UMKM Desa Cepedak Mulai Didorong Masuk Pasar Digital melalui Pelatihan Packaging dan E-Commerce

Mahasiswa KKN 216 UNS saat memaparkan materi. (Dok. Pribadi/KKN 216 UNS)
Mahasiswa KKN 216 UNS saat memaparkan materi. (Dok. Pribadi/KKN 216 UNS)

Cepedak, Krajan.id – Pelaku UMKM di Desa Cepedak, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, masih menghadapi kendala untuk memasarkan produk melalui e-commerce. Keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi, faktor usia, serta kekhawatiran produk tidak laku menjadi sejumlah hambatan yang ditemukan mahasiswa KKN Kelompok 216 Universitas Sebelas Maret (UNS).

Temuan tersebut muncul dalam Pelatihan Packaging dan Pembuatan Akun E-Commerce bagi Pelaku UMKM Desa Cepedak yang digelar mahasiswa KKN UNS pada (23/7/2026). Kegiatan berlangsung pukul 13.00-15.00 WIB dan diikuti sekitar 30 pelaku UMKM.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa KKN UNS, Windhi Yustika Sari, mengatakan sebagian pelaku UMKM masih mengandalkan pemasaran konvensional. Produk umumnya dijual di pasar, melalui rekomendasi dari mulut ke mulut, atau dipromosikan melalui status WhatsApp.

“Para pelaku UMKM belum menjual dagangannya ke e-commerce, masih dijual di pasar-pasar dan dari mulut ke mulut atau status WhatsApp saja,” kata Windhi.

Selain persoalan pemasaran, mahasiswa juga menemukan sejumlah kekurangan pada kemasan produk. Beberapa kemasan belum mencantumkan ingredients atau komposisi bahan, memiliki desain yang kurang menarik, dan belum dilengkapi logo halal.

Meski begitu, tidak semua produk peserta memiliki persoalan pada kualitas kemasan. Dalam pelatihan, sejumlah pelaku UMKM memperlihatkan kemasan produknya kepada mahasiswa untuk mendapatkan masukan. Beberapa di antaranya dinilai sudah cukup baik, tetapi belum memanfaatkan e-commerce sebagai saluran pemasaran.

Salah satu pelaku UMKM Desa Cepedak, Bu Ngadiyah, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemasaran digital. Sebelumnya, pemanfaatan internet untuk menjual produk masih menjadi hal yang belum banyak dipahami pelaku usaha.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat, terutama bagi kami yang masih kurang memahami pemasaran secara online. Dengan adanya pelatihan e-commerce, kami menjadi lebih mengetahui bagaimana cara memasarkan produk melalui internet,” kata Ngadiyah.

Menurut dia, materi mengenai packaging juga penting bagi pelaku UMKM karena kemasan menjadi salah satu aspek yang dapat memengaruhi ketertarikan konsumen.

“Pelatihan packaging juga memberikan manfaat karena kami masih perlu belajar bagaimana membuat kemasan yang bagus dan menarik pembeli,” ujarnya.

Namun, pengenalan e-commerce belum serta-merta membuat pelaku UMKM siap beralih dari pemasaran konvensional. Windhi mengatakan sebagian pelaku usaha masih kesulitan membuat akun e-commerce karena belum terbiasa menggunakan teknologi digital.

Antusias para pelaku UMKM Desa Cepedak saat menyimak materi. (Dok. Pribadi/KKN 216 UNS)
Antusias para pelaku UMKM Desa Cepedak saat menyimak materi. (Dok. Pribadi/KKN 216 UNS)

Faktor usia turut menjadi persoalan. Sebagian pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan merupakan warga lanjut usia sehingga membutuhkan waktu lebih untuk memahami penggunaan platform digital.

Selain persoalan teknis, terdapat kekhawatiran bahwa produk yang mereka jual tidak akan laku ketika masuk ke e-commerce. Sebagian pelaku juga menganggap pemasaran secara konvensional lebih sederhana karena tidak membutuhkan proses pengelolaan toko digital.

Pelatihan yang dilakukan mahasiswa KKN UNS tersebut baru berlangsung selama satu hari dan lebih banyak berupa sosialisasi. Karena itu, kegiatan belum dapat menunjukkan perubahan pemasaran secara langsung pada seluruh peserta.

Meski demikian, antusiasme peserta terlihat ketika mereka membawa produk dan kemasan masing-masing untuk dikonsultasikan kepada mahasiswa. Peserta juga aktif menanyakan kekurangan produk serta cara mengembangkan pemasaran melalui e-commerce.

Desa Cepedak sendiri memiliki beragam produk UMKM yang berpotensi dipasarkan lebih luas. Produk yang dibawa peserta antara lain keripik pisang, keripik singkong, gula aren, jahe bubuk, dan keripik talas.

Keberagaman produk tersebut menjadi potensi bagi pengembangan ekonomi lokal apabila diikuti dengan penguatan kemasan dan perluasan akses pemasaran. E-commerce dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkenalkan produk Desa Cepedak kepada konsumen di luar wilayah desa.

Program pelatihan tersebut merupakan bagian dari program kerja KKN Kelompok 216 UNS dengan tema Pengembangan UMKM. Kegiatan dilaksanakan oleh Roaina Al Istiqomah, Adrew Kurniawan, Ghevira Sri Alfaizah, Rizky Sungsang Wahyuningtyas, Alvian M Nugroho, Amira Fatin, Chairunisa Dwita Augusta, Aulia Fadia, Anggita Widyasti, dan Windhi Yustika Sari.

Kegiatan tersebut berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ayyas Yahya, S.Pd., M.Pd.

Bagi mahasiswa KKN, pengenalan e-commerce menjadi langkah awal untuk membuka alternatif pemasaran bagi UMKM Desa Cepedak. Namun, keberlanjutan pendampingan tetap diperlukan agar pelaku usaha tidak berhenti pada tahap mengenal atau membuat akun, melainkan mampu menggunakannya secara mandiri untuk mengembangkan pasar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *