar di dua sekolah. Kegiatan pertama berlangsung di SDIT Jam’iyyatul Ihsan Pakis pada Rabu (29/7/2026), kemudian dilanjutkan di SDN Pakis 1 pada Kamis (30/7/2026).

Materi yang diberikan mencakup pengenalan potensi diri, kemampuan, minat, serta cita-cita. Pendekatan yang digunakan dibuat interaktif agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses mengenali dirinya sendiri.

Sebelum menyusun kegiatan, mahasiswa KKN Kelompok 68 melakukan wawancara, observasi, dan diskusi dengan perangkat dusun serta pihak sekolah. Dari proses tersebut, mahasiswa melihat siswa di Dusun Pakis Tengah memiliki semangat belajar yang baik, aktif mengikuti kegiatan di sekolah, dan tertarik mencoba hal-hal baru.

Namun, sebagian siswa dinilai belum sepenuhnya mengenali kelebihan yang dimiliki. Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan kegiatan psikoedukasi.

Mahasiswa memperkenalkan pemahaman bahwa potensi diri tidak selalu berkaitan dengan prestasi akademik atau kemenangan dalam perlombaan. Kemampuan menggambar, berolahraga, bernyanyi, berbicara di depan orang lain, membantu teman, hingga kemauan untuk terus belajar juga merupakan bentuk potensi yang dapat dikembangkan.

Pendekatan itu kemudian diterapkan melalui permainan dan aktivitas yang melibatkan siswa secara langsung. Salah satunya adalah permainan Bola Bingo Potensi.

Dalam permainan tersebut, bola diputar dari satu siswa kepada siswa lainnya dengan diiringi musik. Ketika musik berhenti, siswa yang memegang bola diminta menyebutkan kelebihan dirinya atau kemampuan yang dimiliki temannya.

Aktivitas tersebut membuat siswa lebih aktif berinteraksi. Sejumlah anak mulai menyebutkan kemampuan yang mereka miliki, antara lain menggambar, bermain sepak bola, bernyanyi, hingga membantu guru.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengisian Lembar Aktivitas Pohon Potensi. Siswa diminta menuliskan hobi, kemampuan yang dimiliki, cita-cita, orang-orang yang memberikan dukungan, serta keterampilan yang ingin terus dikembangkan.

Mahasiswa KKN mendampingi siswa yang masih kesulitan menemukan jawaban. Mereka diajak mengingat aktivitas yang disukai, pelajaran yang membuat mereka bersemangat, hingga pujian yang pernah diterima dari orang tua atau guru.

Setelah mengisi lembar tersebut, beberapa siswa mendapat kesempatan untuk menyampaikan hasil Pohon Potensi di depan kelas. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak untuk belajar mengungkapkan keinginan dan mengenali hal-hal yang dianggap penting dalam dirinya.

Di SDIT Jam’iyyatul Ihsan Pakis, salah seorang siswa bernama Nizam menceritakan cita-citanya menjadi pemain sepak bola. Ia menyebut ayah, ibu, dan kakaknya sebagai sosok yang memberikan dukungan.

“Saya ingin terus mengembangkan kemampuan bermain sepak bola dan juga belajar olahraga lain seperti badminton dan voli,” ujar Nizam.

Nizam juga menyampaikan keinginannya untuk menjadi atlet terkenal. Ia berani menyampaikan cita-cita tersebut di depan teman-temannya.

Sementara itu, di SDN Pakis 1, seorang siswi bernama Mello turut maju membawa hasil Pohon Potensinya. Ia menceritakan keinginannya menjadi guru karena senang membantu teman memahami pelajaran.

Bagi Mello, ayah, ibu, kakak, dan adiknya menjadi sumber semangat untuk belajar di rumah. Cerita tersebut kemudian diikuti siswa lainnya yang mulai berani berbagi mengenai cita-cita dan kemampuan mereka.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 68, proses tersebut menunjukkan bahwa pengenalan potensi anak dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana dan dekat dengan keseharian siswa. Anak tidak hanya diajak mengenali kemampuan pribadi, tetapi juga belajar melihat dan menghargai kelebihan yang dimiliki teman.

Psikoedukasi kemudian ditutup dengan sesi refleksi. Siswa diajak memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan, bakat, dan kemampuan yang berbeda. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui proses belajar, latihan, dan keberanian untuk mencoba.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan jargon bersama, “Setiap Anak Punya Keunikan!” dan “Mengenali Potensi, Merangkai Mimpi!”. Siswa kemudian mengikuti sesi foto bersama.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 68 UMBY berharap siswa di Dusun Pakis Tengah semakin mampu mengenali kemampuan dirinya. Mereka juga diharapkan lebih berani memiliki cita-cita dan memiliki kemauan untuk mengembangkan potensi anak sejak dini.

Bagi anak-anak tersebut, mengenali potensi bukan sekadar mengetahui apa yang mereka bisa lakukan. Proses itu juga menjadi langkah awal untuk membangun keberanian bahwa setiap kemampuan dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam meraih cita-cita.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *