Pacalan, Krajan.id – Pemanfaatan bahan alam di sekitar desa dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi kreatif. Peluang tersebut coba dikembangkan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui pelatihan pembuatan ecoprint pada mug bagi ibu-ibu PKK Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, Magetan, Sabtu (1/8/2026).
Pelatihan yang digelar di Balai Desa Pacalan itu merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKN Kelompok 171 UNS. Kegiatan diarahkan untuk menambah keterampilan warga dalam mengolah bahan alami menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai estetis sekaligus berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Ecoprint merupakan teknik mencetak pola dan warna alami dari bagian tumbuhan, seperti daun dan bunga, ke permukaan media tertentu melalui proses pemanasan. Dalam pelatihan tersebut, teknik itu diterapkan pada mug sehingga menghasilkan motif yang berbeda pada setiap produk.
Selain menghasilkan kerajinan, penggunaan bahan dari lingkungan sekitar menjadi salah satu aspek yang diperkenalkan kepada peserta. Daun dan bunga yang tersedia di sekitar tempat tinggal dapat dimanfaatkan sebagai material untuk menghasilkan produk kreatif.
Ketua Pelaksana Program Pelatihan KKN Kelompok 171 UNS, Stefani Zahra Aprilia Ananda Putri, mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengenalkan ecoprint sebagai teknik kerajinan, tetapi juga membuka wawasan mengenai peluang usaha.
“Kami ingin memperkenalkan teknik ecoprint tidak hanya sebagai seni dekoratif ramah lingkungan, tetapi juga sebagai peluang bisnis baru bagi masyarakat desa. Bahan seperti daun dan bunga sangat melimpah di Desa Pacalan, sehingga modalnya relatif efisien tetapi produk akhirnya punya nilai jual tinggi,” ujar Stefani Zahra Aprilia Ananda Putri.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai konsep dasar ecoprint, pemilihan tumbuhan yang dapat digunakan, serta tahapan pembuatan. Peserta kemudian mengikuti demonstrasi yang diberikan tim KKN bersama narasumber sebelum mempraktikkan pembuatan mug secara mandiri.
Dalam sesi praktik, mahasiswa memberikan pendampingan mulai dari menyusun material tumbuhan untuk membentuk motif pada mug, menjalankan proses pemanasan, hingga tahap akhir pembuatan. Pendampingan tersebut dilakukan agar peserta dapat memahami setiap tahapan dan memiliki bekal untuk membuat produk secara mandiri.
Hasil praktik menunjukkan setiap mug memiliki motif yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi salah satu karakter ecoprint karena pola dan warna yang dihasilkan bergantung pada bentuk serta pigmen alami dari tumbuhan yang digunakan.
Ketua PKK Desa Pacalan, Tutik Yuliyanti, S.Pd., mengapresiasi pelatihan yang diberikan mahasiswa KKN UNS. Menurut dia, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi anggota PKK sekaligus memperkenalkan alternatif pemanfaatan ecoprint di luar media kain.
“Pelatihan ini memberikan wawasan dan keterampilan baru bagi ibu-ibu PKK. Selama ini kami hanya tahu ecoprint di atas kain, ternyata kreasi di atas mug keramik hasilnya sangat cantik. Ini bisa jadi peluang wirausaha baru untuk menambah pendapatan keluarga,” kata Tutik Yuliyanti, S.Pd.
Salah satu peserta, Nanik Wahyuni, juga menyampaikan ketertarikannya setelah mengikuti praktik secara langsung. Ia menilai bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah ternyata dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kerajinan dengan motif yang menarik.
“Saya senang sekali bisa mempraktikkan langsung cara membuat mug ecoprint ini. Hasilnya unik sekali dan tidak disangka daun di sekitar rumah bisa jadi hiasan mug yang sebagus ini. Pelatihan dari mahasiswa KKN UNS sangat jelas dan seru,” ungkap Nanik Wahyuni.
Setelah praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi hasil karya dan refleksi. Tahap tersebut digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi dan proses pembuatan yang telah diberikan.
Bagi mahasiswa KKN Kelompok 171 UNS, pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teknik pembuatan mug ecoprint. Keterampilan yang diperoleh peserta juga dapat menjadi dasar untuk mengembangkan produk kerajinan berbasis potensi lokal.
Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat Desa Pacalan memiliki alternatif untuk mengembangkan produk kreatif secara mandiri. Pengembangan lebih lanjut, termasuk peningkatan kualitas produk dan pengenalan pasar, dapat menjadi tahap berikutnya agar keterampilan tersebut memiliki dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan.





