Hadiluwih, Krajan.id – Pemanfaatan bahan pangan yang mudah ditemukan di lingkungan desa menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 195 Desa Hadiluwih, Kecamatan Ngadirojo. Mereka mengolah kedelai dan gedebog pisang menjadi dua produk pangan dengan konsep berbeda, yakni minuman kedelai Luwih Creamy dan keripik Luwih Crispy.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui dua kegiatan yang melibatkan ibu-ibu PKK Desa Hadiluwih. Pelatihan pembuatan Luwih Creamy dilaksanakan di Balai Desa Hadiluwih pada Minggu (12/7/2026), kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan Luwih Crispy pada Minggu (19/7/2026).
Kedua kegiatan itu tidak hanya berfokus pada proses pengolahan pangan. Mahasiswa KKN 195 UNS juga memperkenalkan kemungkinan pengembangan kedua produk sebagai ide usaha berbasis komoditas lokal yang dapat diteruskan masyarakat.
Kedelai selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan baku tempe dan susu kedelai. Melalui program tersebut, mahasiswa KKN mencoba memperkenalkan bentuk olahan lain melalui Luwih Creamy.
Sementara itu, bagian batang pohon pisang atau gedebog yang selama ini belum banyak dimanfaatkan diolah menjadi Luwih Crispy. Bahan tersebut melalui sejumlah tahapan pengolahan sebelum menjadi produk keripik dengan tekstur renyah.
Salah satu mahasiswa KKN 195 UNS, April, mengatakan gagasan tersebut muncul dari upaya melihat kembali komoditas yang sudah tersedia di Desa Hadiluwih. Bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dinilai masih dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk dan nilai tambah berbeda.
“Kami mencoba membuat inovasi ide bisnis baru dengan memanfaatkan komoditas utama yang ada di Desa Hadiluwih, yaitu pohon pisang dan kedelai. Jadi, bahan yang sebenarnya sudah dekat dengan masyarakat ini kami coba olah menjadi produk yang lebih variatif dan punya nilai jual,” ujar April.
Pelatihan Luwih Creamy menjadi kegiatan pertama. Pada Minggu (12/7/2026), peserta diperkenalkan dengan tahapan mengolah kedelai menjadi minuman dengan tekstur yang lembut dan creamy.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menjelaskan cara pembuatan produk. Peserta juga dikenalkan pada peluang pengembangan produk sehingga hasil olahan komoditas lokal tidak sebatas untuk konsumsi rumah tangga, tetapi dapat dipertimbangkan sebagai alternatif usaha.
Seminggu kemudian, mahasiswa KKN 195 UNS kembali menggelar pelatihan di Balai Desa Hadiluwih. Kali ini, bahan yang digunakan adalah gedebog pisang.
Pemanfaatan gedebog menjadi salah satu bagian menarik dari program tersebut. Bahan yang selama ini cenderung belum dimanfaatkan secara optimal diperkenalkan sebagai bahan dasar produk pangan.
Peserta mengikuti proses pengolahan gedebog pisang hingga menjadi keripik. Dari proses tersebut, mahasiswa memperlihatkan bahwa bahan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk pangan dengan bentuk berbeda.
Program tersebut mendapat respons dari pengurus PKK Desa Hadiluwih. Yuni menilai kedua produk yang diperkenalkan mahasiswa KKN 195 UNS memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat, terutama ibu-ibu PKK.
“Ini bisa menjadi ide bisnis yang sangat mungkin untuk diteruskan oleh ibu-ibu PKK. Apalagi bahan yang digunakan juga mudah ditemukan di sekitar kita, jadi sangat memungkinkan kalau dikembangkan menjadi usaha,” ujar Yuni.
Menurut Yuni, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu pertimbangan penting ketika sebuah produk akan dikembangkan menjadi usaha. Kedelai dan pohon pisang merupakan komoditas yang relatif dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Hadiluwih.
Respons serupa disampaikan Nevy. Ia mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai kemungkinan pengolahan kedelai di luar produk yang selama ini umum dikenal masyarakat.
“Kita taunya kedelai ya hanya untuk tempe atau susu kedelai. Nah, ini jadi inovasi baru, kita jadi tahu ada Luwih Creamy ini. Ternyata kedelai bisa dikembangkan lagi menjadi produk yang berbeda,” ungkap Nevy.
Bagi mahasiswa KKN 195 UNS, pengolahan kedelai dan gedebog pisang tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan cara pandang baru terhadap potensi desa. Komoditas lokal tidak hanya dilihat berdasarkan bentuk atau pemanfaatan yang sudah umum, tetapi juga berdasarkan kemungkinan pengolahannya menjadi produk baru.
Pendekatan itu sekaligus mempertemukan aspek keterampilan pengolahan pangan dengan pengenalan peluang ekonomi. Masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai cara mengolah bahan baku, sedangkan produk yang dihasilkan dapat menjadi contoh awal pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Kehadiran Luwih Creamy dan Luwih Crispy juga menunjukkan bahwa inovasi produk pangan tidak selalu harus berangkat dari bahan yang sulit diperoleh. Bahan yang sudah tersedia di sekitar masyarakat dapat menjadi titik awal untuk menciptakan variasi produk apabila diolah dengan pendekatan yang berbeda.
Bagi ibu-ibu PKK, keterampilan tersebut dapat menjadi tambahan pengetahuan yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Namun, keberlanjutan produk tetap bergantung pada kemampuan masyarakat dalam mengembangkan pengolahan, menjaga kualitas, serta menentukan bentuk usaha yang sesuai.
KKN 195 UNS berharap kedua inovasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan selama pelaksanaan KKN. Luwih Creamy dan Luwih Crispy diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Desa Hadiluwih untuk terus mengeksplorasi potensi pangan lokal.
Program tersebut juga menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan KKN dapat diarahkan pada pengenalan inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan desa, masyarakat memiliki alternatif untuk menciptakan produk pangan yang lebih beragam sekaligus berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Melalui pengolahan kedelai dan gedebog pisang, mahasiswa KKN 195 UNS mencoba menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa dapat dimulai dari bahan-bahan sederhana yang sudah ada di sekitar masyarakat. Tantangan berikutnya adalah bagaimana inovasi tersebut dapat dilanjutkan dan dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang berkelanjutan setelah program KKN berakhir.





